Artikel Resensi Buku

Art Of Deception

Jerry D. Gray selama ini dikenal sebagai mualaf yang sangat gencar melakukan kritik terhadap bekas negaranya, Amerika Serikat. Puluhan buku telah ia tulis seperti Deadly Mist”, “Demokrasi Barbar ala AS`, “Dosa-dosa Media Amerika, dan Rasulullah Is My Doctor.

Kini Jerry D. Gray hadir dengan buku barunya yang berjudul “Art of Deception”. Misteri yang menyelimuti peristiwa 9/11 (nine-eleven) atau 11 september 2001 pun diulas apik olehnya. Peristiwa yang menghancurkan gedung WTC di New York dan Pentagon di Washington Amerika ini realiatasnya amat jauh dengan apa yang dinyatakan oleh Pemerintah Amerika Serikat. Ini bukanlah sebuah tindakan teroris seperti mereka katakan. Menurut penulis, ini adalah sebuah rangkaian kejadian dari sebuah skema yang besar.

Dibuku inilah Jery D Gray mengajak anda “menyisiri” serpihan-serpihan fakta yang belum terpublikasikan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan skema besar apa di balik peristiwa 9/11 tersebut. Penulis juga mengatakan bahwa perisiwa ini ada hubungannya dengan organisasi rahasia dan Dajjal.

21 cita-cita Illmunati yang tergabung dalam Komite 300 pun dipaparkan secara faktual olehnya. Kelompok ini ternyata melibatkan berbagai pemimpin dan raja-raja di Eropa. Seperti Ratu Elizabeth II, Duke of Kent, Pangeran Wales, Duke of Gloucester, Ratu Beatrix Belanda dan masih banyak lagi.

Mereka telah menyiapkan serangkaian rencana seperti membentuk satu gereja dan satu sistem moneter, menghancurkan agama-agama dunia, membuat pornografi sebagai bentuk seni, dan mengambil alih kontrol pendidikan. Buku ini secara lugas menjelaskan bahwa Kita semua sudah berada dalam era sistem dajjal yang bertujuan meruntuhkan akidah umat Islam.

Lalu bagaimanakah Zionis memainkan misinya dalam isu pemanasan global? Siapakah garis keturunan illuminati yang utama? Apa tujuan dari didirikannya senjata pemusnah massal HAARP? Bersiaplah karena turunnya Dajjal sudah dipersiapkan oleh mereka untuk berperang melawan umat muslim. Buku ini akan membantu kita menyiapkan diri dalam menghadapi era akhir zaman. So, sangat sayang apabila buku ini dilewatkan.

Catatan Sejarah Cinta

Fikri Habibullah M. adalah seorang penulis buku yang jenis kajianya non fiksi. Ia sekarang sedang menempuh pendidikan strata 1 (S1) di Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah program pendidikan perbandingan mazhab dan hukum (PMH). Juga tercatat sebagai mahasantri DarusSunah International Institute For Hadith Sciences. Selama ini ia telah menulis beberapa karya buku berjudul “Tuhan Izinkan Aku Pacaran” yang menjadi Best Seller sampai sekarang, Dua “Antalogi Sungguh Aku Mencintaimu Karena Allah dan Jangan Lukai Ibumu”, serta “Catatan Sejarah Cinta” ini.

Dalam buku Catatan Sejarah Cinta ini, Fikri Habibullah ingin mengajak anda untuk tenggelam menuju kedalaman cinta dan menelusuri jejak-jejak cinta hingga menemukan kesejatian muaranya. Tak akan habis kata membicarakan cinta, menggebu, seru, mengharu biru. Selalu begitu ketika cinta menjadi topik pembicaraan. Untuk itulah Catatan Sejarah Cinta ini hadir, mengupas berbagai sudut pandang tentang cinta bersama pemaparan Fikri Habibullah M.

Buku ini juga seolah menjawab berbagai pertanyaan kebanyakan tentang pemahaman cinta. Apa makna cinta? Bagaimana membangun cinta? dan adakah keajaiban cinta?. Semua hal itulah yang akan dibahas oleh Fikri Habubullah bersama pemaparan-pemaparan lainya.

 

Ada beberapa kalimat dari buku “Catatan Sejarah Cinta” ini yang akan menginspirasi  anda untuk bergerak menggapai cinta. “Bergeraklah dengan energi cinta, niscaya tak akan ada kamus  lelah dan menyerah dalam langkahmu. Hiasilah harimu dengan cinta, agar terkobar semangatmu selalu”. Dengan sedikit kalimat-kalimat tersebut, Fikri Habibullah sudah membuat suntikan motivasi untuk kita agar bergerak menggapai cinta. 

Lalu bagaimanakah kisah dan kalimat-kalimat motivasi selanjutnya? Kemudian hal apa saja yang tersirat dari cinta yang begitu universal pemahamanya?

Temukanlah di “Catatan Sejarah Cinta”, buku yang akan membantu kita untuk bergerak tanpa lelah dalam menggapai dan menebar benih-benih cinta kepada setiap orang di sekitar kita.

COBALAH membahagiakan orang lain dengan cinta yang sesungguhnya. Karena Allah menyukai hamba-hamba yang hatinya dipenuhi cinta.

Agar Rumah Tidak Seperti Neraka

Apa Kata Mereka tentang Buku ini:

"Jika kita tidak mampu ’menghadirkan surga di rumah’, berarti rumah kita akan menjadi seperti 'neraka'. Buku ini mengupas sisi-sisi negatif dalam kehidupan rumah tangga dalam frame tafsir tematik, yang sangat penting untuk dibaca agar sisi negatif itu bisa dihindari, sehingga rumah tangga kita diberkahi".

 

KH. DR. MUSLIH ABDUL KARIM, MA.

(Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Qur'an Depok, Jawa Barat, dan Dosen Tafsir di Pasca Sarjana Institut Ilmu Al Qur'an (IIQ) Jakarta) 

"Belajar mengelola rumah tangga yang sakinah memang harus terus menerus dan istiqamah. Tidak mudah memang. Tapi, bukankah pernikahan itu melengkapi separuh agama kita? Maka, membaca buku karya Ustadz Ahmad Kusyairi Suhail ini dapat membantu kita menyirami sisi-sisi yang gersang dari kehidupan rumah tangga kita. Maka, sabar, tawakal dan tentu saja banyak doa kepada-Nya, merupakan kunci kebahagiaan rumah tangga. Insya Allah".

 

ANNEKE PUTRI

 

(Seniman, penulis, pendiri dan pengajar  klinik AKTING Plus, Motivation and Personal Development)

"Tidak ada taujih (arahan dan wejangan) yang lebih baik daripada taujih rabbani melalui ayat-ayat-Nya,  yang sebagian isinya berupa larangan-larangan dan sebagian darinya dimuat dalam buku ini. Buku yang bagus untuk menjadi referensi bacaan keluarga menuju terciptanya keluarga SAMARA (SAkinah, MAwaddah  wa RAhmah)".

 

 

KH. DR. AHZAMI SAMI'UN JAZULI, MA.

(Dosen Tafsir di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah (Yapidh) Bekasi, Jawa Barat 

Sesungguhnya kehidupan itu tak akan pernah sepi dari romantika dan problematika. ”Surga” kehidupan dalam keluarga bukanlah utopia, sehingga ada ucapan "Baiti jannati, rumah adalah surgaku". Namun, ”neraka” kehidupan dalam berkeluarga pun bukan mustahil bisa terjadi, sehingga ada keluhan yang mengatakan, "Baiti ka'n naar, rumahku seperti neraka". Maka, Al-Qur'an tak akan berhenti dalam memberikan solusi.

Kunci dan solusi apa saja yang diperlukan dalam membangun suasana rumah yang surgawi, temukan di  buku “Agar Rumah Tidak Seperti Neraka” ini.  Segera temukan kunci dan solusinya, wujudkanlah ucapan “Baiti Jannati, Rumah adalah surgaku”.

 

Jomblo's Diary

Resensi Buku: Jomblo’s Diary

Anggapan bahwa punya pacar/gebetan itu gaul dan keren sedangkan jomblo itu kuper dan tidak laku-laku, sudah menjadi tren dalam pergaulan remaja masa kini. Khususnya dari sudut pandang laki-laki, seolah bukti kejantanan yang dimiliki dan ketenarannya dalam pergaulan, hanya diukur dari mudahnya mendapatkan pacar (perempuan yang disukainya). Bagi yang masih sendiri/jomblo, seolah bagai mendapat kutukan di hidupnya dan ‘terasingkan’ dari pergaulan tersebut. Seolah ketika predikat jomblo ada dalam diri, timbul rasa malu, cemooh dan hasud untuk memiliki pacar pun disuarakan dari mereka yang sudah punya pacar. Akhirnya, yang masih jomblo berusaha ikut-ikutan mencari pacar karena tidak mau dicap kuper dan tidak laku.

Hal inilah yang ingin diluruskan oleh O. Solihin dalam buku Jomblo’s Diary. Kang Oleh, begitu biasanya Penulis ini disapa, menuliskan kisah perjalanan hidup remaja laki-laki yang duduk di bangku SMA sebagai jomblo. Yang membuat buku ini sangat menarik adalah gaya penceritaan yang disajikan Kang Oleh dibuat dalam bentuk penulisan buku diary. Ya, tokoh Gue atau aku dalam buku ini mengisahkan cerita pilunya berkali-kali gagal mendapatkan pacar, rasanya menjadi jomblo hingga keinsyafannya mengikuti ajaran Islam.

            Menjalani hari sebagai jomblo bagi tokoh Gue di buku ini rasanya bagai siksaan setiap saat. Sebab, dia berteman dengan geng yang notabene-nya punya pacar, bahkan dengan predikat playboy. Setiap kumpul bersama teman-temannya itu, dia sering kena cemooh dan olok-olok karena masih jomblo. Jomblo itu tidak keren menurut mereka. Jomblo itu diragukan kejantanannya, terutama bagi laki-laki. Semua itu membuat tokoh Gue merasa kesal, hatinya semakin panas apalagi saat melihat temannya menggandeng pacar. Ia jadi terpacu untuk segera mendapatkan gebetan meskipun sebenarnya dia ingin bebas, ingin fokus sekolah dan belajar.

            Usahanya untuk mendapatkan pacar, juga didukung desakan teman se-geng-nya itu. Bukannya dapat pacar, tokoh Gue ini malah sering gagal ketika sedang pendekatan alias PDKT. Bukan hanya sekali, tapi bisa dibilang beberapa kali. Banyak faktornya, di mulai dari penilaian beberapa cewek bahwa dia itu ndeso, tulalit, dan kaku, batalnya kencan karena ban motor bocor, kekonyolannya mendekati cewek cantik yang ternyata istri orang, sampai gagal pacaran sama cewek berkerudung. Ujung-ujungnya, dia malah tetap nge-jomblo dan dapat ejekan dari teman-temannya.

            Ketika tokoh Gue ini benar-benar sudah merasa tidak nyaman jadi jomblo yang selalu diperolok dan selalu gagal mencari cewek, di sini Kang Oleh membuat kisahnya berbalik dari sebelumnya. Tokoh Gue ini perlahan mulai menarik diri dari pergaulan bersama geng-nya. Dia dapat pelajaran hidup yang jauh berbeda dari yang didapat sebelumnya. Berteman dekat dengan seorang mahasiswa yang juga tetangganya, membuat tokoh Gue ini mendapat pencerahan baru soal status jomblo yang dimilikinya.

            Mahasiswa ini berprestasi di kampusnya, juga aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Banyak hal yang dia tanya pada mahasiswa itu seputar status jomblo. Jawaban dari mahasiswa itu justru berlawanan dari apa yang ada dipikirannya selama ini. Ternyata, menjomblo itu bukan aib, bukan kriminal, malah bisa jadi berkah. Kenapa harus resah, malu, apalagi mengutuk status itu? Dalam Islam, Allah melihat hamba-Nya bukan dari status jomblo atau sudah punya pacar. Yang Allah lihat itu ketaatan kita sebagai hamba dalam mengikuti ajaran dan menjauhi larangan-Nya. Pacaran dalam Islam itu haram hukumnya karena mendekati zina. Dengan menjomblo, seseorang bisa terhindar dari perzinaan sekaligus mendapat ruang untuk memperbaiki diri. Jadi, menyandang predikat jomblo bisa membawa berkah.

            Panjang lebar penjelasan dari sisi agama didapatnya dari mahasiswa itu. Pemikiran tokoh Gue ini mulai terbuka. Ternyata dunia itu luas, tidak sempit seperti pemikiran teman-teman se-geng-nya tentang status jomblo. Terlebih lagi, dia juga berteman dengan Mas Bagas yang juga mahasiswa di kampus itu, mulai sering ikut pengajian di masjid kampus, dan banyak sharing di beberapa grup sosial media yang di antaranya juga banyak laki-laki yang menjomblo. Saat keyakinan sudah kuat untuk lebih percaya diri pada status jomblo, ia juga menemui beberapa ujian.  Dia kembali dihasud dan diejek teman se-geng-nya dulu sampai dikira suka sesama jenis sama teman-teman di sekolahnya.

Memasuki tahap ‘keinsyafan’ tokoh Gue ini, Kang Oleh mengganti istilahnya dengan tokoh Ane. Tokoh Ane ini berusaha untuk istiqomah walau kadang suka galau dan kurang semangat lagi. Namun, ia yakin untuk terus berada di jalan Allah.  Bertemu dengan teman mahasiswa, Mas Bagas, dan kawan-kawan barunya di grup sosial media merupakan anugerah dari Allah. Mereka pengantar hidayah untuk tokoh Ane ini. Dengan bangga, kini ia menjalani masa kesendirian dengan enjoy dihiasi dengan prestasi agama maupun duniawi. Meskipun begitu, dia bukannya tidak mau membuka hati, tapi menahan diri saat ini lebih tepat hingga tiba saatnya pernikahan, bukan pacaran. Biar jomblo, asal selamat!

Di buku ini, Kang Oleh memberikan pelajaran pada pembaca bahwa pergaulan membawa pengaruh yang besar bagi prinsip dan tingkah kita. Pintar-pintarlah dalam berteman, agar kita terbawa pada arus pergaulan yang mengantarkan pada ketaatan, bukan kesesatan. Dengan piawai, Kang Oleh meracik kata dalam penuturannya dengan bahasa yang ringan dan gaul khas gaya remaja. Namun, maknanya sangat dalam dan hikmah dari kisahnya mudah tersampaikan pada pembaca. Intinya, buku Jomblo’s Diary ini sangat recomended untuk para remaja. Terutama, sangat cocok bagi para jomblo agar lebih menikmati kesendiriannya di jalan Allah, agar jadi jomblo berkualitas sampai halal!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lgbt
“Sesungguhnya yang amat ditakuti, paling aku takuti atas umatku
 ialah perbuatan kaum Luth.”
(HR at-Tirmidzi, al-Hakim, & Ibnu Majah)
 
Akhir-akhir ini, dunia khususnya Indonesia dikejutkan dengan kehadiran kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) yang merebak di tengah-tengah masyarakat. Kasus ini begitu mencuat ke permukaan publik. Berbagai pro dan kontra dari beberapa lapisan masyarakat, tokoh agama, dan lain sebagainya ramai memperbincangkan hal ini. Kehadiran mereka begitu meresahkan, apalagi ketika terungkap kasus dilegalkannya pernikahan sesama jenis di luar negeri bahkan di wilayah Indonesia sendiri. Selain merupakan kasus pelanggaran norma-norma yang ada, LGBT juga dilarang dalam ajaran Islam. Lalu, sebenarnya apa itu LGBT? Mengapa kemunculannya begitu kontroversial?
Nah, kehadiran buku Lo Gue Butuh Tau LGBT akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita seputar dunia kaum Nabi Luth ini. Ya, panggil dia Kak Sinyo, seorang penggiat Yayasan Peduli Sahabat yang telah menangani dan mendampingi banyak kasus LGBT di Indonesia. Kak Sinyo tergerak menuliskan pengetahuannya tentang dunia LGBT, agar pembaca dapat mengenali ciri-cirinya dan bagaimana kita harus bersikap ketika berada dekat dengan mereka. Di sini, Kak Sinyo memberikan edukasi tentang dunia LGBT dengan pendekatan agama Islam dan pemahaman psikologis seseorang. 
Mengawali pembahasannya, Kak Sinyo mengenalkan terlebih dulu apa itu orientasi seksual (ketertarikan secara emosional dan seksual pada jenis kelamin tertentu). Yang di antaranya, ada Same Sex Attraction (SSA) (tertarik pada sesama jenis), Biseksual (tertarik secara seksual pada lawan jenis sekaligus sesama jenis), dan Heteroseksual (ketertarikan seksual kepada lawan jenis). Dalam Islam, tentu hanya heteroseksual-lah yang dihalalkan/diperbolehkan karena sesuai dengan fitrah manusia. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi orientasi seksual, misalnya kondisi psikologis hingga tempat ia tinggal. Jika ada perubahan orientasi seksual di kala masih balita, itu bisa disebabkan beberapa kemungkinan. Bisa karena salah panutan dari orang tua/keluarga dan sikap orang tua yang over protective pada anak.
Kaitannya dengan LGBT, perlu diketahui ada perbedaannya dengan SSA. Di buku Lo Gue Butuh Tau LGBT ini, Kak Sinyo menjelaskan bahwa orang yang LGBT ada kecenderungan hasrat untuk hidup bersama serta menuntut pengakuan identitas dengan seksual dan pernikahan sejenis. Mereka yakin, perasaan yang tumbuh dalam dirinya adalah kefitrahan dan anugerah dari Allah. Sedangkan orang yang SSA, bisa dikatakan mereka masih di bawah tahap orang yang LGBT. Mengapa? Karena orang SSA merasakan ketertarikan kepada sesama jenis, namun di hatinya masih tersisa gejolak perlawanan bahwa itu perbuatan yang salah, tak sesuai dengan fitrah manusia. Baik dalam pandangan agama maupun sosial.
Menyelisik dari pandangan Islam, Kak Sinyo membahasnya sesuai dengan ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang menerangkan tentang kaum Nabi Luth ini. Dalam hal ini, penyuka sesama jenis amat ditakuti dalam artian dapat merusak kefitrahan manusia untuk meneruskan keturunan, melanjutkan tonggak perjuangan Islam. Sebab, hanya orang yang heteroseksual-lah yang dapat menghasilkan keturunan. Berbagai hukuman bagi pelaku LGBT ini, tercantum jelas dalam hadits Nabi salah satunya berupa dibunuh. Adanya perilaku LGBT, memang bentuk ujian dari Allah. Namun, Allah pun telah menganugerahi kita akal dan pikiran. Dengannya, kita dapat meraba sesuatu yang baik dan buruk untuk hidup sesuai kacamata agama dan sosial. 
Dalam buku ini, Kak Sinyo juga memberikan solusi agar kaum SSA dan LGBT dapat hidup normal sesuai kefitrahannya. Kak Sinyo menyarankan pada pembaca jika dirinya merasa ada kecenderungan SSA/LGBT atau ada orang terdekat yang mengalami ini, untuk segera beri penyadaran diri. Menyadari bahwa ini hal yang salah, lalu bimbinglah dengan cara yang baik, konsultasikan kepada psikolog, ustad yang menguasai hal ini, ke yayasan yang biasa menangani dan mendampingi kasus SSA dan LGBT atau berusaha menghindari pergaulan yang menjerumus ke arah penyimpangan itu. Jangan mencemooh atau menjauhi mereka sebagai bentuk menghakimi dari lingkungan sosial. Dari ujian yang mereka terima, Allah pun memberi jalan untuk keluar dari ujian itu dengan berbagai cara. 
Jika kita beranggapan isi buku ini hanya kumpulan teori-teori semata, itu adalah kesalahan. Sebab, buku Lo Gue Butuh Tau LGBT ini juga memaparkan kisah yang real dialami beberapa orang SSA dan LGBT sebagai pembuka di tiap bab-nya. Selain itu, di akhir buku ini ada pembahasan soal deteksi dini untuk mengenali diri adakah indikasi SSA atau LGBT pada diri kita. Dilengkapi pula bab khusus yang menuliskan cerita seseorang tentang kasus SSA dan LGBT. Ditambah lagi dengan keunikan desain cover dan illustrasi di dalamnya, memberikan kesan bahwa buku ini berisi pembahasan ringan untuk remaja. Namun, tetap kaya ilmu dan pengetahuan. Pokoknya, buku karya Sinyo ini wajib dibaca sampai tuntas karena Loe Gue Butuh Tau LGBT!