Artikel Resensi Buku

Tuhan, Izinkan Aku Pacaran

Tuhan, Izinkan Aku Pacaran adalah judul buku yang ditulis oleh Fikri Habibullah M ini. Terlintas di benak kita ketika membaca judul buku ini, bahwa begitu frontal sekali seolah si Penulis meminta pada Allah sekaligus mengajak pembacanya untuk melegalkan pacaran. Terasa menggelitik hati saat diri memohon pada Allah untuk menjadikan pacaran sebagai bagian dari ajaran-Nya. Melihat judul yang profokatif ini sebelum membaca isinya, hanyalah sikap men-jugde Penulis karena membahas topik yang sesungguhnya diharamkan Allah Azza wa Jalla.

Sebelum kita terlampau jauh menghakimi Fikri Habibullah M., sudah sepatutnya kita membaca buku ini sampai kelar, sebebas-bebasnya sampai tuntas. Ya, seperti para remaja yang baru menginjak usia 17 tahun, seolah lepas pula masa pembelengguan aturan orang tua. Bebas mengudara di area pergaulan tanpa batas, mengatasnamakan perasaan bernama cinta. Seperti itulah Fikri mengungkapkan remaja yang katanya kekinian ini. Sudah selayaknya bagi kita yang sedang jatuh cinta—yang sedang merasa bebas, bebas pulalah melahap kata-kata Penulis dalam buku ini hingga habis. Sebab, buku ini sarat dengan pelajaran, hikmah, pengetahuan, dan penyadaran.

Penyadaran? Ya, jauh dari yang kita pikirkan sebelumnya ketika membaca judul buku ini, justru Fikri Habibullah M. berusaha membuka mata dan hati kita—para remaja yang dilanda virus jatuh cinta. Bentuk penyadaran berupa kupasan makna dari arti cinta, kepada siapa ditujukan, kapan diekspresikan, dan seperti apa kita harus bersikap yang Penulis tuangkan panjang lebar dalam buku ini. Menyangkut panjang dan lebarnya penjelasan Fikri dalam buku Tuhan, Izinkan Aku Pacaran ini, kita tidak perlu khawatir akan bosan hingga mengantuk saat membacanya.

Penulis muda ini begitu apik mengolah kata demi kata puitis, santai, dan komunikatif yang tertulis dalam buku ini. Pembaca dibuatnya terlena, namun untuk kemudian tersadarkan. Tersadarkan untuk segera melegalkan cinta dalam ikatan pernikahan. Hanya itu, terjadinya ijab dan kabul-lah jalan indah yang diridhoi Allah Azza wa Jalla. Pengikat abadi dalam kehalalan sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang saling mencintai, yang ditakdirkan bersama.

Namun, pintar-pintarlah menjaga hawa nafsu bagi kita yang belum siap melangkah ke jenjang pernikahan tersebut. Allah Azza wa Jalla menganugerahi hati manusia, antara laki-laki dan perempuan dengan rasa ketertarikan satu sama lain, untuk menautkan hati menjadi satu. Tak ada perintah dari-Nya untuk memusnahkan hawa nafsu sebelum hidup bersama, untuk lebih dekat dengan si dia yang kita cintai. Yang ada hanyalah menahan atau menekan rasa ingin lebih dekat dan intens bercengkerama dengan dirinya. Menahan hawa nafsu kita adalah cara sebaik-baiknya untuk menjaga diri dari perbuatan zina yang dimurkai Allah.

Pacaran, bukanlah jalan yang tepat untuk mengikat dua insan yang saling mencintai. Sebab, pacaran tak ada dalam deretan ajaran Allah sampai kapanpun. Pacaran hanyalah budaya asing, dari luar Islam yang terus meracuni mindset dan hati umat Muslim, terutama para remaja. Virus yang dilarang dalam Islam ini telah menjangkiti kita yang sedang jatuh cinta. Rasanya sudah lumrah kita saksikan di mana-mana, status berpacaran dijadikan ikatan yang memang sudah selayaknya.

Padahal, dalam Islam status pacaran ini tidak ada. Yang ada hanya status pernikahan, adanya ijab dan kabul beserta syarat-syarat nikah lainnya yang harus dipenuhi hingga sah mengarungi hidup bersama sesuai aturan Allah. Berpacaran dalam mengawali sebuah pernikahan juga tidak dibenarkan-Nya. Berikhtiar untuk menjemput jodoh dan menggapainya tentu diharuskan menurut Allah, namun bukan dengan cara berpacaran. Allah telah memberikan jalan melalui proses ta’aruf (perkenalan) dengan ketentuan-ketentuan yang diberikan-Nya.

Adanya pacaran hanya mengantarkan kita pada perbuatan zina. Allah Azza wa Jalla memerintahkan pada kaum Muslim untuk menjauhi perbuatan zina. Dalam Islam tidak boleh berdua-duaan tanpa adanya mukhrim antara laki-laki dan perempuan tersebut. Saat menjalani pacaran, akan membangkitkan keinginan keduanya untuk selalu berduaan, berdekatan, bercengkerama, dan memadu kasih sayang. Sedangkan itu suatu perbuatan yang dilarang-Nya demi menjaga kesucian dan kebaikan dua insan itu sendiri.

Di buku ini, Fikri menjelaskan tentang itu dengan cukup detail dan mengena. Tak ada niat baginya untuk sok tahu atau sok mengajarkan pada orang lain mengenai hal ini. Bukan, bukan seperti itu yang menjadi tujuannya. Fikri hanya ingin berbagi sekaligus bermuhasabah diri bersama umat Muslim lainnya, para remaja sekalian. Belajar bersama, menjaga hati dan mengekspresikan cinta melalui cara halal yang direstui-Nya, yaitu pernikahan.

Segerakanlah menikah jika sudah mampu dan berpuasalah jika kita belum pandai menerjang cinta dalam mahligai pernikahan. Jangan melalui jalan pintas dengan pacaran sebagai dalih hubungan sebelum menikah. Sebab Tuhan, Izinkan Aku Pacaran hanyalah judul buku semata. Ta’aruf menjelang pernikahan adalah bagian dari ajaran-Nya.

Pahlawan Bumi

“Siapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.”(HR Ibnu Majah)

Allah Azza wa Jalla menciptakan bumi beserta isinya dengan begitu indah. Terdapat berjuta manfaat yang tersedia bagi para penghuninya. Kita sebagai manusia yang dilengkapi akal, berkewajiban menjaga keseimbangan alam yang ada di bumi ini. Mencintai tempat tinggal kita yang menjadi persinggahan menuju alam akhirat yang kelak segalanya diperhitungkan. Baik dan buruknya kita di dunia, akan dihisab oleh-Nya. Menjaga dan melindungi bumi dari kerusakan adalah langkah yang baik sebagai bentuk cinta pada Allah yang telah menciptakannya.

            Menanamkan sejak dini kepada buah hati tercinta untuk lebih peduli pada bumi melalui cerita merupakan salah satu misi Fadila Hanum dalam buku Pahlawan Bumi ini. Bagi Penulis, tangan-tangan kecil mereka mampu mengubah dunia menjadi lebih baik hingga tahun-tahun mendatang. Terkadang, orang tua malah sering diberi tahu oleh anak-anak berkat kesadarannya sendiri untuk melindungi bumi dari berbagai ancaman. Dari pemikiran anak yang sederhana itu, sesungguhnya akan berdampak besar bagi generasi mereka kelak dan generasi penerusnya.

            Melalui aksi keenam anak cerdas dalam buku ini, Fadila Hanum ingin memberikan edukasi pada buah hati kita untuk belajar mencintai alam dan menjaga bumi. Seperti gerakan kecil yang dilakukan Raya, Dea, Rasyid, Azmi, Moza, dan Pahlawan Misterius dalam buku ini yang dampaknya begitu besar bagi kelestarian bumi. Aksi keenam anak-anak ini bukan hanya memberikan didikan bagi buah hati kita, melainkan juga sebagai sarana hiburan yang mengasyikkan baginya. Apalagi, didukung dengan gaya penuturan Ayah dan Bunda yang baik dalam mendongengkan kisah ini pada si kecil.

Buku Pahlawan Bumi ini, berisi bahasan yang jarang kita temui pada buku-buku anak lainnya. Dengan menyajikan bahasan mengenai aksi anak-anak menjadi pahlawan bagi bumi, membuat buku ini unik dan berbeda. Selain memberikan tema kisah yang berbeda, buku ini juga memberikan sajian konten yang sangat banyak. Jadi, si kecil akan merasa belajar dalam suasana permainan. Dengan tema bahasan yang berbeda dan banyaknya konten yang tersedia, membuat buku ini berhasil menyabet piala dan piagam penghargaan di Islamic Book Fair (IBF) 2016.

Terdapat kisah aksi anak-anak cerdas yang diceritakan dengan gaya bahasa yang ringan, jelas, namun juga santai dengan diselingi candaan. Terdapat juga hikmah cerita di tiap akhir kisahnya agar Ayah dan Bunda dapat membantu si kecil untuk menemukan pesan-pesan yang disampaikan Penulisnya. Kemudian, dilengkapi pula dengan tips-tips menarik dan fakta unik yang ada dalam kisahnya. Illustrasi yang lucu dan menggemaskan dari tiap tokoh yang dikisahkan, juga menambah keseruan dan ketertarikan anak ketika membaca buku ini. Konten-konten menarik dalam buku ini tidak hanya sampai di situ, masih ada di halaman akhir yang menyajikan beberapa pertanyaan seputar kisah yang telah diceritakan dalam buku ini. Adanya konten tersebut, akan memancing inisiatif anak untuk menjawab dan melatih daya ingatnya saat membaca cerita.

Dialah Moza, gadis kecil ini melindungi bumi dengan hal sederhana yang ia terapkan sehari-hari di rumah. Mematikan lampu saat tidur dan menghemat penggunaan air adalah caranya untuk menjaga bumi agar tetap lestari. Moza juga selalu berusaha mengingatkan adiknya yang bernama Faza untuk hemat listrik dan air. Bukan hanya Faza, Moza juga mengajak Papa dan Mamanya untuk melakukan aksi itu. Awalnya Faza tidak mau menuruti ajakan Kak Moza untuk mematikan lampu saat tidur karena ia takut gelap. Faza juga mulanya belum mengerti kenapa harus irit menggunakan air saat menggosok gigi misalnya.

Kemudian, Kak Moza membujuk dan menjelaskan banyak kebaikan untuk bumi dan juga untuk manusia itu sendiri. Kak Moza menjelaskan pada Faza bahwa mematikan lampu saat tidur bisa menyelamatkan bumi dan dapat berdampak bagi kesehatan kulit manusia. Kalau tidak ada cahaya, sel-sel kulit kita akan benar-benar istirahat dan membuat tubuh fit keesokan harinya. Begitu seterusnya Kak moza membujuk adiknya hingga mengerti pentingnya menjaga bumi dari pemborosan listrik dan air. Karena itu, Moza pun jadi dijuluki polisi bumi oleh Faza juga Mama.

Aksi Moza dalam buku ini, hanyalah satu dari enam aksi cerdas anak-anak yang mampu memberi contoh bagi si kecil untuk menjadi pahlawan bumi. Melalui pemikiran sederhana dan aksi kecil mereka untuk bumi, kelak akan memberikan kebaikan pula bagi dirinya. Seperti juga hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, sesuatu yang kita sayangi juga akan berbalik menyayangi diri kita. Menjaga bumi sejak dini, bumi pun kelak berbalas menyayangi kita dan begitu sebaliknya. Kisah Raya, Dea, Rasyid, Azmi, dan Pahlawan Misterius juga tak kalah hebat dan seru. Pahlawan Misterius? Siapa ya dia? Temukan teka-teki siapa Pahlawan Misterius dan aksi cerdas anak lainnya hanya di buku Pahlawan Bumi.

Muslimah Sukses Tanpa Stres

Bagi seorang Muslimah kesuksesan dicapai tak hanya dalam meniti hidup berumah tangga, tetapi juga dengan cara meraih karier yang cemerlang. Pemahaman ini membuat kaum perempuan berada di persimpangan jalan. Begitu terasa himpitan keinginan antara dua pilihan. Bingung jalan mana yang menjadi prioritas. Stres, bahkan depresi terkadang menyerang perempuan ketika berusaha ‘memaksakan’ perannya sebagai istri, ibu, sekaligus wanita karier. Minimnya pengetahuan mereka akan kodratnya sebagai perempuan, kadang bisa menjadi salah satu alasannya. Tak jarang, sebagian dari mereka dapat terserang beberapa penyakit hanya bermula dari stres.

Melihat segala problematika yang sering  dijumpainya, Dr. Erma Pawitasari, M. Ed tergerak untuk membahas mengenai ini secara lebih dalam. Berbagai dilema yang sering menyerang kaum perempuan dikupasnya secara tuntas dan bernas bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Bagaimana seorang Muslimah harus menentukan sikap ketika harus memilih hidup berumah tangga ataukah mempertahankan eksistensinya di tengah masyarakat sebagai wanita karier. Selain itu penuturan Penulis dalam buku Muslimah Sukses Tanpa Stres ini, juga dilengkapi dengan contoh kasus yang relevan dengan isu-isu kontemporer. Jadi, mampu menjawab beberapa persoalan aktual yang dihadapi kaum perempuan saat ini.

Sesungguhnya, Islam memandang kemuliaan perempuan bukan dengan hal demikian. Ketika perempuan menjadi seorang anak, hamba Allah, saudara perempuan, istri, dan ibu, Allah Azza wa Jalla telah meninggikan derajat serta kemuliaan di sisi-Nya. Pengenalan istilah superwomen atau supermom hanyalah konsep yang merusak hak-hak kaum perempuan itu sendiri.

Ketika seorang Muslimah berperan menjadi seorang anak, saudara perempuan, dan hamba Allah, ia dimuliakan Allah, diangkat derajatnya dimulai saat Rasulullah saw. datang menghapus zaman jahiliyyah. Saat para ayah yang harusnya mampu menjaga, memberikan kasih sayang, dan melindungi begitu tega membinasakan hidup-hidup darah dagingnya sendiri. Hilangnya masa itu, membuat kaum perempuan sebagai anak ayah dan ibunya amat dihargai, disayangi, dan disamakan derajatnya dengan anak laki-laki karena tunduk pada ajaran Allah Azza wa Jalla.

Saat seorang Muslimah berperan sebagai istri sekaligus ibu, Allah memberinya kemuliaan lain yang harusnya dapat ia syukuri. Jenjang ini jauh lebih tinggi dari jenjang karier apapun di hadapan Allah. Allah memberikan hak dan kewajiban istimewa pada kaum perempuan yang menyandang dua gelar tersebut. Seorang Muslimah dapat berkarier di rumah dengan menjalankan perannya sebagai istri dan ibu. Karier yang sesuai kodrat, sesuai fitrahnya dalam Islam. Berkarier di luar rumah, menghabiskan waktu pagi hingga petang bahkan malam hari untuk bekerja hanyalah bentuk eksistensi wanita agar lebih dihargai dan diakui keberadaannnya di mata masyarakat.

Tingginya jenjang pendidikan dan kecerdasan yang dimiliki selama melajang, membuat Muslimah enggan melepas masa-masa cemerlangnya di hadapan orang tua, teman, dan orang-orang di sekelilingnya. Seakan ia lupa, bahwa ketika seorang perempuan memasuki kehidupan berumah tangga, segala kecerdasan dan wawasan yang luas itu harusnya diaplikasikan dalam keluarga barunya. Mengabdi pada suami dan anak, mencurahkan kasih sayang, dan mendidik mereka dengan ilmu dan wawasan luas yang dimilikinya itu. Semua menjadi sia-sia, ketika anak dididik oleh pengasuh yang justru pendidikannya lebih rendah dari sang ibu. Sebab, si ibu lebih memilih eksis dengan karier, namun melupakan tugas utamanya di rumah.

Pada dasarnya, hukum perempuan berkarier dalam Islam, baik dilakukan dari rumah maupun dari luar rumah adalah mubah (tidak wajib, tidak terpuji, tidak pula tercela). Seorang perempuan yang telah menjadi istri tidak berkewajiban mencari nafkah. Sebab, sang suami-lah yang wajib memikul segala urusan nafkah istri dan anak-anaknya. Namun, hukum asal ini dapat berubah mengikuti kondisi yang menyertai pekerjaan tersebut. Jadi, sebenarnya perempuan tidak harus menderita hanya ingin diakui eksistensinya. Islam menempatkan kaum perempuan pada posisi mulia, tanpa memperbudaknya. Jangan sampai seorang Muslimah terserang stres hingga depresi hanya karena terlalu berat memikul tugas dalam berumah tangga sekaligus berkarier. Jadikanlah Allah sebaik-baiknya pandangan hidup, bukan berdasar pandangan manusia.

Selain membahas seputar peran seorang Muslimah dari pandangan Islam, Penulis juga mengungkapkan tentang peran istri dan ibu yang professional hingga masalah pencarian jodoh. Tak dapat dimungkiri, kaum perempuan yang belum memasuki jenjang pernikahan sering resah ketika jodoh tak kunjung ditemui. Persoalan ini, menjadi salah satu pemicu stres dalam diri perempuan. Berbagai bahasan soal pencarian jodoh juga dikupas dalam buku ini.

Dengan dilengkapi sajian yang menarik dari tata letak di dalamnya, membuat buku ini tidak membosankan ketika dibaca. Beberapa warna pada cover dan bagian isi juga mencerminkan warna feminin sekali. Beranjak dari itu, Dr. Erma Pawitasari, M. Ed berusaha mengajak dan berbagi pada para Muslimah untuk menjalankan perannya sesuai kodrat yang diberikan Allah Azza wa Jalla. Terus melaju bersama kemuliaan istimewa yang disematkan padanya agar menjadi Muslimah Sukses Tanpa Stres.

13 Pelangi Cinta

Buah Hati merupakan titipan Illahi Robbi kepada umat-Nya yang dikehendaki. Allah Azza wa Jalla menyisipkan segala kasih sayang-Nya pada tiap keunikan seorang anak. Sejatinya, sebagai orang tua kita wajib menerima segala ketetapan dari-Nya yang dipersembahkan penuh cinta. Anak tersayang, dialah si Pelipur Lara, dialah si Penyemangat Jiwa, dan dialah si Penguji ayah juga bunda. Selain orang tua, ada satu sosok yang hadir dalam menunjang kesuksesan hidup si Anak. Dialah bapak dan ibu guru yang hebat. Dengan lembut ia berkata penuh ajar budi pekerti. Dengan sabar ia perhatian mengamati tiap tingkah laku sang Murid, yang bersemangat menggapai cita walau dalam keterbatasan istimewa.

Bersamaan dengan itu, Yessy Yanita Sari melalui karyanya bertajuk 13 Pelangi Cinta, ingin berbagi kisah inspiratif berupa kumpulan cerpen. Ditujukan bagi orang tua, guru, pendidik, dan kita semua yang peduli. Penulis yang telah berkecimpung dalam dunia pendidikan inklusif kurang lebih dua puluh tahun ini, berusaha membagi pengalaman yang luar biasa. Bagaimana susah senangnya berhadapan dengan anak-anak didik yang istimewa. Kolaborasi antara guru dan orang tua akan bersinergi demi perkembangan si Buah Hati yang lebih baik.

Yessy Yanita Sari menguraikan 13 kisah penuh warna bak pelangi yang beberapa di antaranya bersumber dari anak spesial, seperti speech delay, hiperaktif, down syndrome, dan autis. Tahukah Anda bahwa kasus anak special need bukan hanya dari bawaan kandungan saja, melainkan juga akibat pola asuh yang salah dari orang tua? Terkadang, kita sebagai orang tua kurang menyadari betapa berpengaruhnya pola asuh yang diberikan pada anak. Tidak semua anak dapat menerima pola didik dan pengasuhan yang sama dari orang tuanya. Yang menurut orang tua baik, belum tentu mampu diterima oleh psikis anak. Banyak di antara anak special need yang tumbuh akibat pola asuh yang salah. Minimnya pengetahuan mendidik anak ataukah setumpuk kesibukan orang tua di luar rumah yang jadi penyebab? Meskipun begitu, pastinya ayah juga bunda selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi si Buah Hati.

Sebutlah dia Hilmi Mumtaz, seorang murid sekolah dasar yang mengidap Hemofilia. Ia memiliki seorang guru bahasa Arab baru yang ramah bernama Bu Laila Purnama. Dengan banyak berkoordinasi kepada Ummi Lu’lu—Ibunda Hilmi beserta wali kelasnya, Bu Laila selalu mengamati dan menjaga muridnya yang bertingkah baik nan sopan ini. Orang tua Hilmi, sangat sabar dan sayang dalam menjaga anaknya itu. Namun di sekolah, seorang teman Hilmi bernama Gagah Utama kerap kali mengejek dan meremehkannya.

Suatu ketika Gagah hampir saja menabrak lemari kaca ketika sedang melakoni sebuah peran dalam tugas drama bahasa Arab. Hilmi dengan kursi rodanya berusaha menghalau Gagah dari jendela kaca itu. Akhirnya, Gagah menabrak Hilmi bersama kursi rodanya. Mereka terjatuh. Keluarlah darah dari hidung dan telinga Hilmi. Bu Laila pingsan! Hilmi bersama Bu Laila yang phobia dengan darah dilarikan ke rumah sakit yang sama. Gagah menyesal dan meminta maaf. Waktu berlalu, kini Hilmi tumbuh menjadi laki-laki muda yang sehat, beristri, dan memiliki 2 anak.

Kisah tentang Hilmi Mumtaz adalah satu dari sekian banyak anak special need yang memang terlahir demikian karena bawaan gen dari salah satu orang tuanya. Namun, bagaimanakah kasus anak special need diakibatkan pola asuh yang salah dari orang tua maupun sekitarnya?

Dialah Fari, seorang murid yang belum mengetahui apa itu rasa sakit. Kedua orang tua Fari yang notabene-nya seorang pekerja, menitipkan si Buah Hati pada Mbak Tini sebagai pengasuh anak dan eyang Fari di rumah. Saat di sekolah, Fari gemar mencakar atau memukul temannya hingga menangis kesakitan. Bukannya merasa bersalah, Fari malah senyum dan tertawa melihat ekspresi temannya itu. Setelah diselidiki melalui CCTV rumah dan dilanjutkan pengamatan guru konseling di sekolahnya, diketahuilah bahwa Mbak Tini si Pengasuh suka berekspresi gembira saat dipukul dan dicakar Fari. Dia jadi tidak peka terhadap rasa sakit. Fari jadi belum paham seperti apa rasanya sakit itu.

Tidak hanya 13 kisah saja yang dituturkan Yessy Yanita Sari, tetapi juga terdapat solusi dan cara penanganan terhadap kasus-kasus dalam cerita yang bersifat aplikatif. Serta dilengkapi pula dengan bab khusus yang membahas ragam special need dan deteksi dini pada buah hati. Keunikan lain dari buku ini adalah mengambil sudut pandang pendidikan inklusif dengan pendekatan agama. Ya, sesungguhnya anak-anak spesial tidak hanya butuh dibimbing untuk bisa survive, tetapi juga harus dididik menjadi pribadi takwa dan rahmatan lil ‘aalamiin. Sangat menarik bukan? Simak kisah selengkapnya hanya di buku 13 Pelangi Cinta. Persembahan warna-warni pengalaman, yang sarat dengan tuntunan karya Yessy Yanita Sari.