Artikel Artikel Umum

Negeri Tanpa Laki-laki

“Buku ini ditulis dalam kesadaran kebaruan. Kesadaran untuk menjadi laki-laki, menjadi lebih laki-laki, menjadi lebih ayah, dan menjadi lebih baik sebagai laki-laki.

Negeri Tanpa Laki-laki memang layak dibaca oleh setiap laki-laki dan di apresiasi oleh setiap perempuan yang ingin laki-lakinya tak hilang. Buku ini semacam sekuel dari buku Menjadi Laki-laki. Penulisnya adalah seorang laki-laki,Eko Novianto Nugroho, sehingga setiap laki-laki yang membaca judul buku ini tak perlu tersinggung jika dipakai judul Negeri Tanpa Laki-laki. Penulis hanya ingin mengajak setiap laki-laki agar bersikap dan berprilaku menjadi "laki-laki". Buku ini ditulis agar ada pengendalian diri.

Laki-laki dan perempuan itu memang beda, itu sudah menjadi kodrat. Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuannya. Tak perlu diputarbalikkan. Mau tahu lebih jauh penyebab negeri tanpa laki-laki? Simak selanjutnya dalam Negeri Tanpa Laki-laki.”

[Gema Insani Press]

Sumber: http://www.pkspiyungan.org/2014/08/negeri-tanpa-laki-laki_30.html 

Bulan Madu Diatas Pelangi

Apapun yang kaudengar dan katakan (tentang cinta), itu semua hanyalah kulit sebab inti dari cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkap.

(Jalaluddin Rumi)

Pernikahan adalah ikatan suci yang terbingkai dalam kehalalan. Allah Azza wa Jalla memberikan rasa cinta dalam dua hati manusia yang ditakdirkan bersama. Dialah suami atau istri kita, yang kini berjalan beriringan dalam menempuh bahtera rumah tangga. Mengecap manisnya awal pernikahan bagi pengantin baru, diidentikkan dengan masa bulan madu. Namun, pernikahan tak hanya diperuntukkan sesaat, hanya ketika madu pernikahan baru dirasakan. Manisnya cinta di awal pernikahan, hendaknya tetap bersemi indah hingga menguntai kelak di surga.

Terkadang berbagai problematika sering terjadi di tengah perjalanan rumah tangga. Manisnya pernikahan seolah berubah menjadi pahit, dihujani amarah, dan air mata. Lalu, kemanakah rasa cinta yang begitu membara, seperti saat menjejaki madu pengantin baru dan malam pertama? Dari berbagai contoh yang relevan inilah, Ummu Nashifah tergerak untuk menuliskan pengetahuannya dalam buku ini. Melalui buku Bulan Madu di Atas Pelangi, Penulis memaparkan kunci kebahagiaan rumah tangga dengan sebutan 2S, yaitu spiritual (Islam) dan seksualitas.

Ya, kunci 2S ini sama-sama pentingnya dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Seperti yang tertulis dalam buku ini bahwa dengan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah, segala permasalahan hidup pasangan suami istri akan ada alternatif solusinya. Dengan seksualitas pula, pasangan suami istri harus memahami ini dengan baik karena seks dalam koridor Islam adalah bagian dari ibadah—demi memenuhi hasrat cinta dan melestarikan keturunan. Seks dalam bingkai syar’i, dijelaskan dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Mengenai urusan ranjang, hendaknya jangan diremehkan karena bisa menjadi penyumbang masalah terbesar dalam keharmonisan suami istri.

Buku ini berisi kisah berpadu penjelasan yang dituturkan dengan kata-kata puitis, namun tetap mengena bagi pembacanya. Disertai dengan bahasan kisah di zaman Rasulullah saw. dan kutipan kisah nyata seputar percintaan dalam kehidupan rumah tangga. Buku Bulan Madu di Atas Pelangi ini, menjadi bacaan bergizi yang patut dibaca para calon pengantin, pengantin baru, dan pasangan yang telah lama menikah. Bertujuan agar madu pernikahan tetap tercipta meski masa pengantin baru dan indahnya malam pertama telah berlalu.

Penulis secara gamblang, namun tetap mengemas bahasanya dengan santun membahas tentang seks dalam rumah tangga. Ya, tentu saja seks dalam jalur Islam—sebagai bagian dari ibadah yang diperbolehkan hanya untuk pasangan suami istri. Di buku ini, banyak membahas kisah kelucuan dan indahnya malam pertama. Hingga kisah pertengkaran, perselingkuhan, dan perceraian hanya karena urusan ranjang yang tak berkualitas, tak sesuai dengan panduan Islam. Dalam buku ini, Ummu Nashifah membagikan pengetahuan mengenai seks bagi pasangan suami istri. Disertai pula kiat-kiatnya agar bulan madu di malam pertama tetap terasa sepanjang usia pernikahan.

Selain menjaga dan memperbaiki urusan ranjang, Penulis juga memaparkan solusi lain agar pernikahan tetap harmonis. Solusi lainnya yaitu memperbaiki jalinan komunikasi dan selalu melihat sisi baik dari pasangan. Pembahasan dalam buku ini dibuat senetral mungkin bahwa antara suami dan istri sama-sama menjadi penyumbang masalah sekaligus juga penyumbang kebahagiaan. Jadi, harus ada kompromi dalam hal rumah tangga. Ada yang harus tetap merendah dan sabar ketika salah satu pasangan ingin terlihat dominan dengan amarah dan keegoisannya. Dengan begitu, buku ini sangat pas dibaca—baik untuk suami maupun untuk istri.

Seperti halnya yang dikatakan Jalaluddin Rumi, ada rahasia yang tak terungkap dalam sebuah cinta, lebih dari sekadar kata yang didengar maupun diucapkan. Kata yang sering didengar dan diucapkan tentang cinta hanyalah kulit, intinya adalah hal yang tak terungkap. Hangatnya cinta antara suami dan istri harus terus bersemi, agar pernikahan jadi seindah bulan semanis madu. Spiritual dan seksualitas menjadi kunci kebahagiaan rumah tangga yang tak hanya diungkapkan dengan kata-kata. Berbagai kisah dan penjelasan dalam buku ini, sangat bermanfaat untuk dibaca dan diterapkan dalam kehidupan berumah tangga.

https://gemainsaniblog.wordpress.com/daftar-buku/bulan-madu-di-atas-pelangi/

Sejarah Umat Islam

Sejarah merupakan rekaman jejak masa lampau dari suatu kehidupan. Bercermin dari kehidupan masa lalu, akan menjadi penuntun kita menempuh masa yang lebih baik. Agar peristiwa yang buruk tak terulang dan kejadian yang baik dapat dijadikan teladan. Dari sejarah, kita dapat mengambil pelajaran yang tersimpan di dalamnya. Sama halnya dengan Islam, jauh beratus-ratus tahun lalu perjalanannya dimulai, membuahkan sejarah yang patut ditelusuri umatnya. Sebagai umat Muslim, hendaknya kita mengetahui seperti apa deretan fakta berabad-abad lalu yang ditorehkan Rasulullah saw. beserta sahabat dan kaum yang terdahulu. Dengan begitu, kita akan lebih mudah melangkah karena menjadikan sejarah Islam sebagai ibrah dan tuntunan dalam mengamalkan ajaran dan sunnah-Nya.

Bersamaan dengan itu, Prof. Dr. Hamka menilik lebih dalam mengenai sejarah Islam melalui buku Sejarah Umat Islam iniHamka dengan begitu gamblangnya mengungkapkan realita sejarah yang terjadi pada umat Islam dalam beberapa fase. Berawal dari fase sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw. (zaman Arab purbakala), fase Nabi Muhammad saw., fase Khulafaur Rasyidin, dan fase kepemimpinan beberapa kekhalifahan Islam—baik yang ada di Jazirah Arab maupun di luar Jazirah Arab, seperti di Benua Eropa, Benua Afrika, dan di wilayah Afghanistan. Selain itu, Penulis yang juga Ulama ini memaparkan jejak-jejak Islam sampai ke Tanah India dan Iran. Dua negeri tersebut memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Berkaitan dengan itu, Hamka pun mengupas fase penyebaran Islam di Tanah Air, yang secara khusus dibahas pada bagian akhir buku ini.

Dengan sangat bernas pula, Hamka mengawali tulisannya mengenai kehidupan bangsa Arab yang masih tergolong purbakala, yaitu jauh sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw. Kehidupan bangsa Arab yang menjadi cikal-bakal hadirnya Islam di dunia, ketika itu masih dibagi dalam beberapa bagian masyarakat. Ada yang termasuk orang badui yang jauh dari peradaban hingga orang kota yang pergaulannya begitu luas dengan negeri lain, seperti Persia/Iran, Romawi, dan lain-lain. Sampailah pada kelahiran Nabi Muhammad saw. yang mampu menghapus zaman Jahiliyah, berganti pembebasan belenggu perbudakan dan penyembahan berhala. Dipaparkan juga dalam buku ini mengenai permulaan Nabi Muhammad lahir ke dunia, masanya sebagai kaum muda, saat menikah dengan Khadijah, ketika diangkat menjadi Rasulullah, dan kala menyebarkan risalah Islam bersama empat sahabatnya.

Beranjak dari itu, Hamka melanjutkan penuturannya pada masa kekhalifahan empat sahabat Rasulullah. Mereka adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Ibnu Al-Khaththab, Utsman Ibnu Affan, dan Ali Ibnu Abu Thalib. Di sisi lain, juga terdapat realita sejarah kepemimpinan dari beberapa kerajaan kala itu. Kepemimpinan yang berpadu intrik politik dan kekuasaan, serta permusuhan dan pelecehan di kalangan umat Islam.

Termasuk berbagai konspirasi dari pihak luar untuk menjatuhkan dan menggulingkan pemerintahan Islam. Hal ini menyebabkan terjadinya Perang Salib di dunia dan pendudukan bangsa-bangsa Eropa, seperti Inggris, Portugis, Spanyol, dan Prancis atas negeri-negeri Islam, tidak terkecuali juga penjajahan yang berlangsung di Indonesia. Seiring dengan itu pula, penyebaran agama Islam mulai berkembang hingga ke pelosok negeri-negeri lain, seperti Persia/Iran, benua Eropa, benua Afrika, hingga ke Afghanistan dan India.

Dari perkembangan Islam di Iran dan India, masuklah agama yang rahmatan lil ‘aalamiin ini ke negeri-negeri Melayu, termasuk ke wilayah Indonesia. Masuknya Islam ke Indonesia melalui jalur perniagaan atau perebutan kekuasaan. Islam perlahan dapat diterima dengan tangan terbuka di Tanah Air meskipun kala itu masih dikuasai pengaruh Hindu-Budha. Pertama kali berdirilah kerajaan Islam bernama Samudra Pasai diikuti kerajaan Islam lainnya. Berdirinya kerajaan Islam di Indonesia, diiringi juga dengan kehadiran para Wali yang berperan penting menyebarkan risalah Islam.

Dengan kepiawaiannya itu, Buya Hamka berhasil memotret berbagai fakta sejarah yang kadang tidak ditemukan dalam buku sejarah Islam lainnya atau luput dari perhatian kita. Buku ini juga membahas sejarah berbagai kerajaan Islam di Indonesia beserta tokoh-tokoh besarnya. Bahkan, yang tidak ditemukan dalam buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah kita.

Senada dengan cover-nya yang berwarna merah, buku ini mengisyaratkan kita untuk selalu mengobarkan api semangat dalam menelisik catatan umat Islam terdahulu. Tak lain bagi Hamka, agar dijadikan teladan dan pelajaran. Bertujuan membangun jiwa-jiwa umat yang teguh pendirian terhadap Islam hingga masa mendatang. Berbekal membaca buku Sejarah Umat Islam, diharapkan dapat memperkaya khazanah pengetahuan kita sebagai umat-Nya.

Biografi 4 Serangkai Imam Madzhab

Di pelosok dunia Islam, 4 Imam Madzhab (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali) begitu dikenal seiring tersyiarnya aliran madzhab mereka. Dengan mengetahui kepribadian, perjuangan, ketegasan, dan keilmuan mereka, kita akan mengenalnya lebih dekat. Dengan demikian, kita bukan hanya sekadar ikut-ikutan dalam mengamalkan salah satu madzhab atau keempat madzhab tersebut. Berdasar inilah, K.H. Moenawar Chalil menuliskan riwayat hidup mereka dalam buku Biografi 4 Serangkai Imam Madzhab. Terbitnya buku ini, mengulangi kesuksesannya sebagai Penulis buku best seller sepanjang masa berjudul 1 Set Kelengkapan Tarikh edisi lux, yang juga diterbitkan oleh Gema Insani.

Dalam buku ini, Penulis memaparkan kisah perjalanan hidup, dakwah, dan ijtihad para Imam Empat Madzhab tersebut. Selain itu, dilengkapi juga dengan pembahasan dasar-dasar madzhab dari keempat Imam Madzhab dan riwayat tersyiarnya aliran madzhab mereka di dunia. Penulis berharap agar para Muslimin dapat berpikir cermat mengenai pembahasan dalam buku ini. Bertujuan agar riwayat hidup dan dasar-dasar madzhab ini dijadikan suri teladan, sebagai cermin perbandingan, dan petik intisarinya. Bukan hanya jadi bahan perbincangan kosong atau sekadar peninggalan sejarah.

Perlu diketahui, keempat Imam Madzhab ini sangat tegas dan berani dalam menegakkan dasar dan pokok hukum dari kitab Allah (Al-Qur’an) dan as-Sunnah. Mereka melakukan pemeriksaan dan mengkajinya dengan detail, bukan hanya dibaca sekilas saja. Meskipun di antara mereka ada yang menggunakan dasar madzhab dari ijma’ dan qiyas, itu tidak akan digunakan selama masih didapati nash sepanjang penelitian mereka. Ijma’ dan qiyas yang mereka gunakan pun tidak sekadar serampangan saja, tapi dengan arti yang sebenarnya. Terhadap para ahli ra’yi dan ahli bid’ah sekalipun, mereka tetap bertindak keras serta tegas. Selain itu, mereka melarang umat Muslim yang hanya men-taqlid-kan urusan agama kepada beliau-beliau maupun kepada siapa saja.

Selain ketegasan 4 Imam Madzhab dalam membela Al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka juga sangat mencintai ilmu pengetahuan, lho!. Mereka pun sangat menghormati para gurunya. Hal ini juga yang patut kita teladani. Mereka mengalami berbagai pengorbanan saat menuntut ilmu. Kondisi kepayahan, kesulitan, himpitan ekonomi, dan kesukaran, mereka jumpai setiap harinya. Namun begitu, mereka tetap berusaha keras meraih ilmu pengetahuan setinggi-tingginya agar bisa bermanfaat bagi Islam, keluarga, serta negaranya.

Seperti yang tertulis dalam buku ini, salah satunya pada riwayat kecintaan Imam Syafi’i terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena kemiskinannya, beliau mendapat kesukaran dan kekurangan uang dalam membeli peralatan belajar. Namun begitu, beliau tidak kehabisan akal dan cepat putus asa. Imam Syafi’i sering mengumpulkan tulang-tulang di jalan untuk menulis materi pelajaran dari para gurunya. Bahkan, beliau juga kerapkali mendatangi kantor pemerintahan untuk mencari kertas yang tidak terpakai atau telah dibuang ke dalam keranjang. Beliau tetap bersemangat menuntut ilmu tanpa berkecil hati atau merasa hina atas penilaian orang-orang.

Dari kegigihan para Imam 4 Madzhab dalam menuntun ilmu, mereka berhasil menguasai ilmu yang bertalian dengan ilmu agama, seperti ilmu pengetahuan, ilmu fiqih, ilmu hadits, ilmu kesusasteraan Arab, ilmu hikmah, ilmu riwayat hadits, ilmu Al-Qur’an, dan sebagainya. Keilmuan mereka yang menakjubkan ini, sangat berguna dalam menyeimbangkan segala ilmu yang ada dalam Islam. Ditambah dengan keindahan akhlaknya, keempat Imam Madzhab ini begitu dikenang dan dikenal umat Islam hingga pelosok dunia.

Dari berbagai ilmu dan riwayat hidup mereka di jalan Allah, didapatilah dasar-dasar madzhab keempat Imam Madzhab tersebut. Dasar-dasar madzhab Imam Hanafi, yaitu Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah saw., fatwa para sahabat Nabi, qiyas, istihsan, dan adat yang berlaku dalam masyarakat Islam. Dasar-dasar madzhab Imam Maliki, yaitu Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah yang telah dipandang sah olehnya, ijma’ para ulama ahli Madinah, qiyas, dan Istishlah. Nah, untuk dasar-dasar madzhab Imam Syafi’i dan Imam Hambali, bisa kita temukan selengkapnya hanya di buku Biografi 4 Serangkai Imam Madzhab. Di buku ini, juga membahas awal mula tersyiarnya aliran madzhab mereka dan masih banyak lagi catatan riwayat hidup 4 Imam Madzhab yang patut diketahui.

Sumber: https://gemainsaniblog.wordpress.com/biografi-4-serangkai-imam-madzhab/

Haramkah Muslimah Bekerja ?

Bagi seorang Muslimah kesuksesan dicapai tak hanya dalam meniti hidup berumah tangga, tetapi juga dengan cara meraih karier yang cemerlang. Pemahaman ini membuat kaum perempuan berada di persimpangan jalan. Begitu terasa himpitan keinginan antara dua pilihan. Bingung jalan mana yang menjadi prioritas. Stres, bahkan depresi terkadang menyerang perempuan ketika berusaha ‘memaksakan’ perannya sebagai istri, ibu, sekaligus wanita karier. Minimnya pengetahuan mereka akan kodratnya sebagai perempuan, kadang bisa menjadi salah satu alasannya. Tak jarang, sebagian dari mereka dapat terserang beberapa penyakit hanya bermula dari stres.

Melihat segala problematika yang sering  dijumpainya, Dr. Erma Pawitasari, M. Ed tergerak untuk membahas mengenai ini secara lebih dalam. Berbagai dilema yang sering menyerang kaum perempuan dikupasnya secara tuntas dan bernas bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Bagaimana seorang Muslimah harus menentukan sikap ketika harus memilih hidup berumah tangga ataukah mempertahankan eksistensinya di tengah masyarakat sebagai wanita karier. Selain itu penuturan Penulis dalam buku Muslimah Sukses Tanpa Stres ini, juga dilengkapi dengan contoh kasus yang relevan dengan isu-isu kontemporer. Jadi, mampu menjawab beberapa persoalan aktual yang dihadapi kaum perempuan saat ini.

Sesungguhnya, Islam memandang kemuliaan perempuan bukan dengan hal demikian. Ketika perempuan menjadi seorang anak, hamba Allah, saudara perempuan, istri, dan ibu, Allah Azza wa Jalla telah meninggikan derajat serta kemuliaan di sisi-Nya. Pengenalan istilah superwomenatau supermom hanyalah konsep yang merusak hak-hak kaum perempuan itu sendiri.

Ketika seorang Muslimah berperan menjadi seorang anak, saudara perempuan, dan hamba Allah, ia dimuliakan Allah, diangkat derajatnya dimulai saat Rasulullah saw. datang menghapus zaman jahiliyyah. Saat para ayah yang harusnya mampu menjaga, memberikan kasih sayang, dan melindungi begitu tega membinasakan hidup-hidup darah dagingnya sendiri. Hilangnya masa itu, membuat kaum perempuan sebagai anak ayah dan ibunya amat dihargai, disayangi, dan disamakan derajatnya dengan anak laki-laki karena tunduk pada ajaran Allah Azza wa Jalla.

Saat seorang Muslimah berperan sebagai istri sekaligus ibu, Allah memberinya kemuliaan lain yang harusnya dapat ia syukuri. Jenjang ini jauh lebih tinggi dari jenjang karier apapun di hadapan Allah. Allah memberikan hak dan kewajiban istimewa pada kaum perempuan yang menyandang dua gelar tersebut. Seorang Muslimah dapat berkarier di rumah dengan menjalankan perannya sebagai istri dan ibu. Karier yang sesuai kodrat, sesuai fitrahnya dalam Islam. Berkarier di luar rumah, menghabiskan waktu pagi hingga petang bahkan malam hari untuk bekerja hanyalah bentuk eksistensi wanita agar lebih dihargai dan diakui keberadaannnya di mata masyarakat.

Tingginya jenjang pendidikan dan kecerdasan yang dimiliki selama melajang, membuat Muslimah enggan melepas masa-masa cemerlangnya di hadapan orang tua, teman, dan orang-orang di sekelilingnya. Seakan ia lupa, bahwa ketika seorang perempuan memasuki kehidupan berumah tangga, segala kecerdasan dan wawasan yang luas itu harusnya diaplikasikan dalam keluarga barunya. Mengabdi pada suami dan anak, mencurahkan kasih sayang, dan mendidik mereka dengan ilmu dan wawasan luas yang dimilikinya itu. Semua menjadi sia-sia, ketika anak dididik oleh pengasuh yang justru pendidikannya lebih rendah dari sang ibu. Sebab, si ibu lebih memilih eksis dengan karier, namun melupakan tugas utamanya di rumah.

Pada dasarnya, hukum perempuan berkarier dalam Islam, baik dilakukan dari rumah maupun dari luar rumah adalah mubah (tidak wajib, tidak terpuji, tidak pula tercela). Seorang perempuan yang telah menjadi istri tidak berkewajiban mencari nafkah. Sebab, sang suami-lah yang wajib memikul segala urusan nafkah istri dan anak-anaknya. Namun, hukum asal ini dapat berubah mengikuti kondisi yang menyertai pekerjaan tersebut. Jadi, sebenarnya perempuan tidak harus menderita hanya ingin diakui eksistensinya. Islam menempatkan kaum perempuan pada posisi mulia, tanpa memperbudaknya. Jangan sampai seorang Muslimah terserang stres hingga depresi hanya karena terlalu berat memikul tugas dalam berumah tangga sekaligus berkarier. Jadikanlah Allah sebaik-baiknya pandangan hidup, bukan berdasar pandangan manusia.

Selain membahas seputar peran seorang Muslimah dari pandangan Islam, Penulis juga mengungkapkan tentang peran istri dan ibu yang professional hingga masalah pencarian jodoh. Tak dapat dimungkiri, kaum perempuan yang belum memasuki jenjang pernikahan sering resah ketika jodoh tak kunjung ditemui. Persoalan ini, menjadi salah satu pemicu stres dalam diri perempuan. Berbagai bahasan soal pencarian jodoh juga dikupas dalam buku ini.

Dengan dilengkapi sajian yang menarik dari tata letak di dalamnya, membuat buku ini tidak membosankan ketika dibaca. Beberapa warna pada cover dan bagian isi juga mencerminkan warna feminin sekali. Beranjak dari itu, Dr. Erma Pawitasari, M. Ed berusaha mengajak dan berbagi pada para Muslimah untuk menjalankan perannya sesuai kodrat yang diberikan Allah Azza wa Jalla. Terus melaju bersama kemuliaan istimewa yang disematkan padanya agar menjadi Muslimah Sukses Tanpa Stres.