" Memenuhi lemari bukumu dengan buku-buku adalah jauh lebih baik daripada memenuhi tasmu dengan uang (Arif Bijak) "
Rabu, 8 September 2010
  
  Home >> 4  
 .:  Info Produk
 .:  Info Insani





Puasa : Ibadah Kaya Makna

Setiap ibadah yang disyariatkan Allah kepada umat manusia pasti mengandung makna. Makna yang dimaksud adalah manfaat yang kembali kepada orang yang melakukannya, apakah itu manfaat langsung maupun tidak langsung, apakah itu manfaat di dunia maupun di akhirat. Dan Allah Yang Mahatahu manfaat apa yang dibutuhkan manusia, bukan dari kacamata manusia itu sendiri. Sebab, kadang kala keinginan manusia tidak selalu sama dengan apa yang Allah timpakan kepadanya. Sehingga, manfaat menurut manusia belum tentu sama dengan manfaat dalam padangan Allah. Oleh karena itu, di dalam syariat pasti ada manfaat, di setiap sesuatu yang bermanfaat (tentu dalam kacamata manusia) belum tentu hal tersebut sesuai syariat.

 

Kadang seseorang tidak mampu menemukan manfaat dari sebuah ibadah yang Allah syariatkan. Dianggapnya ibadah ini menyusahkan diri dan fisiknya, serta membuang-buang waktu saja. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan kedewasaan dan ilmu seseorang, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manfaat dari sebuah ibadah akan tampak di mata kita.

 

Salah satunya adalah ibadah puasa. Allah telah menempatkan ibadah satu ini sebagai ibadah yang istimewa. Sebab, banyak makna dan hikmah mendalam yang terkandung di dalamnya. Orang awam hanya memandang puasa sebagai aktivitas yang memperlemah diri, mengurangi produktivitas, menghambat kemajuan, atau membuat malas. Padahal, puasa adalah ibadah istimewa. Puasa membawa manfaat bagi orang yang melakukannya secara fisik, ruhani, dan perjalanan hidupnya di kemudian hari.

 

Secara fisik, ilmu kedokteran sudah lama menyadari manfaat puasa. Para dokter sering menyarankan puasa bagi mereka yang mempunyai suatu penyakit yang susah disembuhkan. Puasa, terutama puasa Ramadhan merupakan proses overhaul atau turun mesin setelah satu tahun mesin pencernaan dalam tubuh kita diforsir untuk bekerja.

 

Secara psikis, puasa membuat jiwa manusia stabil. Mampu mengendalikan diri dan tidak mudah diterpa gonjangan jiwa. Para psikolog sudah menyadari hal itu, dan mereka sering menyarankan terapi puasa untuk mereka yang susah mengendalikan diri terutama mengendalikan amarah.

 

Dari segi fisik dan materi saja kita sudah menemukan sedemikian banyak manfaat puasa. Belum lagi berkaitan dengan masalah ruhani dan besarnya pahala yang diberikan Allah kepada pelakunya. Inti manfaat ini jauh lebih besar, bahkan berlipat-lipat dibanding manfaat duniawinya. Sekali lagi, kalau kita menyadarinya. Mengapa demikian ?

 

Sebab, puasa merupakan salah satu dasar dari ajaran agama Islam. Puasa, bersama ibadah shalat, zakat, dan haji merupakan dasar dari agama Islam. Kita sering menyebutnya rukun (tiang) Islam, yang sejak TK anak-anak sudah diajari. Informasi bahwa puasa, yaitu puasa Ramadhan, adalah salah satu rukun Islam disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang sudah masyhur, berbunyi,

 

Dirikanlah Islam itu atas lima dasar, mengakui bahwasanya tak ada Tuhan kecuali Allah swt., bahwasanya Muhammad itu adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Artinya, keberadaan puasa disejajarkan dengan syahadat, shalat, zakat, dan haji. Puasa,  sebuah ibadah yang tidak memerlukan biaya bahkan bisa menghemat biaya, bernilai manfaat yang sangat besar. Dalam pandangan Islam, semua ibadah yang tersebut di atas, jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, ikhlas, dan sesuai dengan petunjuk Nabi saw., balasannya surga. Puasa pun demikian. Sebuah hadits disampaikan Rasulullah saw. akan keistimewaan ibadah ini. Suatu hari, seorang sahabat Nabi saw. bernama Abu Umamah bercerita,

 

”Saya datang kepada Rasulullah saw. lalu saya katakan, ’Suruhlah aku mengerjakan sesuatu amalan yang memasukkan aku ke dalam surga!’ Nabi saw. bersabda, ’Tetaplah engkau berpuasa, karena puasa itu tak ada bandingannnya.’ Kemudian pada waktu yang lain aku mendatangi beliau lagi (untuk menanyakan hal yang sama), maka beliau bersabda, ’Tetaplah engkau berpuasa.’” (HR Ahmad, Nasa’i, dan Hakim)

 

Bahkan, Rasulullah saw. merinci lebih jauh dari pahala surga. Beliau saw. menyatakan orang yang berpuasa memasuki surga dari pintu tertentu. Keterangan ini menunjukkan ”sebuah janji yang pasti” dari Allah kepada hamba-Nya. Ibaratnya, ada seorang anak disuruh mengerjakan sesuatu oleh orang tuanya, kemudian dijanjikan akan diberikan hadiah. Apa hadiahnya? Misalnya ia boleh pergi ke Taman Impian Jaya Ancol. Janji tersebut akan makin kuat kalau orang tuanya mengatakan, ”Nanti kamu masuk dari pintu I, di sana sudah ada orang yang menunggu untuk membawa kamu masuk,” dibanding sekadar mengatakan bahwa ia boleh pergi ke Ancol. Demikian pula Rasulullah saw. menyebutkan janji itu. Sabda beliau saw.,

 

Sesungguhnya dalam surga itu ada pintu yang dinamakan ar-Rayyan. Pada hari Kiamat diserukan dari pintu itu, ’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Apabila mereka semuanya telah masuk, maka pintu itu pun ditutup kembali.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Selain surga, Allah juga memberikan bonus khusus berupa pahala bagi mereka yang berpuasa. Artinya, jika sama-sama masuk surga maka ”fasilitas” orang yang berpuasa di dalam surga berbeda dengan pelaku ibadah yang lain. Pahala dari Allah ini jumlahnya besar, tak terhitung. Mengapa begitu? Mari kita renungkan perumpamaan berikut ini. Dalam sebuah perusahaan, di akhir tahun perusahaan akan membagi-bagikan bonus kepada karyawannya. Setiap karyawan akan mendapatkan bonus berdasarkan Penilaian Kinerjanya (performance appraisal). Misalnya yang Penilaian Kinerjanya (PK) selama setahun C (Cukup) maka dapat bonus sekian kali gaji. Mereka yang PK-nya B (Baik) akan mendapatkan bonus sekian kali gaji, tentu lebih besar daripada yang dapat C. Yang PK-nya BS (Baik Sekali) bonusnya lebih besar lagi, sekian kali gaji. Namun sebesar apapun penilaian karya, masih tetap pakai hitungan sekian kali gaji. Beda dengan seorang karyawan yang mendapatkan prestasi istimewa, bonusnya lain. Ia mendapat bonus langsung dari Presiden Direktur. Sang Presdir akan mengakatan, ”Bonus orang ini biar saya sendiri yang memberikan.” Kalau bos sudah mengatakan demikian pasti bonus karyawan ini besar sekali, di atas bonus karyawan lain yang mendapatkan PK terbaik sekalipun. Sebab, yang memberikan langsung si Bos.

 

Demikian pula dengan orang yang berpuasa. Ia mendapatkan hadiah istimewa dari Allah, apapun bentuknya. Tapi Allah sendirilah yang mengganjarnya, tanpa hitungan-hitungan sebagaimana ibadah yang lain. Rasulullah saw. bersabda,

Allah swt. berfirman, ‘Semua amal perbuatan Bani Adam untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan karena itu Akulah yang langsung membalasnya.’ Puasa itu ibarat perisai. Pada saat puasa, janganlah kamu mengucapkan kata-kata kotor, tidak sopan dan tidak enak didengar, dan jangan pula ribut ingar-bingar bertengkar. Jika di antara kalian ada yang memaki atau mengajak berkelahi, hendaknya dikatakan kepadanya, ’Sesungguhnya aku sedang puasa.’” Selanjutnya Nabi bersabda, “Demi Allah yang diri Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak kasturi (parfum). Dan bagi orang yang berpuasa tersedia dua kegembiraan, gembira ketika berbuka puasa dan gembira ketika kelak menemui Allah karena menerima pahala puasanya.” (HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)*

 

(Dikutip dari buku Puasa Ibadah Kaya Makna, karya Prof. Dr. K.H. Miftah Faridl)

 

.: ARTIKEL :.

       
.: © 2003- Gema Insani. Hak cipta dilindungi oleh undang-undang :.
www.gemainsani.co.id