Artikel Tentang Penulis

Do'a

Assalamu’alaikum. Saudaraku, seringkali kita kesal dengan Allah. Kekesalan kita disebabkan, karena kita sudah sering berdo’a dan meminta sesuatu, tetapi tidak kunjung terkabul. Kekesalan tersebut kemudian membuat kita frustrasi dan medzolimi Allah dengan menuduh Allah ingar akan janji-janji-Nya. Pikiran seperti ini sangat berbahaya.

Anda pun seringkali bertanya, jika Allah memang tidak ingkar, mengapa dalam kenyataan, do’a-do’a yang kita panjatkan tidak selalu dikabulkan, bahkan banyak do’a kita yang tidak terkabul. Saudaraku yang dimuliakan Allah. Sahabat kita, Muhammad Aly El-Bhoney mencoba menuliskan tentang hal ini.

***

Tiada satupun yang lebih mulia bagi Allah, melainkan do’a. Do’a adalah senjata dan menunjukan bukti begitu kecilnya kita sebagai hamba di hadapan Allah. Do’a juga merupakan modal utama bagi ummat Islam, sehingga kita tidak pantas menyombongkan diri, karena hanya kepada Allah sajalah kita memohon pertolongan dan perlindungan.

Allah berfirman dalam al-qur’an:

 

 إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُفِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

(الأعراف :40)

 

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (al-Baqarah :40)

Seperti kisah Nabi Ayub as. Ia diuji oleh Allah dengan bencana yang menimpa fisiknya. Tubuhnya tak menyisakan satu lobang jarum pun yang sehat. Tak ada sesuatu dan seorang pun di dunia ini, yang dapat menolongnya, selain istrinya yang tetap memelihara cintanya karena Allah.

Saat sakit, istri Nabi Ayub selalu melayani dan mendo’akan sang suami, untuk diberikan kesembuhan. Maka Allah mengabulkan do’a dan permohonannya. Lalu Allah memerintahkan Nabi Ayub untuk bangkit dan menjejakkan kaki ke tanah. Seketika, tanah itu mengeluarkan mata air. Allah kemudian menyuruh Nabi Ayub mandi dengan air itu. Melalui air itu, Allah menghilangkan seluruh penyakit yang ada di tubuh Nabi Ayub. Subhanallah.

Hambaku meminta, maka akan Aku kabulkan,” demikianlah janji Allah kepada kita sebagai hamba-Nya. Bahwa dengan berdo’a dan minta, niscaya Allah akan kabulkan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk selalu berdo’a setiap saat.

Allah berfirman dalam Al-qur’an :

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْيَرْشُدُونَ (البقرة : 186)

Artinya: “Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadaku tentang Aku, maka jawablah bahwasanya aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepadaku kepada-KU, maka hendaklah mereka memenuhi( segala perintah-KU) dan hendaklah mereka beriman kepada-KU agar mereka selalu berada di dalam kebenaran.”  (QS. Al-Baqarah : 186)

Allah swt juga berfirman: “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’”. (QS. Al-Mukmin 40: 60)

Namun, kadang kala manusia tidak sabar menunggu do’a-do’a yang mereka telah ucapkan di hadapan Allah. Ketidaksabaran itu seringkali membuat manusia marah pada Allah, karena Allah dianggap ingkar. Astagfirullah. Padahal janji Allah itu pasti. Tidak seperti janji manusia yang sering ingkar.

Jika Allah tidak ingkar, mengapa dalam kenyataannya begitu sulit do’a itu dikabulkan?

Kapasitas pengetahuan manusia itu terbatas. Keterbatasan itu membuat kita seringkali merasa, Allah itu telah mendzolimi umat-Nya. Padahal manusia merasa sudah banyak berdo’a agar permohonan mereka terkabul. Bahkan setelah mencari-cari tempat yang makbul, do’a yang makbul serta cara yang makbul sekalipun, belum tentu do’a manusia dikabulkan. Hal tersebut tentu saja dapat atau mudah membuat orang menjadi frustasi. Tak heran, karena frustasi, banyak orang menjadi nekat untuk meminta kepada selain Allah, entah itu melalui dukun ataupun menjual jiwanya kepada syaitan. Astagfirullah. Sungguh sangat disayangkan jika hal itu terjadi. Demi terpenuhi keinginan duniawi, manusia sampai rela bermusyrik diri.

Saudaraku, Allah swt adalah sang penerima taubat. Hanya saja, ada do’a yang  tidak secara langsung di-istijabah oleh Allah dan ada juga yang tidak. Jika tidak di-istijabah, itu artinya Allah ingin menguji hamba-Nya sampai di mana batas kesabaran dalam berdo’a. Bisa saja do’a terkabulkan baru satu atau dua hari ke depan, atau bahkan beberapa bulan atau berapa tahun ke depan. Yang pasti, kita sebagai hamba-Nya tetap konsisten dan sabar untuk berdo’a, karena Insya Allah do’a kita akan dikabulkan oleh Allah swt,

Ada kemungkinan, do’a seseorang sulit atau bahkan tidak terkabulkan oleh Allah, karena beberapa sebab. Pertama, mungkin dari segi ibadah atau cara mendekatkan diri kepada Allah (taqorrup ilallah), kita masih kurang tepat. Kedua, bagaimana segi muamalah atau tingkah laku kita pada manusia lain. Sebab, dalam hadist Rasulullah Saw berkata:“Sayangilah siapah atau apa saja yang ada di bumi, niscaya engkau akan di sayangi siapah yang di langit, yaitu Allah swt”.

Ketiga, penyebab lain adalah tergantung apa yang mereka makan, minum, dan pakaian yang dikenakan manusia tersebut. Yakni bagaimana barang-barang itu diperoleh. Apakah dari hasil uang halal atau malah sebaliknya haram?

 

Dari Abu Hurairah RA dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kaum mukminin dengan perintah yang juga Dia tujukan kepada para rasul, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mukminun: 51)

Terakhir, penyebab do’a tak terkabul adalah ketidaksabaran kita. Bahwa Allah tidak suka pada orang yang tidak sabar. Allah tidak suka pada mereka terburu-buru ingin cepat dikabulkan do’anya, namun ketika do’a belum terkabul, mereka berbuat maksiat dan meninggalkan kewajiban, serta membiarkan kejahatan.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur dan dimudahkan dalam segala urusan. Amiin. Kita pun semoga menjadi orang yang selalu diberikan kesabaran, sehingga kita selalu memohon do’a dalam keadaan susah maupun senang. Waffaqumullah jamii’an. (Muhammad Aly El-Bhoney)

Amanah

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS al-Ahzab [33]: 72-73).

 

 

Syariah yang dibebankan kepada manusia merupakan amanah. Sebagaimana layaknya amanah, syariah tersebut wajib dipikul dan ditunaikan. Tidak boleh disia-siakan dan ditelantarkan, apalagi ditolak dan diingkari. Memang, amanah tersebut tidak ringan hingga langit, bumi, dan gunung pun tidak sanggup untuk memikulnya. Namun bagi orang yang mau menunaikannya, Allah SWT akan memberikan ampunan terhadapnya. Juga, pahala yang besar, surga, dan ridha-Nya. Sebaliknya, siapa pun yang sengaja menelantarkannya, terlebih mengingkari dan menolaknya, akan ditampakan azab atasnya. Ayat ini adalah di antara yang menjelaskan perkara tersebut.

 

Hanya Manusia

 Allah SWT berfirman: إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ   (sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung). Kata اْلأَمَانَةَmerupakan bentuk mashdar  seperti halnya kata al-amn dan al-amân (keamanaan, ketenteraman). Dalam konteks ayat ini, kata amanah bermakna ketaatan dan berbagai kewajiban yang diwajibkan atas hamba-Nya. Demikian al-Baghawi dalam tafsirnya. Al-Jazairi menafsirkannya sebagai semua taklif  syar’i dan segala sesuatu yang dipercayakan kepada manusia, baik berupa harta, perkataan, kehormatan, maupun perbuatan. Imam al-Qurthubi menegaskan bahwa amanah tersebut meliputi semua tugas agama. Menurutnya, ini merupakan pendapat jumhur. Tak jauh berbeda, Ibnu Jarir al-Thabari juga mengatakan pengertian amanah dalam ayat ini mencakup semua makna amanah dalam agama dan amanah manusia. Pasalnya, Allah SWT tidak mengkhususkan dalam firman-Nya: عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ hanya menunjuk sebagian makna amanah.

            Penggunaan kata amanah, menurut Sihabuddin al-Alusi, merupakan peringatan bahwa semua taklif tersebut merupakan hak-hak yang harus dipelihara; dititipkan dan dipercayakan Allah kepada para mukallaf; dan diwajibkan atas mereka untuk ditunaikan dengan penuh ketaatan dan ketundukan; diperintahkan untuk dipelihara, dijaga, dan ditunaikan tanpa melanggarnya sedikit pun.

 

Diberitakan dalam ayat ini, bahwa Allah SWT telah menawarkan amanah tersebut kepada tiga makhluk-Nya yakni langit, bumi, dan gunung.  Akan tetapi, semua makhluk yang besar dan kuat fisiknya tersebut menolaknya. Allah SWT berfirman: فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا(maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya).

            Kata abâ berarti enggan untuk menerima tawaran tersebut. Hanya saja, sikap itu bukan didasarkan oleh sikap takabbur sebagaimana Iblis ketika menolak bersujud kepada Adam. Sebaliknya, sikap tersebut justru disebabkan oleh sikap merasa dirinya rendah dan lemah. Kesimpulan ini dikukuhkan dengan frasa sesudahnya: وَأَشْفَقْنَ مِنْهَاArtinya, sebagaimana dijelaskan al-Baghawi dalam tafsirnya, mereka merasa takut tidak bisa menjalankan amanah tersebut sehingga mendapatkan hukuman karenanya. Ditegaskan juga oleh Abdurrahman al-Sa’di, penolakan semua benda tersebut disebabkan oleh ketakutan mereka tidak bisa memikul amanah. Bukan karena kemaksiatan terhadap Tuhan mereka dan tidak menginginkan pahala-Nya.

            Menurut Fakhruddin al-Razi, sekalipun ketiga benda tersebut kuat, akan tetapi amanah Allah SWT melebihi kekuatan mereka. Abu Hayyan al-Andalusi juga mengatakan, tawaran amanah kepada sejumlah benda tersebut memberikan makna ta’zhîm[an] (pengagungan) terhadap perkara taklif.

 

Sikap ketiga benda tersebut bertolak belakang dengan sikap manusia. Allah SWT berfirman: وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ, (dan dipikullah amanah itu oleh manusia). Kata al-insân menunjuk Adam as dan keturunannya. Demikian penjelasan al-Jazairi. Secara fisik, manusia jelas jauh lebih kecil dan lebih lemah dari semua makhluk tersebut. Allah SWT berfirman: Dan manusia dijadikan bersifat lemah (TQS al-Nisa’ [4]: 28). Akan tetapi, manusia bersedia menerima tawaran tersebut.

            Kemudian disebutkan: إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا(sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh). Kata ظَلُومًاberarti katsîr al-zhulm li nafsihi (banyak menzalimi dirinya sendiri). Sedangkan jahûl[an] artinya bodoh terhadap akibat.

 

Balasan bagi Kaum Munafik, Musyrik, dan Mukmin

Setelah diberitakan tentang sikap manusia yang mau menerima tawaran amanah, kemudian diberitakan mengenai tentang konsekuensi atas sikap tersebut. Allah SWT berfirman: لِيُعَذِّبَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ   (sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan). Orang munafik adalah orang yang menampakkan keimanan karena takut kepada kaum Mukmin dan menyembunyikan kekufurannya untuk mengikuti kaum kafir. Sedangkan orang musyrik adalah orang yang lahir dan batinnya menyekutukan Allah dan menyelesihi rasul-Nya. Demikian penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Terhadap semua orang kafir tersebut, baik berusaha menyembunyikan kekufurannya maupun yang menunjukkannya secara terang-terangan, Allah SWT  menimpakan azab. Dikatakan Muqatil, mereka diazab karena telah mengkhianati amanah dan melanggar perjanjian.

Selanjutnya Allah SWT berfirman: وَيَتُوبَ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ (dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan). Jika orang munafik dan musyrik adalah orang-orang yang mengkhianati amanah, maka orang Mukmin bersikap sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang berupaya menjaga, memelihara, dan menunaikan amanah tersebut. Terhadap mereka Allah SWT berjanji untuk memberikan ampunan. Artinya, sebagaimana dijelaskan al-Syaukani, mereka kembali kepada Tuhannya dengan mendapatkan ampunan dan rahmat apabila melalaikan terhadap sebagian ketaatan. Oleh karena itu, disebutkan dengan lafadz al-tawbah. Ini menunjukkan bahwa orang Mukmin yang bermaksiat kemudian bertobat akan terlepas dari azab.

Kemudian diakhiri dengan firman-Nya: Wa kânal-Lâh Ghafûr[an] Rahîm[an]وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيمًا (dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Dalam ayat sebelumnya disebutkan dua sifat manusia, yakni: al-zhalûm dan al-jahûl. Kemudian dalam ayat ini disebutkan dua sifat Allah SWT, yakni: Ghafûr dan Rahîm. Artinya, Ghafûr li al-zhalûm (Maha Mengampuni orang zalim) dan Rahîm ‘alâ al-jahûl (Maha Penyayang terhadap orang bodoh). Hal itu disebabkan karena telah Allah SWT berjanji kepada hamba-Nya untuk mengampuni semua kezaliman kecuali kezaliman yang besar, yakni syirik sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (TQS Luqman [31]: 13). Mengenai janji ampunan disebutkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya(TQS al-Nisa’ [4]: 48).

Sedangkan al-rahmah (kasih sayang) terhadap orang bodoh karena sesungguhnya kebodohan merupakan tempat yang layak bagi rahmat. Oleh karena itu, orang yang berbuat salah meminta maaf dengan perkataan, “Saya tidak tahu.”    

Demikianlah. Syariah yang dibebankan kepada kita harus dijalankan secara totalitas. Tidak boleh ada yang ditelantarkan dan disia-siakan. Ancaman azab bagi orang orang-orang munafik dan musyrik -orang-orang yang menolak dan mengingkari syariah– harus membuat kita takut untuk melakukan tindakan serupa.  Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Fiqih Qurban, Oleh: Tim Dakwatuna

dakwatuna.com - Berqurban merupakan bagian dari Syariat Islam yang sudah ada semenjak manusia ada. Ketika putra-putra nabi Adam AS diperintahkan berqurban. Maka Allah SWT menerima qurban yang baik dan diiringi ketakwaan dan menolak qurban yang buruk. Allah SWT berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa” (QS Al-Maaidah 27).

Qurban lain yang diceritakan dalam Al-Qur’an adalah qurban keluarga Ibrahim AS, saat beliau diperintahkan Allah SWT untuk mengurbankan anaknya, Ismail AS. Disebutkan dalam surat As-Shaaffaat 102: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Kemudian qurban ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai bagian dari Syariah Islam, syiar dan ibadah kepada Allah SWT sebagai rasa syukur atas nikmat kehidupan.

Disyariatkannya Qurban

Disyariatkannya qurban sebagai simbol pengorbanan hamba kepada Allah SWT, bentuk ketaatan kepada-Nya dan rasa syukur atas nikmat kehidupan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Hubungan rasa syukur atas nikmat kehidupan dengan berqurban yang berarti menyembelih binatang dapat dilihat dari dua sisi.

Pertama, bahwa penyembelihan binatang tersebut merupakan sarana memperluas hubungan baik terhadap kerabat, tetangga, tamu dan saudara sesama muslim. Semua itu merupakan fenomena kegembiraan dan rasa syukur atas nikmat Allah SWT kepada manusia, dan inilah bentuk pengungkapan nikmat yang dianjurkan dalam Islam:

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (QS Ad-Dhuhaa 11).

Kedua, sebagai bentuk pembenaran terhadap apa yang datang dari Allah SWT. Allah menciptakan binatang ternak itu adalah nikmat yang diperuntukkan bagi manusia, dan Allah mengizinkan manusia untuk menyembelih binatang ternak tersebut sebagai makanan bagi mereka. Bahkan penyembelihan ini merupakan salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Berqurban merupakan ibadah yang paling dicintai Allah SWT di hari Nahr, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dari ‘Aisyah RA. bahwa Nabi SAW bersabda:

“Tidaklah anak Adam beramal di hari Nahr yang paling dicintai Allah melebihi menumpahkan darah (berqurban). Qurban itu akan datang di hari Kiamat dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya darah akan cepat sampai di suatu tempat sebelum darah tersebut menetes ke bumi. Maka perbaikilah jiwa dengan berqurban”.

Definisi Qurban

Kata qurban yang kita pahami, berasal dari bahasa Arab, artinya pendekatan diri, sedangkan maksudnya adalah menyembelih binatang ternak sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah. Arti ini dikenal dalam istilah Islam sebagai udhiyah. Udhiyah secara bahasa mengandung dua pengertian, yaitu kambing yang disembelih waktu Dhuha dan seterusnya, dan kambing yang disembelih di hari ‘Idul Adha. Adapun makna secara istilah, yaitu binatang ternak yang disembelih di hari-hari Nahr dengan niat mendekatkan diri (taqarruban) kepada Allah dengan syarat-syarat tertentu (Syarh Minhaj).

Hukum Qurban

Hukum qurban menurut jumhur ulama adalah sunnah muaqqadah sedang menurut mazhab Abu Hanifah adalah wajib. Allah SWT berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ2

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (QS Al-Kautsaar: 2).

Rasulullah SAW bersabda:

من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا

“Siapa yang memiliki kelapangan dan tidak berqurban, maka jangan dekati tempat shalat kami” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Dalam hadits lain: “Jika kalian melihat awal bulan Zulhijah, dan seseorang di antara kalian hendak berqurban, maka tahanlah rambut dan kukunya (jangan digunting)” (HR Muslim).

Bagi seorang muslim atau keluarga muslim yang mampu dan memiliki kemudahan, dia sangat dianjurkan untuk berqurban. Jika tidak melakukannya, menurut pendapat Abu Hanifah, ia berdosa. Dan menurut pendapat jumhur ulama dia tidak mendapatkan keutamaan pahala sunnah.

Binatang yang Boleh Diqurbankan

Adapun binatang yang boleh digunakan untuk berqurban adalah binatang ternak (Al-An’aam), unta, sapi dan kambing, jantan atau betina. Sedangkan binatang selain itu seperti burung, ayam dll tidak boleh dijadikan binatang qurban. Allah SWT berfirman:

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka” (QS Al-Hajj 34).

Kambing untuk satu orang, boleh juga untuk satu keluarga. Karena Rasulullah SAW menyembelih dua kambing, satu untuk beliau dan keluarganya dan satu lagi untuk beliau dan umatnya. Sedangkan unta dan sapi dapat digunakan untuk tujuh orang, baik dalam satu keluarga atau tidak, sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:

عن جابرٍ بن عبد الله قال: نحرنا مع رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسَلَّم بالحُديبيةِ البدنةَ عن سبعةٍ والبقرةَ عن سبعةٍ

Dari Jabir bin Abdullah, berkata “Kami berqurban bersama Rasulullah SAW di tahun Hudaibiyah, unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang” (HR Muslim).

Binatang yang akan diqurbankan hendaknya yang paling baik, cukup umur dan tidak boleh cacat. Rasulullah SAW bersabda:

“Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban: 1. Cacat matanya, 2. sakit, 3. pincang dan 4. kurus yang tidak berlemak lagi “ (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits lain:

“Janganlah kamu menyembelih binatang ternak untuk qurban kecuali musinnah (telah ganti gigi, kupak). Jika sukar didapati, maka boleh jadz’ah (berumur 1 tahun lebih) dari domba.” (HR Muslim).

Musinnah adalah jika pada unta sudah berumur 5 tahun, sapi umur dua tahun dan kambing umur 1 tahun, domba dari 6 bulan sampai 1 tahun. Dibolehkan berqurban dengan hewan kurban yang mandul, bahkan Rasulullah SAW berqurban dengan dua domba yang mandul. Dan biasanya dagingnya lebih enak dan lebih gemuk.

Pembagian Daging Qurban

Orang yang berqurban boleh makan sebagian daging qurban, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi`ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS Al-Hajj 36).

Hadits Rasulullah SAW:

“Jika di antara kalian berqurban, maka makanlah sebagian qurbannya” (HR Ahmad).

Bahkan dalam hal pembagian disunnahkan dibagi tiga. Sepertiga untuk dimakan dirinya dan keluarganya, sepertiga untuk tetangga dan teman, sepertiga yang lainnya untuk fakir miskin dan orang yang minta-minta. Disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas menerangkan qurban Rasulullah SAW bersabda:

“Sepertiga untuk memberi makan keluarganya, sepertiga untuk para tetangga yang fakir miskin dan sepertiga untuk disedekahkan kepada yang meminta-minta” (HR Abu Musa Al-Asfahani).

Tetapi orang yang berkurban karena nadzar, maka menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, orang tersebut tidak boleh makan daging qurban sedikitpun dan tidak boleh memanfaatkannya.

Waktu Penyembelihan Qurban

Waktu penyembelihan hewan qurban yang paling utama adalah hari Nahr, yaitu Raya ‘Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijah setelah melaksanakan shalat ‘Idul Adha bagi yang melaksanakannya. Adapun bagi yang tidak melaksanakan shalat ‘Idul Adha seperti jamaah haji dapat dilakukan setelah terbit matahari di hari Nahr. Adapun hari penyembelihan menurut Jumhur ulama, yaitu madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali berpendapat bahwa hari penyembelihan adalah tiga hari, yaitu hari raya Nahr dan dua hari Tasyrik, yang diakhiri dengan tenggelamnya matahari. Pendapat ini mengambil alasan bahwa Umar RA, Ali RA, Abu Hurairah RA, Anas RA, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar RA mengabarkan bahwa hari-hari penyembelihan adalah tiga hari. Dan penetapan waktu yang mereka lakukan tidak mungkin hasil ijtihad mereka sendiri tetapi mereka mendengar dari Rasulullah SAW (Mughni Ibnu Qudamah 11/114).

Sedangkan mazhab Syafi’i dan sebagian mazhab Hambali juga diikuti oleh Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa hari penyembelihan adalah 4 hari, Hari Raya ‘Idul Adha dan 3 Hari Tasyrik. Berakhirnya hari Tasyrik dengan ditandai tenggelamnya matahari. Pendapat ini mengikuti alasan hadits, sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW:

“Semua hari Tasyrik adalah hari penyembelihan” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban). Berkata Al-Haitsami:” Hadits ini para perawinya kuat”. Dengan adanya hadits shahih ini, maka pendapat yang kuat adalah pendapat mazhab Syafi’i.

Tata Cara Penyembelihan Qurban

Berqurban sebagaimana definisi di atas yaitu menyembelih hewan qurban, sehingga menurut jumhur ulama tidak boleh atau tidak sah berqurban hanya dengan memberikan uangnya saja kepada fakir miskin seharga hewan qurban tersebut, tanpa ada penyembelihan hewan qurban. Karena maksud berqurban adalah adanya penyembelihan hewan qurban kemudian dagingnya dibagikan kepada fakir miskin. Dan menurut jumhur ulama yaitu mazhab Imam Malik, Ahmad dan lainnya, bahwa berqurban dengan menyembelih kambing jauh lebih utama dari sedekah dengan nilainya. Dan jika berqurban dibolehkan dengan membayar harganya akan berdampak pada hilangnya ibadah qurban yang disyariatkan Islam tersebut. Adapun jika seseorang berqurban, sedangkan hewan qurban dan penyembelihannya dilakukan ditempat lain, maka itu adalah masalah teknis yang dibolehkan. Dan bagi yang berqurban, jika tidak bisa menyembelih sendiri diutamakan untuk menyaksikan penyembelihan tersebut, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Abbas RA:

“Hadirlah ketika kalian menyembelih qurban, karena Allah akan mengampuni kalian dari mulai awal darah keluar”.

Ketika seorang muslim hendak menyembelih hewan qurban, maka bacalah: “Bismillahi Wallahu Akbar, ya Allah ini qurban si Fulan (sebut namanya), sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW:

“Bismillahi Wallahu Akbar, ya Allah ini qurban dariku dan orang yang belum berqurban dari umatku” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Bacaan boleh ditambah sebagaimana Rasulullah SAW memerintahkan pada Fatimah AS:

“Wahai Fatimah, bangkit dan saksikanlah penyembelihan qurbanmu, karena sesungguhnya Allah mengampunimu setiap dosa yang dilakukan dari awal tetesan darah qurban, dan katakanlah:” Sesungguhnya shalatku, ibadah (qurban) ku, hidupku dan matiku lillahi rabbil ‘alamiin, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan oleh karena itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang yang paling awal berserah diri” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Berqurban dengan Cara Patungan

Qurban dengan cara patungan, disebutkan dalam hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari:

“Seseorang di masa Rasulullah SAW berqurban dengan satu kambing untuk dirinya dan keluarganya. Mereka semua makan, sehingga manusia membanggakannya dan melakukan apa yang ia lakukan” (HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

Berkata Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’ad:

“Di antara sunnah Rasulullah SAW bahwa qurban kambing boleh untuk seorang dan keluarganya walaupun jumlah mereka banyak sebagaimana hadits Atha bin Yasar dari Abu Ayyub Al-Anshari. Disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.

عن أبي الأسود السلمي، عن أبيه، عن جده قال: كنت سابع سبعة مع رسول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- في سفره، فأدركنا الأضحى. فأمرنا رسول الله -صلَّى الله عليه وسلم-، فجمع كل رجل منا درهما، فاشترينا أضحية بسبعة دراهم. وقلنا: يا رسول الله، لقد غلينا بها. فقال: (إن أفضل الضحايا أغلاها، وأسمنها) قال: ثم أمرنا رسول الله -صلَّى الله عليه وسلم-، فأخذ رجل برِجل، ورجل برِجل، ورجل بيد، ورجل بيد، ورجل بقرن، ورجل بقرن، وذبح السابع، وكبروا عليها جميعا.

Dari Abul Aswad As-Sulami dari ayahnya, dari kakeknya, berkata: Saat itu kami bertujuh bersama Rasulullah saw, dalam suatu safar, dan kami mendapati hari Raya ‘Idul Adha. Maka Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk mengumpulkan uang setiap orang satu dirham. Kemudian kami membeli kambing seharga 7 dirham. Kami berkata:” Wahai Rasulullah SAW harganya mahal bagi kami”. Rasulullah SAW bersabda:” Sesungguhnya yang paling utama dari qurban adalah yang paling mahal dan paling gemuk”. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan pada kami. Masing-masing orang memegang 4 kaki dan dua tanduk sedang yang ketujuh menyembelihnya, kemudian kami semuanya bertakbir” (HR Ahmad dan Al-Hakim).

Dan berkata Ibnul Qoyyim dalam kitabnya ‘Ilamul Muaqi’in setelah mengemukakan hadits tersebut: “Mereka diposisikan sebagai satu keluarga dalam bolehnya menyembelih satu kambing bagi mereka. Karena mereka adalah sahabat akrab. Oleh karena itu sebagai sebuah pembelajaran dapat saja beberapa orang membeli seekor kambing kemudian disembelih. Sebagaimana anak-anak sekolah dengan dikoordinir oleh sekolahnya membeli hewan qurban kambing atau sapi kemudian diqurbankan. Dalam hadits lain diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu Abbas, datang pada Rasulullah SAW seorang lelaki dan berkata:

“Saya berkewajiban qurban unta, sedang saya dalam keadaan sulit dan tidak mampu membelinya”. Maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk membeli tujuh ekor kambing kemudian disembelih”.

Hukum Menjual Bagian Qurban

Orang yang berqurban tidak boleh menjual sedikitpun hal-hal yang terkait dengan hewan qurban seperti, kulit, daging, susu dll dengan uang yang menyebabkan hilangnya manfaat barang tersebut. Jumhur ulama menyatakan hukumnya makruh mendekati haram, sesuai dengan hadits:

“Siapa yang menjual kulit hewan qurban, maka dia tidak berqurban” (HR Hakim dan Baihaqi).

Kecuali dihadiahkan kepada fakir-miskin, atau dimanfaatkan maka dibolehkan. Menurut mazhab Hanafi kulit hewan qurban boleh dijual dan uangnya disedekahkan. Kemudian uang tersebut dibelikan pada sesuatu yang bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga.

Hukum Memberi Upah Tukang Jagal Qurban

Sesuatu yang dianggap makruh mendekati haram juga memberi upah tukang jagal dari hewan qurban. Sesuai dengan hadits dari Ali RA:

“Rasulullah SAW memerintahkanku untuk menjadi panitia qurban (unta) dan membagikan kulit dan dagingnya. Dan memerintahkan kepadaku untuk tidak memberi tukang jagal sedikitpun”. Ali berkata:” Kami memberi dari uang kami” (HR Bukhari).

Hukum Berqurban Atas Nama Orang yang Meninggal

Berqurban atas nama orang yang meninggal jika orang yang meninggal tersebut berwasiat atau wakaf, maka para ulama sepakat membolehkan. Jika dalam bentuk nadzar, maka ahli waris berkewajiban melaksanakannya. Tetapi jika tanpa wasiat dan keluarganya ingin melakukan dengan hartanya sendiri, maka menurut jumhur ulama seperti mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali membolehkannya. Sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah SAW, beliau menyembelih dua kambing yang pertama untuk dirinya dan yang kedua untuk orang yang belum berqurban dari umatnya. Orang yang belum berqurban berarti yang masih hidup dan yang sudah mati. Sedangkan mazhab Syafi’i tidak membolehkannya. Anehnya, mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti pendapat jumhur ulama, padahal mereka mengaku pengikut mazhab Syafi’i.

Kategori Penyembelihan

Amal yang terkait dengan penyembelihan dapat dikategorikan menjadi empat bagian. Pertama, hadyu; kedua, udhiyah sebagaimana diterangkan di atas; ketiga, aqiqah; keempat, penyembelihan biasa. Hadyu adalah binatang ternak yang disembelih di Tanah Haram di hari-hari Nahr karena melaksanakan haji Tamattu dan Qiran, atau meninggalkan di antara kewajiban atau melakukan hal-hal yang diharamkan, baik dalam haji atau umrah, atau hanya sekedar pendekatan diri kepada Allah SWT sebagai ibadah sunnah. Aqiqah adalah kambing yang disembelih terkait dengan kelahiran anak pada hari ketujuh sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah. Jika yang lahir lelaki disunnahkan 2 ekor dan jika perempuan satu ekor.

Sedangkan selain bentuk ibadah di atas, masuk ke dalam penyembelihan biasa untuk dimakan, disedekahkan atau untuk dijual, seperti seorang yang melakukan akad nikah. Kemudian dirayakan dengan walimah menyembelih kambing. Seorang yang sukses dalam pendidikan atau karirnya kemudian menyembelih binatang sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dll. Jika terjadi penyembelihan binatang ternak dikaitkan dengan waktu tertentu, upacara tertentu dan keyakinan tertentu maka dapat digolongkan pada hal yang bid’ah, sebagaimana yang terjadi di beberapa daerah. Apalagi jika penyembelihan itu tujuannya untuk syetan atau Tuhan selain Allah maka ini adalah jelas-jelas sebuah bentuk kemusyrikan.

Penutup

Sesuatu yang perlu diperhatikan bagi umat Islam adalah bahwa berqurban (udhiyah), qurban (taqarrub) dan berkorban (tadhiyah), ketiganya memiliki titik persamaan dan perbedaan. Qurban (taqarrub), yaitu upaya seorang muslim melakukan pendekatan diri kepada Allah dengan amal ibadah baik yang diwajibkan maupun yang disunnahkan. Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya Allah berfirman (dalam hadits Qudsi): “Siapa yang memerangi kekasih-Ku, niscaya aku telah umumkan perang padanya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku (taqarrub) dengan sesuatu yang paling Aku cintai, dengan sesuatu yang aku wajibkan. Dan jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang sunnah, maka Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya dimana ia mendengar, menjadi penglihatannya dimana ia melihat, tangannya dimana ia memukul dan kakinya, dimana ia berjalan. Jika ia meminta, niscaya Aku beri dan jika ia minta perlindungan, maka Aku lindungi” (HR Bukhari).

Berqurban (udhiyah) adalah salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah dengan mengorbankan sebagian kecil hartanya, untuk dibelikan binatang ternak. Menyembelih binatang tersebut dengan persyaratan yang sudah ditentukan. Sedangkan berkorban (tadhiyah) mempunyai arti yang lebih luas yaitu berkorban dengan harta, jiwa, pikiran dan apa saja untuk tegaknya Islam. Dalam suasana dimana umat Islam di Indonesia sedang terkena musibah banjir, dan mereka banyak yang menjadi korban. Maka musibah ini harus menjadi pelajaran berarti bagi umat Islam. Apakah musibah ini disebabkan karena mereka menjauhi Allah SWT dan menjauhi ajaran-Nya? Yang pasti, musibah ini harus lebih mendekatkan umat Islam kepada Allah (taqqarub ilallah). Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan yang tidak tertimpa musibah banjir ini dituntut untuk memberikan kepeduliannya dengan cara berkorban dan memberikan bantuan kepada mereka yang terkena musibah. Dan di antara bentuk pendekatan diri kepada Allah dan bentuk pengorbanan kita dengan melakukan qurban penyembelihan sapi dan kambing pada hari Raya ‘Idul Adha dan Hari Tasyrik. Semoga Allah menerima qurban kita dan meringankan musibah ini, dan yang lebih penting lagi menyelamatkan kita dari api neraka.

Be Yourself? Oleh: Nur Afilin

dakwatuna.com - “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Dunia muda amat akrab dengan slogan, moto, semboyan, dan sejenisnya. Salah satu slogan yang marak di masyarakat ialah “be yourself”. Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia: Jadilah dirimu sendiri! Sekilas tak ada yang salah dengan kalimat imperatif ini. Tapi, ketika ditelisik lebih lanjut, slogan tersebut bak mata uang logam dengan dua sisi yang berbeda. Bisa berdampak positif, namun bisa juga berakibat sangat negatif.

Be Yourself

Setiap orang memiliki karakter masing-masing. Dengan karakter itulah seseorang akan berperilaku dalam kehidupan sehari-harinya. Termasuk dalam karakter di sini ialah sikap manusiawi yang sudah menjadi kebiasaan dan kecenderungan menggeluti bidang tertentu.

Tentu tak bijak jika kita memaksa teman kita, misalnya, yang memiliki sifat amat pemalu untuk maju ke depan kelas secara tiba-tiba untuk memimpin rapat kelas. Walhasil, si dia akhirnya menjadi bahan tertawaan lantaran diam mematung dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata di depan kelas. Tentu itu bukan salah dia. Belum biasanya dia berbicara di depan forum dan sifat pemalunya perlu kita hargai saat itu. Cukup katakan padanya: be yourself.

Kasus macam ini memang hendaknya disikapi dengan mengembalikan independensi seseorang untuk tetap berada di posisinya. Kita tidak boleh memaksanya untuk menjadi apa yang kita minta. Jika kita merasa ia berada di posisi yang kurang baik dan kita sanggup menyampaikannya, maka hal itu lebih baik. Namun, tetap saja pilihan untuk berubah bukan di tangan kita. Begitu pula dengan kecenderungan seseorang dalam menggeluti suatu bidang tertentu, biarkan dia menjadi dirinya sendiri.

Don’t Be Yourself

Banyaknya tontonan yang bertransformasi menjadi tuntunan dewasa ini menjadi poin penting titik balik semboyan be yourself tadi. Percaya atau tidak, jika kita amati beberapa anak muda saat ini banyak yang berlindung di balik tameng semboyan itu demi eksistensi dirinya yang semu. Dalam hal ini saya sepakat dengan sebuah kaidah “There is nothing new on this earth” (tidak ada satu pun hal baru di dunia ini) atau kaidah lain yang semakna dengannya. Pun begitu dengan perilaku sebagian kaum muda tadi. Kalau kita teliti lebih seksama, fenomena copy-paste perilaku seorang terkenal atau pengaruh lingkungan pergaulan yang tidak sehat biasanya tersembunyi di balik motif be yourself  mereka. Artinya, potensi mengikuti hawa nafsu dengan balutan semboyan tersebut sebaiknya dihindari. Dengan kata lain, terhadap kasus ini ada baiknya kita katakan pada mereka: don’t be yourselves.

Islam Menjawab

Lalu, di mana batasan jelas antara boleh berlakunya semboyan itu? Berbicara mengenai ilmu pasti, tentu hanya Dzat yang Maha Mengetahui yang patut menjadi rujukan. Dalam hal ini, amat tepat jika kita coba memandang perkara ini kacamata Islam.

Coba kita renungkan sabda Rasulullah SAW berikut:

“Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu” (dalam Shahih Muslim no. 1366 bab: Wajib Mengikuti Perkataan Nabi SAW)

Rasulullah menetapkan kaidah di atas ketika menanggapi pertanyaan seputar hukumnya melakukan penyilangan serbuk sari kurma yang baru marak kala itu. Singkatnya, dalam urusan duniawi yang tidak diatur secara terperinci dalam syariat, kita dibolehkan berinovasi sesuai kapasitas keilmuan dan kecenderungan masing-masing. Namun, dalam melakukan inovasi ini pokok syariat yang sudah mapan pun tetap tidak boleh dilanggar. Maka, moto be yourself boleh dan penting untuk diterapkan pada kasus yang memang belum dijumpai aturannya dalam Islam.

Sebaliknya, suatu hari Rasulullah pun bersabda:

“Barangsiapa yang memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan menikah karena Allah, berarti telah sempurna imannya.” (At-Tirmidzi. Hadits hasan. Dari Muadz bin Anas al-Juhani) 

Banyak lagi beberapa hadits yang semakna dengan hadits di atas. Ayat-ayat dalam Al-Qur’an pun tak sedikit yang memerintahkan kita menetapi putusan Allah. Maka, sebaik-baik tindakan ialah kita mengikuti segala yang sudah Allah SWT dan Rasul-Nya tetapkan dengan gamblang. Termasuk dalam hal ini ialah cara berpakaian, pergaulan, berkomunikasi, dan lain-lain sudah sepantasnya kita lakukan ala Islam. Ketika seorang Muslimah diwajibkan menutup aurat dengan segala aturannya, maka hendaknya dia mematuhi. Ruang inovasi yang menabrak aturan syar’i sebaiknya dihindari seorang Muslimah dalam hal ini. Pun begitu dengan seorang Muslim laki-laki tidak boleh sembarangan membuat syariat versi dirinya dengan dalih be yourself.

Kita Tetap Merdeka

Keterikatan Muslim dengan aturan Islam (syariat) memang sudah menjadi konsekuensi logis. Bahkan, dari segi bahasa pun, keterikatan itu sudah nampak. Bukankah salah satu makna akar kata “Islam” ialah “berserah diri kepada Allah”?

Oleh karena itu, syubhat yang mengatakan bahwa seorang Muslim itu tidak merdeka ialah tidak tepat. Bagaimana bisa manusia yang hanya bergantung pada Dzat Yang Maha Berkuasa atas alam semesta dan seisinya dikatakan tidak merdeka? Amat wajar jika kita bergantung pada-Nya lantaran sejatinya memang kita tidak punya kekuatan apapun tanpa izin-Nya. Sebaliknya, kaum yang tidak merdeka ialah mereka yang mengaku penganut be yourself secara membabi buta. Bukankah ketika seseorang tidak dalam posisi kebaikan, maka secara otomatis ia tersandera dalam keburukan? Siapa lagi yang membisikkan keinginan mengikuti hawa nafsu yang tidak disinari dengan petunjuk Ilahi jika bukan setan dan kroni-kroninya? Alangkah tidak merdekanya seorang manusia jika selalu hidup di bawah tekanan nafsu syaithaniyyah yang tiada ujungnya.

Peduli Terhadap Perubahan Lingkungan Strategis

Oleh: Cahyadi Takariawan. Dinamika lingkungan strategis baik dalam skala internasional, regional maupun nasional dan lokal, selalu membawa implikasi –baik positif maupun negatif– yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap gerakan dakwah. Implikasi positif membawa manfaat dalam mendukung tercapainya tujuan dan kepentingan dakwah, sedangkan implikasi negatif berupa meningkatnya potensi ancaman bagi dakwah.

Situasi dan kecenderungan lingkungan strategis pada awal abad 21 sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan periode satu dekade terakhir dalam abad 20. Situasi politik internasional saat ini –selain masih diwarnai oleh permasalahan lama yang belum berhasil diatasi—menjadi semakin bertambah kompleks dengan hadirnya serangkaian masalah baru. Di samping itu, kecenderungan lingkungan strategis sulit diperkirakan karena ketidakteraturan dan ketidakstabilan semakin menjadi corak dominan[1].

Dinamika politik dan keamanan internasional semakin intens karena di bawah pengaruh fenomena globalisasi dan berbagai implikasinya, negara-negara di dunia dituntut untuk saling bekerja sama, namun pada sisi lain persaingan antarnegara dalam melindungi kepentingan nasional juga semakin meningkat. Interdependensi antarnegara semakin menguat, tetapi pada saat yang bersamaan kesenjangan power ekonomi dan militer semakin melebar karena agenda dan isu internasional masih dominan dipengaruhi oleh agenda dan kebijakan negara-negara maju.

Keseluruhan dinamika lingkungan strategis tersebut dipastikan memberikan dampak bagi aktivitas dakwah. Untuk itu, diperlukan telaah kecenderungan lingkungan strategis global, regional dan nasional, bagi proses perencanaan strategis dakwah dalam berbagai bidang. Ternyata, Al Qur’an telah memberikan arahan kepada kita untuk memiliki perhatian terhadap dinamika lingkungan strategis tersebut, sebagaimana tampak dalam rangkaian ayat-ayat berikut ini:

“Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui“ (QS. Ar Rum: 1 – 6).

Ayat-ayat di atas memberikan berbagai pelajaran Fiqih Dakwah yang sangat penting bagi kita, di antaranya adalah:

1.   Pentingnya perhatian dan kepedulian terhadap dinamika lingkungan strategis

Al Qur’an memberikan perhatian terhadap bangsa Rumawi, berikut kondisi-kondisi yang mereka hadapi. Ada kisah kekalahan Rumawi, namun sekaligus kisah kemenangan mereka. Hal ini memberikan pelajaran penting bagi gerakan dakwah, agar selalu memiliki perhatian dan kepedulian terhadap dinamika lingkungan strategis yang ada di sekitarnya.

Gerakan dakwah harus selalu mengikuti perkembangan kondisi negara dan bangsa di sekitarnya, karena dalam situasi global seperti sekarang ini semua pihak saling memberikan pengaruh. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita sudah memasuki masa di mana semua serba terhubung dengan sangat mudah. Teknologi informasi dan komunikasi telah membuat dunia terhubung dan terjalin, semua bisa tampak dan transparan. Maka siapa yang lebih peka dan cermat, ia yang akan menang dalam mengambil informasi yang diperlukan.

Gerakan dakwah selalu diamati dan dicermati oleh negara-negara yang memiliki kepentingan atasnya, maka gerakan dakwah pun harus selalu mencermati perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan berbagai negara. Dengan demikian dakwah akan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dan dinamika yang terjadi, sebatas keperluan yang harus dilakukan.

2.   Kepedulian dakwah bukan terbatas pada komunitas Islam, namun terhadap seluruh komunitas yang ada di dunia

Sebagaimana diketahui, bangsa Rumawi bukan muslim. Namun Al Qur’an memberikan perhatian terhadap bangsa Rumawi. Dalam suasana tidak memiliki sarana komunikasi dan informasi yang memadai, Nabi Saw memiliki perhatian terhadap perkembangan yang ada di bangsa Rumawi. Hal ini menandakan, kepedulian beliau tidak terbatas kepada komunitas Islam saja, namun beliau memberikan kepedulian terhadap berbagai komunitas yang ada.

Bentuk kepedulian itu tampak dalam ungkapan ayat, “Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah”. Orang-orang beriman ikut merasakan kegembiraan pada saat terjadinya kemenangan bangsa Rumawi. Ini menandakan adanya bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa lain yang berpengaruh terhadap perkembangan dakwah, walaupun mereka bukan Islam.

Untuk itulah, gerakan dakwah harus memberikan perhatian, kepedulian, dan suara terhadap berbagai peristiwa di dunia yang berupa kezhaliman, ketidakadilan, penjajahan, penindasan dan lain sebagainya. Di manapun kezhaliman terjadi, di situlah gerakan dakwah harus ikut terlibat memberikan solusi, walaupun hanya melalui dukungan media ataupun dukungan politik.

3.   Aktivis dakwah harus selalu peka dan cermat terhadap perkembangan lingkungan strategis

Setiap aktivis dakwah harus memiliki kepekaan terhadap perkembangan lingkungan strategis. Untuk itu aktivis dakwah tidak boleh asing dengan teknologi informasi dan komunikasi. Berbagai berita dunia, lingkup regional Asia, maupun nasional Indonesia dan perkembangan lokal di daerah masing-masing, harus selalu diikuti dengan cermat. Berbagai peristiwa dan kejadian yang ada di berbagai belahan dunia dan di sekitarnya, harus selalu mendapatkan perhatian.

Dinamika lingkungan strategis kemudian dianalisa bersama, karena satu kejadian atau peristiwa bisa dimaknai dengan berbagai cara, tergantung metode analisa yang digunakannya. Untuk itu setelah pengumpulan data dan fakta terhadap realitas perubahan lingkungan, segera dilakukan studi dan analisa untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat perencanaan dan pengamanan dakwah.

4.   Pentingnya analisis kecenderungan perubahan lingkungan bagi kepentingan dakwah

Ungkapan ayat di atas menandakan pentingnya suatu analisa dan studi terhadap berbagai perkembangan dan dinamika lingkungan strategis. “Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi)”.

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang memiliki modal sangat besar, baik sumber daya alam, letak geografis yang strategis, struktur demografis penduduk, sumber daya kultural yang beragam dan kuat, dan sumber daya manusia yang memiliki potensi dan kreativitas yang sangat lengkap. Demografi Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras dan golongan, dengan penduduk berjumlah 237.556.363 orang [2]. Secara kuantitas dan kualitas, penduduk Indonesia merupakan sumber daya potensial yang dapat diberdayakan dalam berbagai strata dan profesi.

Sumber kekayaan alam Indonesia sangat lengkap, memiliki keragaman hayati, nabati dan mineral. Luas laut yang mendominasi dua pertiga wilayah Indonesia memiliki kandungan yang tak ternilai bagi kemakmuran bangsa. Ini semua tentu akan menjadi perhatian negara-negara maju yang berkepentingan terhadap wilayah Indonesia. Melihat itu semua, pastilah semua bangsa mengakui bahwa Indonesia itu penting bagi dunia.

Untuk itu, sangat penting melakukan analisis kecenderungan perubahan lingkungan strategis yang akan memberikan dampak langsung bagi aktivitas dakwah. Gerakan dakwah tidak boleh membiarkan terjadinya konspirasi berbagai negara yang bermaksud mengeruk kekayaan alam Indonesia yang luar biasa banyak dan lengkapnya. Tugas dakwah untuk selalu menjaga keutuhan wilayah NKRI beserta seluruh kekayaan yang ada di dalamnya, guna kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Wallahu a’lam.