Artikel Resensi Buku

Dari Hati Ke Hati

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (al-Kaafiruun: 6)

Di zaman sekarang ini, berbagai budaya dan adat dari luar berbondong-bondong masuk ke Tanah Air dengan begitu bebasnya. Kita sebagai masyarakat Indonesia harus cerdas memilih dan memilah budaya apapun yang diterima dari luar Indonesia. Tanah Air kita yang memegang adat ketimuran, rasanya tidak cocok menyatu dengan kebiasaan Barat yang mewabah menjadi perilaku kekinian. Memang tidak semuanya merusak, tetapi kita wajib waspada dan bijak menyikapinya.

Sama halnya dengan budaya asing yang masuk, maraknya penghilangan identitas ajaran agama pun terjadi. Bahkan, benih-benihnya telah ditanam sejak masa kolonial Belanda yang masuk ke Nusantara. Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, mengalami hal ini sejak zaman penjajahan puluhan tahun silam. Adanya deislamisasi, indoktrinasi, termasuk westernisasi bukan lagi isu dan gerakan kekinian semata.

Sejak zaman itu, pergulatan Islam dengan kelompok anti Islam telah berlangsung. Islam merupakan satu-satunya peradaban yang pernah menguasai Barat dalam kurun waktu 700 tahun. Oleh karena itu, Islam dianggap ancaman besar yang perlu diwaspadai bahkan dihancurkan jika Barat ingin tetap menguasai dunia. Melihat kenyataan tersebut, negeri Barat tak segan-segan menggelontorkan dana jutaan dolar untuk program-program demikian di negeri-negeri Islam, khususunya di Indonesia.

Mengamati kasus yang ada, Prof. Dr. Hamka yang kala itu juga sebagai Ulama tergerak untuk menuliskan hal ini. Beberapa pemikiran Hamka menyangkut persoalan ini merupakan kumpulan tulisannya yang pernah termuat dalam Majalah Panji Masyarakat. Melalui buku Dari Hati ke Hati ini, Buya Hamka mengajak Para Muslim serta masyarakat Indonesia semua—dari berbagai suku maupun agama lainnya untuk turut melaksanakan toleransi dan kerukunan umat beragama dengan sebenar-benarnya. Jangan sampai hanya karena pengadaan deislamisasi, indoktrinasi, termasuk westernisasi yang dibawa negeri Barat akan merusak moral bangsa dan persatuan antar umat beragama di Indonesia.

Seperti makna dari surat al-Kaafiruun ayat 6 yang dituliskan Hamka dalam buku ini, bahwa untukmu agamamu, dan untukku agamaku. Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘aalamin. Dengan itu, tak ada paksaan bagi umat manusia yang beragama nonIslam untuk memeluk agama Allah Azza wa Jalla ini. Agama Islam turun ke bumi sebagai rahmat bagi alam semesta, termasuk bagi makhluk ciptaan-Nya. Biarkan hidayah dari Allah yang menjemput untuk mengakui ke-Esa-an-Nya, bukan dengan jalan “paksaan”. Sebab, keyakinan bersumber dari hati setiap insan, bukan keinginan yang hanya terlukis dari sikap semata.

Namun, yang terjadi ketika munculnya deislamisasi, indoktrinasi, serta westernisasi ini justru dapat merusak ukhuwah Islamiyah maupun kerukunan umat beragama yang ada di Indonesia. Adanya hal ini bertujuan untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam itu sendiri. Sebab, umat Islam hanya akan menjadi kuat dan tidak terkalahkan ketika ajaran Islam menyatu dalam hatinya. Seakan-akan yang terjadi dalam tahun-tahun tersebut, bahkan menjangkit hingga kini adalah umat Islam yang dituntut untuk mengamalkan toleransi. Namun, dalam arti tidak menjaga agamanya dan tidak boleh menjalankan agamanya dengan baik. Sementara itu, pemeluk agama lain bebas menjalankan agamanya atas nama Hak Asasi Manusia.

Dalam buku ini, Buya Hamka pun menyoroti segala permasalahan yang berhubungan dengan politik dan sosial budaya. Pasang surut perpolitikan Indonesia meskipun memberi angin segar bagi umat Islam, bukan berarti tanpa tantangan. Umat Islam yang menjadi penggerak kemerdekaan belum bisa dikatakan mendapat porsi yang cukup dalam politik. Berkaitan dengan itu, Prof. Dr. Hamka juga mengangkat masalah budaya akibat deislamisasi yang menjangkiti Islam di Tanah Air. Salah satunya terjadi upaya kelompok kebatinan Jawa untuk melepaskan Islam yang telah mengakar dalam budaya Jawa agar kembali ke masa sinkretisme.

Berbalut cover warna merah hati, buku ini menyampaikan banyak pengetahuan dan pesan kepada umat Islam. Dengan gaya penyampaiannya yang khas, Buya Hamka berusaha memompa semangat sesama umat Islam untuk mempertahankan ghirah keislamannya. Teruslah melangkah di jalan Allah dan bentengi diri dengan keimanan. Selain itu, agar mengubah pola pikir kita sebagai umat Islam maupun mereka pemeluk agama lain mengenai arti toleransi dan kerukunan beragama yang sebenarnya.

Jangan mudah terprovokasi dengan segala hasud yang dibawa negeri Barat ke Tanah Air. Gunakan hati sebagai jembatan untuk menghormati dan menghargai setiap ajaran antar agama. Berbekal membaca buku Dari Hati ke Hati ini, bersama kita merengkuh perdamaian antar umat beragama. Tentunya, tanpa menghilangkan identitas ajaran agama lain terhadap pemeluknya, apalagi sampai harus ikut-ikutan mengamalkan ajaran agama lain. Jika sampai dilakukan, maka itu adalah pengaplikasian sikap toleransi yang keliru.

Menjadi Bijak Dan Bijaksana

“Seseorang yang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran yang baik. Seseorang yang memiliki pikiran yang baik akan mendapat kenikmatan hidup.”

(Bediuzzaman Said Nursi)

Dalam hidup ini, Allah Azza wa Jalla menghendaki segala sesuatu dengan perbedaannya masing-masing. Ada laki-laki dan perempuan, siang dan malam, muda dan tua, kaya dan miskin, sakit dan sehat, tawa dan tangis, bahagia dan sedih, berhasil dan gagal, dan lain sebagainya. Semua yang diciptakan-Nya dan apapun yang diberikan untuk kita merupakan wujud cinta kasih-Nya. Apa yang menurut manusia baik, belum tentu baik pula bagi Allah dan begitu sebaliknya.

Tidak selamanya hidup ini seperti apa yang kita harapkan. Terkadang berbagai masalah dan kesulitan menghimpit rasa tak berkesudahan. Melihat hikmah di balik segelap-gelapnya keadaan adalah jendela kesejukan jiwa yang tersembunyi di balik kesulitan. Hikmah adalah mutiara yang tercecer, serupa butiran pasir di tepian pantai. Namun, sesuatu yang berharga itu acapkali kita abaikan. Andai saja kita mau sejenak membuka telinga, mata, dan hati untuk benar-benar mendengar dan melihat ke sekeliling kita. Sungguh akan kita temukan pendaran pelangi hikmah kehidupan yang begitu indah dan memesona untuk diresapi.

Hal inilah yang menggerakkan Ibnu Basyar untuk menulis 149 kisah zaman Nabi dan masa kini, yang bersumber dari media sosial maupun dari cerita mulut ke mulut. Tentunya sarat akan hikmah dan pesan moral yang mampu menggugah hati, bahkan melecutkan kembali keimanan yang sempat rapuh. Buku Menjadi Bijak dan Bijaksana ini diterbitkan khusus dalam edisi luks. Edisi khusus ini merupakan gabungan antara dua buku karya Ibnu Basyar yang telah diterbitkan sebelumnya, yaitu buku Mengisi Hati di Lorong Kehidupan edisi satu dan dua. Khusus edisi luks ini, selain tergabungnya dua buku menjadi satu, juga ditambahkan untaian hikmah pada akhir cerita. Berbeda halnya dengan dua edisi terdahulu yang tidak mencantumkan kolom hikmah di akhir kisahnya.

Dalam buku ini, tetap mengawali kisahnya dengan Hadits Riwayat sebagai pembuka yang terkait dengan ceritanya. Gaya bahasa dalam penuturan di buku ini, juga tetap dipertahankan semenarik mungkin. Penuturan kisah-kisahnya tidak membosankan pembaca, Sebab, dibuat seringkas mungkin, namun tetap jelas dan langsung pada inti cerita. Selain itu, pada edisi luks ini juga tetap menyematkan ulasan serta kajian ayat Al-Qur’an di beberapa bab.

Berkisah tentang seorang tukang kayu yang gelisah dan bermuram durja ketika menjelang tidur di suatu malam. Tubuhnya berkeringat dan gemetar. Ini berawal dari sebuah kabar yang baru ia ketahui mengenai hukuman mati dari raja yang ditimpakan padanya. Entah apa yang jadi penyebab. Malam itu, si tukang kayu amat resah mengetahui esok adalah hari kematiannya. Istrinya menyuruh untuk tetap tenang dan percaya pada kuasa Allah. Belum tentu esok ia akan mati di tangan raja itu. Banyak pintu kemudahan yang Allah siapkan. Awalnya, si tukang kayu tetap ketakutan, tetapi perkataan istrinya itu perlahan menimbulkan ketenangan di hati. Akhirnya ia tertidur pulas.

Pagi pun menjelang, tiba-tiba pengawal kerajaan datang ke rumah tukang kayu. Bersama istrinya, ia menemui pengawal itu di balik pintu. Keringat bercucuran dan tubuhnya gemetaran. Tukang kayu itu berpikir prasangka semalam benar adanya. Hari ini hukuman itu akan ia terima. Namun, pengawal kerajaan tersebut menyuruhnya segera membuat peti mati untuk sang raja yang telah wafat. Lantas, sirnalah segala keresahan di hatinya. Sang raja lebih dulu kembali ke pangkuan Illahi. Dengan begitu, ia batal dihukum mati. Senyum tersungging di bibirnya. Mata si tukang kayu berbinar penuh syukur saat menatap istrinya yang telah meyakinkan semalam.

Kisah tersebut merupakan salah satu cerita yang termuat dalam buku Menjadi Bijak dan Bijaksana. Melalui kisah ini, Ibnu Basyar ingin membagi hikmah bahwa keresahan dan kegelisahan hanya akan menghakimi hari-hari kita yang sebenarnya indah. Oleh sebab rasa takut, kita melupakan Allah yang sesungguhnya memiliki kehendak terbaik. Allah menyediakan berbagai pintu sebagai jalan keluar ketika satu pintu tertutup membuntukan langkah kita. Berpikir positif akan membuahkan kebijaksanaan dalam hati meski permasalahan hidup menghampiri. Serahkan semuanya hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

Buku Menjadi Bijak dan Bijaksana ini, hadir untuk menjawab kerinduan dari hati yang membutuhkan siraman hikmah. Kisah-kisah kebaikan yang ada di buku ini dapat memberikan pencerahan dan keteladanan bagi pembacanya. Yuk, belajar bersikap bijak melalui buku Menjadi Bijak dan Bijaksana!

Pandangan Hidup Muslim

Sebagai Anugerah teristimewa dari Sang Pencipta, manusia diberikan akal yang dapat digunakan sebagai alat berpikir. Dengan itu, manusia dapat mengetahui dan menyeleksi mana hal yang baik dan mana hal yang buruk bagi dirinya. Menyusuri cara berpikir, setiap insan memiliki cara pandang yang berbeda-beda dalam hidup ini.

Pandangan hidup itu sendiri merupakan konsep yang dimiliki seseorang atau golongan dalam masyarakat dalam menanggapi atau menerangkan segala masalah di dunia ini. Dengan demikian bagi seorang Muslim, pandangan hidupnya mengacu pada Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, lebih utama didahului dengan semangat tauhid. Meng-Esa-kan Allah dan menghambakan diri hanya kepada Illahi Robbi.

Dengan tauhidullah diiringi berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, itulah kunci segala persoalan hidup yang dihadapi oleh seorang Muslim. Hal ini tercermin dalam pendiriannya ketika hidup di tengah-tengah masyarakat, tercermin dalam kebudayaan yang tercipta, dan dalam usahanya mencari pengetahuan seluas-luasnya.

Bersamaan dengan itu, Prof. Dr. Hamka ingin berbagi sekaligus berpesan pada umat Muslim bahwa hendaknya kita memiliki pandangan hidup yang benar. Bertujuan agat dapat menempatkan segala sesuatu di dunia ini dengan benar pula. Tentunya menurut pandangan Allah, baik meliputi persoalan sesama manusia maupun hubungannya dengan Sang Pencipta. Sebab telah terbukti bahwa seluas-luasnya pikiran manusia, ia akan sampai pada titik keterbatasannya. Sehebat-hebatnya manusia, ia mati juga meninggalkan segala yang dibanggakannya.

Dalam buku Pandangan Hidup Muslim ini, Buya Hamka memaparkan bahasannya dengan sajian diksi yang begitu menarik. Disisipkannya beberapa pembahasan yang bukan saja hanya dari sudut pandang Islam, melainkan juga dari sisi keilmuan, keindahan, kebudayaan, dan lain sebagainya. Bagi Buya Hamka, tiada maksud lain kecuali untuk membangun logika dan rasa setiap insan agar menyertakan Islam sebagai pandangannya. Baik dalam berilmu maupun menggugah hati menilik hamparan kuasa-Nya di pelosok alam dunia ini. Begitu pula sebaliknya. Ilmu akan sempurna kalau beragama. Agama pun baru cukup kalau berilmu. Keduanya saling membuka rahasia alam, namun dari seginya masing-masing.

Mengakui adanya pencipta di balik keajaiban yang ada di bumi, akan membuat kita semakin teguh mempertahankan agama, meyakini Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Dialah Allah Azza wa Jalla–Tuhan Yang Maha Esa yang tiada duanya menggerakkan segala hal. Dari hal terkecil hingga hal terbesar, yang tak bisa kita genggam kalau bukan karena-Nya. Tanpa mengakui ke-Esa-an Allah terlebih dulu, manusia akan terus meraba-raba dalam hidup yang gelap.

Buku yang ber-cover kuning kecokelatan ini, juga akan menuntun kita pada pandangan hidup yang sesuai syariat. Kembalikan segala pertanyaan dalam hidup ini pada Allah melalui Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah. Jangan hanya sibuk mengurusi kebendaan dan keilmuan yang ada, tanpa mencari tahu siapa penciptanya. Pencipta sesungguhnya yang teramat kuasa merajai seluruh yang ada di bumi. Pandanglah kehidupan yang indah ini dengan menyertakan Islam sebagai tiang penyokong mata dan hati kita. Agar terbuka jalan yang lurus. Agar terlepas pula semua permasalahan hidup.

Kiranya buku Pandangan Hidup Muslim ini diharapkan dapat menjadi bahan perenungan. Agar membawa pencerahan bagi hati dan jiwa setiap Muslim tentang pandangan hidupnya atau konsep hidupnya. Sudahkah setiap Muslim benar-benar telah menjadikan Islam sebagai pandangan hidup; sebagai pedoman hidup?

Cancer Is Curable

Di seluruh dunia, penyakit kanker menjadi momok yang menakutkan bagi manusia. Pemikiran bahwa kanker tidak dapat disembuhkan dan pasti berujung pada kematian, membuat orang rentan menghadapi keputusasaan. Apalagi, jika mendengar vonis dokter yang menyatakan umur kita tak akan lama lagi akibat sel kanker yang terus menggerogoti tubuh.

Berdasar inilah, Jerry D. Gray dalam bukunya berjudul Cancer is Curable memberikan solusi bagi para pengidap kanker jenis apapun atau bagi kita yang ingin mencegah penyakit tersebut dengan cara pengobatan kembali pada alam. Ya, alam yang dianugerahkan Allah pada umat manusia menawarkan banyak manfaat yang dapat menyembuhkan, bukan memberi efek samping negatif pada tubuh. Sesuai yang diyakini dalam pengobatan Islam, merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits.

Seperti yang tertulis dalam buku ini, menurut sabda Rasulullah saw., beliau meyakini dan mengajarkan bahwa Allah telah mengirimkan obat untuk setiap penyakit dan menjadi tugas umat Muslim untuk merawat tubuh serta jiwanya. Ini jelas berarti ada kewajiban bagi kita untuk meningkatkan perawatan kesehatan dan memastikan bahwa ada jalan untuk memperoleh kesembuhannya. Dapat digarisbawahi juga, perawatan dan pengobatan itu dengan cara pendekatan pada holistik (alami) bagi kesehatan kita. Ya, seperti juga disunnahkan Rasulullah saw. yang menggunakan pengobatan alami untuk menyembuhkan suatu penyakit.

Di buku ini, Jerry memfokuskan pembahasannya mengenai solusi penyembuhan khusus pada penyakit kanker. Dengan gaya bahasanya yang memotivasi, pembaca akan terdorong untuk meyakini diri atau orang di sekitarnya bahwa kanker bisa disembuhkan dengan cara kembali pada alam. Selain itu, Jerry juga memaparkan cara penyembuhan kanker dengan jalan membalikkan penyebab kanker itu sendiri. Ya, kebanyakan kanker disebabkan karena pola hidup dan pola pemikiran yang tidak sehat.

Banyak mengonsumsi fast food, makanan olahan, buruknya asupan gizi yang penting, dan pikiran yang tidak sehat dapat menjadi penyebabnya. Nah, di buku ini Jerry menginformasikan pada pembaca untuk membalikkan ini semua. Membalikkan di sini dalam artian memperbaiki pola hidup dan pola pemikiran kita. Tentunya, ini harus disertai dengan keyakinan pada Allah dan tekad kuat untuk menjalani hidup lebih sehat.

Untuk itu, dalam buku ini Jerry menginformasikan 7 langkah menyembuhkan kanker secara holistik/alami pada pembaca. Ketujuh langkah itu diantaranya, membuat sel kanker lapar, beri tubuh oksigen, diet tinggi gizi adalah keharusan, gunakan suplemen gizi organik alami, seimbangkan organ dalam melalui probiotik, enzim, makanan hijau, dan serat, membuang racun adalah keharusan, dan menyeimbangkan hormon.

Selain 7 langkah itu, Jerry juga menuliskan manfaat jahe terhadap penyembuhan kanker. Setidaknya ada 2 jenis sel kanker, yaitu sel kanker ovarium dan kanker prostat. Namun, selain dapat menyembuhkan penyakit kanker, jahe yang dijadikan teh juga terbukti secara alami melarutkan batu ginjal dan meningkatkan kesehatan hati. Pembahasan lebih lengkap dan bermanfaat soal 7 langkah penyembuhan secara alami dan khasiat jahe bagi penyakit kanker bisa kita ketahui hanya di buku Cancer is Curable.

Solusi penyembuhan dengan obat alami/obat ala Nabi, juga pernah dibahas Jerry D. Gray dalam buku Rasulullah is My Doctor.  Buku yang juga diterbitkan Gema Insani itu, menjadi buku best seller di Indonesia dan Internasional. Terbitnya buku Cancer is Curable ini, menjadi edisi khusus yang membahas soal pengobatan kanker. Bertujuan agar mengubah mindset kita bahwa kanker itu bisa disembuhkan, dengan kembali ke alam dan memperbaiki pola hidup serta pikiran. Tentunya, buku ini kaya manfaat dan membahas materi berbeda yang belum diungkap Penulis dalam buku Rasulullah is My Doctor.  Yuk, baca buku Cancer is Curable! Insya Allah, pembahasan buku ini menjadi  jalan ikhtiar kita untuk menyembuhkan penyakit kanker.

Kisah 7 Bayi Bisa Bicara

Allah Azza wa Jalla merupakan Pencipta seluruh makhluk yang ada di dunia ini. Apapun dapat terjadi jika Dia telah berkehendak. Sebab, Dia-lah Tuhan kita Yang Maha Kuasa atas segalanya. Kun fayakun (jadilah maka jadilah ia), apapun bisa diubah-Nya hanya dalam sekejap yang tak bisa diduga-duga manusia. Semua peristiwa yang terjadi dalam hidup kita adalah skenario terbaik yang Allah berikan pada masing-masing hamba-Nya. Kuasanya begitu nyata tanpa perlu kita ragukan, tanpa perlu kita pertanyakan mengapa bisa terjadi demikian.

Bahkan, kuasa yang Allah tunjukkan bisa diberikanya pada seorang bayi yang suci tanpa dosa. Inilah yang dikisahkan Uwais Ramadhan, Lc. dalam buku Kisah 7 Bayi Bisa Bicara. Melalui buku ini, Uwais ingin berbagi pada buah hati kita tentang kuasa Allah yang dikehendaki-Nya pada 7 bayi dapat berbicara layaknya orang dewasa. Bayi-bayi ini menjadi perantara terbukanya sebuah kebenaran pada peristiwa di zaman Rasulullah saw.

Ketujuh bayi itu adalah bayi Isa putra Maryam, bayi pembela Juraij, bayi yang akan dilempar ke parit, bayinya Syafiyah dan Mahmud, bayinya Masyithah si tukang sisir Fir’aun, bayi yang menjadi saksi kejujuran Yusuf a.s., dan bayi dari Yamamah yang mengakui kebenaran diangkatnya Nabi Muhammad menjadi Rasulullah saw. Bayi-bayi yang dapat berbicara fasih seperti orang dewasa ini merupakan adaptasi dari beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits. Ayat Al-Qur’an dan hadits yang menjadi sumber cerita di buku ini juga dicantumkan sebagai pembuka yang mengawali kisahnya.

Dengan piawai, Uwais mengisahkan 7 bayi yang bisa bicara ini menggunakan gaya penuturan yang cukup singkat, jelas, dan ringan untuk dibaca anak-anak. Illustrasi berwarna dan menggemaskan yang sesuai dengan kisahnya membuat buku ini semakin menarik untuk dibaca dan dimiliki si kecil. Apalagi, kisah ini didongengkan dengan baik oleh Ayah dan Bunda  sehingga anak-anak akan tambah antusias untuk menyimak tiap ceritanya.

Selain itu, buku Kisah 7 Bayi Bisa Bicara ini juga menyematkan pojok hikmah yang terdapat di akhir tiap ceritanya. Pojok hikmah ini berisi hikmah cerita yang dapat membantu anak untuk memetik pelajaran dari kisah-kisah dalam buku ini. Buku ini dikemas begitu tipis karena memang ditujukan bagi anak agar tidak bosan dengan rangkaian cerita yang panjang.

Salah satu kisah bayi yang bisa bicara adalah cerita dari seorang bayi yang mengungkap sebuah kebenaran. Dialah bayi yang menyelamatkan Juraij dari fitnah yang ditimpakannya dari seorang perempuan penggoda. Juraij adalah seorang ahli ibadah. Saat sedang shalat di biaranya, ibunya datang dan memanggil, namun ia tetap melaksanakan ibadahnya. Dalam hatinya ia bingung harus memilih shalat atau ibunya. Karena Juraij tak menjawab dan tetap melaksanakan shalat, Ibunya kembali pulang. Begitu seterusnya hingga beberapa hari kemudian. Ibunya pun jadi kesal dan berkata, “Jangan ambil nyawanya sebelum ia melihat wajah perempuan yang tidak baik!”

Suatu waktu orang Bani Israil membicarakan ketekunan ibadah Juraij. Seorang perempuan cantik berusaha memfitnahnya dengan mendekati dan merayu Juraij, namun Juraij tetap teguh dan menjaga imannya. Lantas, perempuan itu datang pada seorang penggembala dan tergodalah imannya oleh perempuan itu. Lalu, perempuan itu hamil dan melahirkan seorang bayi yang diakuinya sebagai anak Juraij.

Mengetahui itu, masyarakat Bani Israil menghukum Juraij. Juraij berniat bertemu langsung dengan perempuan itu dan bayinya. Sebelum menemui mereka, Juraij melaksanakan shalat terlebih dulu. Setelah bertemu dengan bayi itu, Juraij segera mengajaknya bicara untuk menanyakan, “Siapakah ayah kandungmu?” Dengan kuasa Allah, bayi itu menjawab, “Ayahku adalah si fulan, sang penggembala. Allah membuktikan bahwa Juraij tidak bersalah dengan kuasa-Nya berkehendak bayi itu dapat berbicara fasih.

Kisah bayi pembela Juraij ini adalah satu dari tujuh keajaiban bayi bisa bicara yang ada dalam buku ini. Uwais Ramadhan, Lc. berusaha mengajarkan pada buah hati kita untuk mengakui dan mengimani kuasa Allah Azza wa Jalla. Tiada yang tidak mungkin bagi Allah. Semua pasti terjadi jika Dia menghendaki. Kebenaran pun akan terungkap meskipun manusia pandai-pandai menanam fitnah dan kebohongan. Buah hati kita sangat layak memiliki dan membaca buku Kisah 7 Bayi Bisa Bicara ini.