Artikel Tentang Penulis

Musibah

dakwatuna.com - Oleh Ahmad Mulyono.

Musibah, setiap kita pasti ingin menghindar darinya. Namun apalah daya, musibah adalah sesuatu yang niscaya, dan setiap kita pasti akan mendapatinya, sebagai ujian dari Allah, siapakah di antara kita yang beriman dengan benar dan siapakah di antara kita yang dusta?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan adalah ragam musibah yang akan ditimpakan Allah kepada manusia (Al-Baqarah: 155).

Yang dimaksud dengan kekurangan harta adalah lenyapnya sebagian harta. Musibah yang menimpa jiwa maksudnya adalah meninggalnya keluarga, kaum kerabat, teman, serta kasih-kekasih. Musibah yang ditimpakan Allah terkait dengan buah-buahan (ats-tsamarat) maksudnya ialah kebun dan lahan pertanian tanamannya tidak menghasilkan buahnya sebagaimana kebiasaannya, entah ia gagal panen ataupun menurun produksinya. Sedangkan musibah yang ditimpakan oleh Allah berupa ketakutan dan kelaparan maksudnya adalah Allah menimpakan kepada manusia kesengsaraan berupa rasa takut dan rasa lapar. Demikianlah yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya.

Berbagai musibah yang telah disebutkan di atas, suatu saat pasti akan datang menghampiri kita semua, dan tidak ada satu pun dari kita yang bisa menolak kedatangan musibah tersebut, karena hal itu sudah menjadi suatu ketetapan yang datangnya dari Allah, Tuhan Yang Maha Berkehendak. Kita sebagai manusia hanya bisa menerima ketetapan tersebut, dan menyikapinya dengan cara yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Di antara sikap yang harus kita lakukan ketika musibah datang menimpa antara lain adalah:

Pertama, Menanamkan keyakinan bahwa musibah yang sedang dihadapi adalah kehendak Allah SWT

Allah SWT berfirman “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

Terkait ayat di atas, Imam Ibnu Katsir memberikan penjelasannya bahwa seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah Ta’ala tersebut, maka Allah Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allah Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”

Kita juga diajarkan oleh Allah SWT untuk mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un (Sesungguhnya kami milik adalah milik Allah dan Sesungguhnya hanya kepada-Nya lah kami kembali” ketika kita ditimpa musibah. Ini adalah bentuk pengajaran yang menyuruh kita untuk merenungi posisi kita sebagai makhluk, dan Allah sebagai Al-Khaliq. Semua eksistensi diri kita dan apa yang ada pada diri kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Karena itu, kita hanya bisa memasrahkan diri kepada-Nya, meminta perlindungan kepada-Nya, karena Dia lah yang memiliki kehendak atas diri kita.

Kedua, Bersabar

Sikap selanjutnya yang harus dilakukan oleh setiap kita ketika ditimpa musibah adalah bersabar. Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa sabar itu merupakan pengakuan seorang hamba kepada Allah atas apa yang menimpanya, dan ia jalani hal ini dengan penuh ketabahan karena mengharapkan pahala yang ada di sisi-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah ayat 153)

Barangsiapa mengira bahwa jalan menuju iman itu ditaburi semerbak wewangian, dihampiri permadani merah yang anggun maka sesungguhnya ia tidak mengerti sunnatullah dalam beriman kepada Allah. Musibah, ia adalah sunnatullah dalam beriman kepada Allah.

Allah telah menyiapkan surga bagi orang-orang yang beriman, dan mereka bisa menikmati surga tersebut yaitu salah satunya adalah dengan bersabar dalam menghadapi musibah yang menimpa harta benda, jasmani, dan goncangan-goncangan jiwa dan batin.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan dengan berbagai macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah”. Ingatlah! Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (Al-Baqarah: 214)

Dan jalan memperoleh pertolongan Allah adalah dengan sabar dan shalat (Al-Baqarah: 153)

Ketiga, Memperbanyak Shalat

Selain bersabar, sikap yang harus kita lakukan ketika ditimpa musibah adalah memperbanyak Shalat, menjalin hubungan vertikal kepada Allah secara lebih intens.

Ustadz Sayyid Quthb menjelaskan “Sesungguhnya shalat adalah hubungan dan pertemuan antara hamba dan Tuhan. Ia adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Hubungan yang memberikan kekuatan kepada hati, menumbuhkan rasa dekat kepada ruh dan memasok jiwa dengan bekal yang lebih berharga ketimbang segala perhiasan dunia. Oleh sebab itu, bila dalam keadaan berat, Rasulullah bersabda “Istirahatkan kami dengan shalat wahai Bilal”. Rasulullah juga memperbanyak shalat apabila menghadapi perkara yang memberatkan, agar sering berjumpa dengan Allah SWT.” (Tafsir Fii Zhilalil Qur’an: Al-Baqarah ayat 153)

Begitulah sikap Rasulullah ketika ditimpa ujian, memperbanyak shalat agar sering berjumpa dengan Allah. Padahal kita tahu bahwa Beliau adalah orang yang sangat erat hubungannya dengan Tuhan dan sangat akrab dengan wahyu dan ilham.

Keempat, Memperbanyak Tilawah Al-Qur’an

Orang yang tertimpa musibah akan merasakan kekecewaan, kesedihan, dan segala rasa yang akan mengguncangkan hatinya. Karena itu, dibutuhkan upaya agar keguncangan tersebut bisa mereda, agar nafsu ammaroh tidak muncul sehingga membawanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang tidak diridhai oleh Allah SWT. Salah satu cara jitu yang bisa meredakan keguncangan dalam hati ketika kita ditimpa musibah adalah dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Ar-Ra’d: 28)

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan siapakah orang yang mendapat tuntunan-Nya itu? Mereka ialah orang-orang beriman, yang di mana hati mereka merasa tenteram karena senantiasa mengingat Allah. Ingatlah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram dan jiwa menjadi tenang, tidak merasa gelisah dan merasa takut atau pun khawatir.

Salah satu bentuk dzikir (mengingat Allah) yang paling baik adalah dengan tilawah Al-Qur’an. Sebab Adz-Dikir adalah salah satu nama Al-Qur’an, yang dengannya kita bisa memperoleh hidayah, rahmat dan obat yang dapat menyembuhkan hati kita.

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

Kelima, Berdoa

Terakhir, kita harus banyak berdoa kepada Allah SWT. Karena doa adalah senjata pamungkas kita sebagai mukmin dalam menghadapi semua ujian kehidupan serta agar memperoleh kebaikan dari Allah SWT. Doa menjadi inti dari setiap ibadah yang kita lakukan

“Doa adalah pangkal (otak-)nya Ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Serta ia adalah perbuatan mulia yang harus menjadi bagian dari diri kita

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain daripada doa.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Kita memohon semoga Allah memberikan kesabaran serta menolong kita agar bisa melewati musibah yang sedang diujikan-Nya dengan sikap yang benar, yang memperoleh ridha-Nya.

Demikianlah penjelasan yang bisa saya sampaikan terkait bagaimana sikap kita dalam menghadapi setiap musibah yang datang dari Allah. Semoga dengan mengambil sikap yang benar, kita dicatat oleh Allah sebagai orang yang beriman kepada-Nya dengan keimanan yang benar. Wallahu A’lam.

Puasa Di Awal Dzulhijjah

Di antara keutamaan yang Allah berikan pada kita adalah Allah menjadikan awal Dzulhijjah sebagai waktu utama untuk beramal sholih terutama melakukan amalan puasa. Lebih-lebih lagi puasa yang utama adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.

Pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa selain pada hari Nahr (Idul Adha). Karena hari tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa. Para salaf biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal. Tentang hal ini para ulama generasi awal tidaklah berselisih pendapat mengenai sunnahnya puasa 1-9 Dzulhijjah. Begitu pula yang nampak dari perkataan imam madzhab yang empat, mereka pun tidak berselisih akan sunnahnya puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah.  Adapun puasa enam hari di bulan Syawal terdapat perselisihan di antara para ulama. Seperti kita ketahui bahwa Imam Malik tidak mensunnahkan puasa enam hari tersebut.

Begitu pula tidak didapati dari para sahabat ridhwanallahu ta’ala di mana mereka melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Sedangkan puasa di awal Dzulhijjah, maka ditemukan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa mereka melakukannya. Seperti terbukti ‘Umar bin Al Khottob melakukannya, begitu pula ‘Abdullah bin Mawhab, banyak fuqoha juga melakukannya. Hal ini dikuatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan penekanan ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah tersebut daripada hari-hari lainnya. Hal ini sebagai dalil umum yang menunjukkan keutamaanya. Jika sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikatakan hari yang utama, maka itu menunjukkan keutamaan beramal pada hari-hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ  وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]

Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban. Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[2]

Yang menjadi dalil keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …”[3]

Kata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah bahwa di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut.[4]

Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[5]

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.[6] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.

Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk melakukan amalan puasa tersebut.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.


Dari artikel Puasa di Awal Dzulhijjah — Muslim.Or.Id by null

Diletakkan Di Mana, Islam Bagimu?

Sungguh sangat memalukan dan mengenaskan, ngakunya muslim tetapi kelakuan berandal, kriminal, senengnya pacaran, hobinya seks bebas, ngelawan orang tua, nggak hormati guru, doyan judi, malas, lebih seneng haha hihi cekikikan di facebook ketimbang serius belajar Islam, banyak yang malah sering baca status dan komen di facebook ketimbang baca al-Quran, dan seabrek kelakuan negatif bin maksiat lainnya. Aduuuh… nggak banget deh kalo ada remaja muslim dengan ciri-ciri seperti di atas. Padahal, seharusnya Islam menjadi aturan. Tetapi, jika kenyataannya begitu, diletakkan di mana, Islam bagimu, Boy?

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Yuk, kita interospeksi diri, evaluasi diri, dan tentu saja segera sadar kalo kita udah salah jalan. Balik arah kembali kepada Islam yang emang menjadi agama kita. Jangan sampe deh kamu ngakunya muslim tetapi banyak dari ajaran Islam malah kamu nggak lakuin. Ngakunya muslim tetapi kamu malah minder dengan status muslimmu. Ketika rame-rame orang menuduh kegiatan rohis di sekolah sebagai sarang teroris, atau fitnah terhadap institusi pesantren sebagai tempat untuk memproduksi para teroris, eh kamu malah kalap lalu ikut-ikutan nyalahin mereka. Yah, kalo kayak gitu berarti kamu udah termakan opini musuh-musuh Islam. Sebab, memang mereka menginginkan agar umat Islam benci—atau minimal—minder dengan agamanya sendiri. Payah dan menyebalkan!

Memang nggak mudah jalani keyakinan ajaran Islam ketika kita lemah iman. Jangankan lemah iman, kalo kita lemah kondisi tubuh aja kita mudah terserang penyakit. Itu sebabnya, kalo kita lemah iman maka berbagai macam penyakit hati dan pikiran akan mudah menginfeksi. Contohnya: hasad, dengki, sombong, riya’, wahn, malas, futur, bakhil, kikir dan sejenisnya. Juga penyakit pikiran macam liberalisme, komunisme, sosialisme, feminisme, kapitalisme, hedonisme, permisifisme, sekularisme, termasuk di dalamnya ajaran-ajaran kekufuran dan kesesatan lainnya seperti yang ngelakuin pacaran, seks bebas, make narkoba, tukang berzina, aktivis tawuran dan sejenisnya. Itulah akibat lemah iman. Maka, ayo perbagus imanmu agar senantiasa bisa memfilter berbagai ide yang bertentangan dan bahkan menentang Islam. Iman kepada Allah Swt insya Allah akan memberikan ketahanan kita terhadap hal-hal yang bisa merusak akidah, juga dengan iman yang kuat akan bisa membentengi diri dari hal yang melanggar syariat Islam. 

Malpraktek terhadap syariat Islam

Kita perlu berpikir serius mengenai hal ini Bro en Sis. Gimana nggak, kita sering menghadapi kenyataan bahwa banyak kaum muslimin yang salah dalam mengamalkan syariat Islam, dan malah lebih parah lagi tidak mengamalkan syariat Islam meski ngakunya muslim. Padahal, akibatnya bisa fatal lho. Kalo di dunia medis saja ada istilah malpraktek yang bikin nyawa orang lain melayang gara-gara salah prosedur dalam menangani penyakit, maka dalam Islam lebih parah lagi akibatnya kalo ada kaum muslimin yang malpraktek terhadap syariat Islam. Bahaya kuadrat karena memungkinkan pelakunya mendapat dosa dan siksa di akhirat kelak!

Bener banget lho. Ngakunya muslim, tapi memilih diatur bukan dengan syariat Islam. Itu namanya malpraktek terhadap syariat Islam. Mereka yang mengklaim dirinya muslim, tetapi menolak penerapan syariat Islam, ini juga termasuk golongan yang malpraktek terhadap syariat Islam. Belum lagi yang meyakini bahwa ukhuwah itu sesama kaum muslimin, tetapi prakteknya kok cuma sesama kelompoknya? Ngaku-ngaku ke orang sekampung kalo dirinya muslimah, tapi kok nggak berhijab? Pasang pengumuman di lapak, “gue remaja muslim taat syariat”. Tapi kok pacaran? Ngakunya muslim, tapi kok liberal? Nggak nyambung. Muslim itu taat, liberal itu membangkang. Baca al-Quran sih tiap hari. Tapi kok, nggak pernah mau ikuti petunjukNya di al-Quran? Dalam sunyi sepi sendiri bermunajat memohon ampunan Allah Ta’ala. Tapi setelahnya malah percaya dukun. Duh, kondisi ini udah sering hadir dalam kehidupan kita Bro en Sis. Sungguh menjadi bahan evaluasi diri, sebab bisa jadi kenyataan model gitu juga kita alami tanpa sadar. Jleb!

Bro en Sis, yang melakukan malpraktek terhadap syariat Islam adalah termasuk mereka yang ngakunya sesama muslim itu saling menolong, eh prakteknya yang ditolong cuma sesama teman pengajian saja. Ngakunya al-Quran sebagai petunjuk. Tapi kok bilang: “demokrasi laa roiba fihi”? (baca: tak ada keraguan sedikit pun di dalamnya). Wasyah, hukum buatan manusia itu pasti ada cacatnya, kok malah setuju demokrasi dan malah menolak syariat Islam? Aneh!

Selain itu, deretan ciri-ciri malpraktek terhadap syariat Islam adalah mereka yang ngakunya muslim dan bahkan namanya juga identik nama-nama islami, tapi kok malah menuding kaum muslimin teroris? Shalatnya getol, dakwahnya mantap, shadaqahnya dahsyat. Tapi kenapa menolak syariat Islam diterapkan total sebagai ideologi negara? Ngakunya muslim, tapi kok rela diborgol dalam ikatan nasionalisme, kesukuan dan ashobiyah terhadap kelompok dakwah? Ngakunya muslim, tapi malah merendahkan muslim lainnya sambil memuja musuh-musuh Islam. Ngakunya muslim, dan katanya menjadikan al-Quran pedoman hidup, tapi kok ngerujuk ke primbon untuk selesaikan problem hidup? Weleh-weleh itu namanya pelecehan dan penghinaan terhadap syariat Islam, Boy!

Bener banget, masih banyak pelaku malpraktek terhadap syariat Islam. Ada banyak yang ngakunya muslim, tapi setiap kali berjanji tak pernah sekalipun ditepati. Katanya percaya takdir diatur oleh Allah Swt., tapi kok masih percaya ramalan dan iseng-iseng ‘main’ zodiak? Katanya ashobiyah itu dilarang dalam Islam, tetapi kok membela kelompoknya atau organisasinya mati-matian meski sudah terbukti salah? Katanya sesama mukmin itu bersaudara, tapi kenapa bertahun-tahun memelihara karat kebencian hanya karena berbeda harokah (kelompok dakwah)? Ngakunya ikhlas semata mengharap ridho Allah Ta’ala, faktanya raih ridho manusia lebih prioritas baginya. Memohon kepada Allah Ta’ala dalam doa ingin dapatkan jodoh terbaik, tapi kok dirinya belajar Islam aja ogah? Berharap banget jadi wanita shalihah, tetapi kok disuruh pake kerudung aja nggak mau, apalagi kalo disuruh pake jilbab? Sadarlah Bro en Sis, semua itu adalah cermin diri kita. Kita dan saudara kaum muslimin saat ini memang jauh banget dari pelaksanaan terhadap syariat Islam. Itu terjadi karena banyak di antara kita yang lemah iman kepada Allah Swt. Jadi, ayo perbagus imanmu!

Evaluasi diri

Jika dirimu merasa telah banyak berbuat baik, apakah yakin semua itu dikerjakan dengan ikhlas? Kalo boleh bilang: “Berbuatlah sesukamu. Tapi ingat akan pertanggungan jawabmu di hadapan AllahTa’ala kelak di yaumil hisab.” Jika kamu bangga dengan dosa-dosamu, tobatlah sebelum ajal menjemputmu. Jika kau berpikir bahwa deretan prestasi dan penghargaan sebagai bukti kesuksesanmu, apakah itu membuatmu takabur atau bersyukur? Andai saja kau merasa berjasa kepada banyak orang, apakah itu dilakukan demi raih ridho Allah atau ridho manusia? Jika dalam hatimu kau mengklaim paling hebat dakwahmu, renungkan: apakah demi Islam atau eksistensi dirimu? Kau teramat bangga dengan status sosialmu, tetapi kenapa malu mengakui diri muslim sejati? Kau teramat teliti terhadap keluar-masuknya hartamu, tetapi amat lalai atas pahala dan dosa yang kau perbuat.

Duh, pernyataan dan pertanyaan dalam paragraf di atas seharusnya bisa memberikan suntikan interospeksi diri buat kita semua. Iya, apalagi jika faktanya kita memang melakukan hal-hal buruk itu. Bener sobat, kita perlu bertanya juga kepada diri kita: Apakah sebagai muslim kau merasa bangga dengan Islam? Jika “ya”, kenapa tak memperjuangkan tegaknya syariat Islam? Bagi para aktivis dakwah, sentilan ini mungkin cukup menjadi cambuk: “Kau sering merasa lelah dalam dakwah, padahal usahamu sedikit tetapi keluh kesahmu selangit.” Walah!

Bro en Sis rahimakumullah, kalian yang merasa bangga dengan segala titel akademik, tetapi mengapa malu mengakui predikat kemusliman kalian? Kau merasa begitu resah saat gagal dalam perniagaan, tetapi tetap tenang ketika waktu shalat di batas akhir dan kau belum juga melaksanakan shalat. Kau bisa lebih tegas bersikap atas harga dirimu yang diinjak orang lain, tetapi bungkam saat kehormatan Nabimu direndahkan musuhnya. Kau akan memilih emas murni sebagai perhiasanmu, tetapi kenapa tak pernah berusaha memurnikan akidahmu? Kau amat terluka saat kekasihmu selingkuh, tetapi tak jua sadar dan tobat saat dirimu menyekutukan Allah Ta’ala. Kau sangat semangat berburu perhiasan duniawi, tetapi amat sedikit usahamu untuk akhiratmu. Pikirkan baik-baik ya.

Begitu pula, banyak di antara kita yang daftar doanya kepada Allah Ta’ala dipenuhi daftar keinginan duniawi, tetapi kenapa ibadah kepadaNya seperlunya saja? Kita selalu memohon yang terbaik bagi hidup kita kepada Allah Ta’ala, tetapi sering lupa mentaati perintahNya. Saat gelisah dan kecewa Allah Ta’ala selalu kita sebut namaNya, tetapi di kala suka dan bahagia kita lupa menyembahNya. Kita terlalu sering berharap kebaikan diguyurkan Allah Swt untuk kita, tetapi amat sedikit kita bersyukur kepadaNya. Kita senantiasa khusyuk memohon kepada Allah Ta’ala di kala resah, tetapi kenapa berharap seperlunya di saat bahagia? Jika keinginanmu dikabulkan Allah Ta’ala kau memujiNya, tetapi kenapa saat tak dikabulkan kau berburuk sangka kepadaNya? Aduh, renungkan sobat! Interospeksi diri yuk. Sebab, sudah terlalu banyak dosa dan salah yang kita lakukan.

Semoga sedikit fakta dan ciri-ciri negatif yang udah kita bahas di gaulislam edisi ini, bisa membuat sadar kita yang mungkin saja selama ini meletakkan Islam bagi kita di nomor sekian dari urusan kehidupan duniawi kita. Sadarlah dan segera bertobat lalu bangkit untuk amalkan syariat Islam dengan benar dan baik sesuai tuntunan Allah Swt. dan RasulNya. [solihin | Twitter: @osolihin]

Sumber: http://www.gaulislam.com

Hukum Merayakan Halloween Dalam Islam

Sebagaimana biasa dalam tradisi Barat, malam tanggal 31 Oktober dirayakan pesta Halloween. Pada hari ini anak-anak berpakaian aneh-aneh dan seram. Mereka berkeliling dari pintu ke pintu meminta permen atau coklat, sambil berkata “beri kami permen atau kami jahili.”

Artikel ini merupakan risalah yang ditulis oleh redaksi Hidayatullah Online, dan dipublikasikan pada 27 Oktober 2009 lalu. Halloween atau Hallowe’en adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober, dan terutama dirayakan di Amerika Serikat.

Halloween berasal dari tradisi masyarakat Celtic—yang dulu mendiami Irlandia, Skotlandia, dan daerah sekitarnya—yang percaya kalau pada hari terakhir bulan Oktober, para arwah gentayangan di bumi. Tapi tradisi ini sebenarnya telah berpulang lama.

Sekitar abad pertama Masehi, masyarakat Celtic ditaklukkan oleh warga Romawi, yang kemudian menambahkan kebudayaan mereka ke dalam tradisi Halloween. Mereka menambahkan dua festival bernama Feralia, diperuntukkan untuk menghormati mereka yang telah meninggal, dan Pomona, yaitu festival untuk merayakan musim panen, diambil dari nama seorang dewi.

Sekitar abad ke-8, gereja Katolik mulai merayakan tanggal 1 November sebagai hari untuk menghormati para santo dan santa yang tidak memiliki hari perayaan khusus. Maka mulailah tradisi bahwa misa yang diadakan pada hari itu disebut Allhallowmas, yang berarti misa kaum suci (red: dalam bahasa Inggris disebut hallow). Malam sebelumnya, tanggal 31 Oktober, lalu disebut All Hallows Eve. Inilah cikal-bakal Halloween.

Lalu beranjak memasuki abad ke-18, banyak warga asal Eropa yang berimigrasi ke Amerika. Kebudayaan ini tetap mereka pertahankan, dan bentuk perayaannya terus berkembang sampai sekarang.

Bagi anak-anak, Halloween berarti kesempatan untuk memakai kostum dan mendapatkan permen. Bagi orang dewasa, Halloween mungkin merupakan kesempatan untuk berpesta kostum.

Simbol Halloween biasanya dekat dengan kematian, keajaiban, dan monster-monster dari dunia mitos. Karakter yang sering dikaitkan dengan Halloween, misalnya karakter setan dan iblis dalam kebudayaan Barat, manusia labu, makhluk angkasa luar, tukang sihir, kelelawar, burung hantu, burung gagak, burung bangkai, rumah hantu, kucing hitam, laba-laba, goblin, zombie, mumi, tengkorak, dan manusia serigala. Di Amerika Serikat, simbol Halloween biasanya dekat dengan tokoh dalam film klasik, mulai dari Drakula dan monster Frankenstein. Hitam dan oranye dianggap sebagai warna tradisional Halloween, walaupun sekarang banyak juga barang-barang Halloween yang berwarna ungu, hijau, dan merah.

Bagi toko, acara ini kesempatan bagus untuk pemasaran atau promosi. Singkat kata, sungguh tidak terbatas bentuk perayaan Halloween di Amerika.

Sementara itu, di belahan selatan benua Amerika, tepatnya di Meksiko, setiap tanggal 31 Oktober merayakan Hari Para Arwah (El Dia de Los Muertos), untuk menghormati para kaum suci. Berawal dari tradisi gereja Katolik, perayaan itu sampai sekarang dianggap sebagai salah satu hari besar keagamaan dan dirayakan dengan meriah.

Tanpa Makna

Halloween berasal sebuah perayaan untuk menandai awal musim dingin dan hari pertama Tahun Baru bagi orang kafir kuno dari Kepulauan Inggris. Pada kesempatan ini, mereka meyakini bahwa roh-roh dari dunia lain (seperti jiwa-jiwa orang mati) dapat mengunjungi bumi selama waktu ini dan berkeliaran.

Pada saat ini, mereka mengadakan perayaan untuk dewa matahari dan penguasa yang mati. Matahari mengucapkan terima kasih atas hasil panen, dan memberikan dukungan moral untuk menghadapi “pertempuran” dengan musim dingin. Pada zaman kuno, orang-orang kafir membuat pengorbanan hewan dan tanaman untuk menyenangkan para dewa.

Mereka juga percaya bahwa pada 31 Oktober penguasa (Tuhan) yang mati mengumpulkan semua jiwa-jiwa orang-orang yang telah meninggal pada tahun itu. Jiwa-jiwa setelah kematian, akan tinggal di dalam tubuh binatang, maka pada hari ini tuhan akan mengumumkan bentuk yang seharusnya diterima oleh mereka selama tahun berikutnya.

Masalah Aqidah

Hampir semua tradisi Halloween didasarkan dalam budaya pagan kuno, atau dalam budaya kekristenan. Dari sudut pandang Islam, kepercayaan ini sama dengan bentuk penyembahan berhala alias syirik. Sebagai Muslim, kita seharusnya menghormati dan menjunjung tinggi iman dan keyakinan kita. Bagaimanapun Tuhan kita adalah Allah SWT, selain itu tidak ada.

Adalah kesalahan besar ketika kita, anak-anak, dan keluarga kita merayakan sesuatu tanpa tahu latar-belakang dan tujuannya, hanya karena di antara teman-teman kita sudah biasa melakukan. “Ah, kan sudah tradisi!” begitu sering kita dengar. Atau ada lagi yang melakukan karena ketidakmengertian mereka yang sangat parah. “Just for fun aja.” (untuk bersenang-senang).

Ingatlah, setiap amal dan perbuatan kita selalu berimplikasi hukum yang akibatnya akan dipertanggungjawabkan di akherat nanti.

Jadi apa yang bisa kita lakukan, ketika anak-anak kita melihat orang lain berpakaian, makan permen, dan pergi ke pesta? Walaupun mungkin tergoda untuk bergabung, kita harus berhati-hati untuk melestarikan tradisi kita (tradisi Islam) sendiri dan tidak sepatutnya membiarkan anak-anak kita menjadi rusak dengan fenomena ini.

Dalam satu riwayat, Rasulullah pada suatu hari didatangi oleh utusan orang-orang Mekah, yang di antara mereka itu adalah al-Walid bin al-Mughirah, Aswad bin Muthalib, dan Umyyah bin Khalaf. Mereka menawarkan titik temu persamaan agama antara Islam dengan agama orang-orang kafir pada saat itu. Mereka menawarkan untuk memeluk dan menjalankan agama Islam pada masa satu tahun dan pada tahun berikutnya berharap Rasulullah dan pengikutnya untuk menjalankan agama mereka menyembah berhala. Kerjasama saling menguntungkan ini diharapkan bisa saling bergantian. Dengan kerjasama seperti ini, mereka merasa tidak ada yang saling dirugikan antara kaum kafir dan Islam.

Tawaran itu serta merta ditolak Rasulullah diawali dengan kalimat “aku berlindung dari orang-orang yang menyekutukan Allah.” Dalam masalah aqidah dan tauhid, Rasulullah tidak berstrategi ataupun berpolitik untuk tawaran ini.

Sejak itu, Allah langsung menurunkan wahyu, yaitu Al-Quran QS 109:1-6 atau sering disebut Surat al-Kafirun (orang-orang kafir).

Dalam surat al-Kafirun ayat pertama disebutkan, “Qul (katakan ya Muhammad) wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah”. Ayat berikutnya berbunyi, “aku bukanlah penyembah apa yang engkau sembah.”

Ayat ke-4 mengatakan, “Aku selamanya bukanlah penyembah apa yang kalian sembah.” Jadi jelaslah, ayat ini menunjukkan sikap berbeda dan harus diambil oleh setiap orang Muslim terhadap orang kafir.

Maka bagi kita umat Islam yang mengikuti perayaan agama non-muslim, sekalipun hanya dengan mengucapkan “selamat” saja, maka itu juga melanggar ketentuan Allah. Maka sikap yang paling baik adalah jangan pernah menggangu mereka dalam perayaan ibadah atau perayaan mereka sekecil apapun, dan sekaligus jangan pernah tersentuh sekecil apapun untuk mengikutinya.

Dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anh, dia berkata, “Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka.” [Lihat ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarah hadits no. 3512]

Nabi kita, Rasulullah Muhammad, telah memuliakan dua hari yang patut dirayakan. Dua hari itu tak lain adalah Idul Fitri dan Idul Adha. “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Idul Adha dan Idul Fitri.” [Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210]

Seorang ulama Salafi, Syeikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin bahkan tak kalah kerasnya. Menurut beliau, hari raya atau perayaan yang dikenal oleh Islam hanyalah; Idul Fitri, Idul Adha, dan Idul Usbu’ (hari Jum’at). Dalam Islam tidak ada hari raya lain selain tiga hari raya tersebut, maka setiap hari raya yang diadakan di luar tiga hari raya itu ditolak alias bid’ah dan batil.

Sumber: http://fimadani.com/hukum-merayakan-halloween-dalam-pandangan-islam/

Bercermin Dengan Yahudi

Salah satu musuh besar umat Islam adalah Yahudi. Berkali-kali ayat 120 surat Al Baqarah kita lantunkan atau kita dengar, yang isinya menegaskan bahwa Yahudi dan nasrani tidak akan rela kepada umat Islam sampai umat Islam mengikuti millah mereka.

Dan sampai hari ini, bangsa Indonesia sudah berhasil menempatkan posisi yang tepat terhadap proyek Yahudi di Palestina, dengan tidak membuka hubungan diplomatik dengan penjajah Israel. Sesuatu yang bahkan Mesir sebagai kekuatan real di tengah bangsa Arab malah belum mampu melakukannya. Mesir membuka hubungan diplomatik dengan Israel, setidaknya itu bermakna bahwa Mesir mengakui keberadaan negara penjajah itu.

Adapun kita bangsa Indonesia, meski sebagian kecil dari elemen rakyat ada juga yang menginginkan kita membuka hubungan diplomatik dengan penjajah itu, tapi kenyataannya semua rezim masih harus berpikir ulang kalau mau melakukannya.

Tapi yang jadi pertanyaan, apa cukup kita berhenti di seputar `tidak mengakui` keberadaan Israel? Atau kah kita harus juga melakukan hal yang lebih jauh dari itu? Misalnya memboikot produk Yahudi, sebagaimana yang sering dianjurkan oleh sebagian kalangan. Atau kah ada juga langkah-langkah lainnnya?

Tulisan ini akan mencoba membuka wawasan kita lebih luas lagi, terutama tentang apa dan bagaimana Yahudi, agar kita bisa menakar dan mengukur seperti apa sebenarnya kekuatan `lawan`. Dan tentunya kita jadi tahu tindakan seperti apa yang perlu kita lakukan. Setidaknya perlu kita pikirkan.

1. Motivasi Agama

Yahudi bersatu dan bekerjasama untuk mendirikan Israel, semata-mata karena mereka taat pada agama mereka. Walau agama mereka dalam pandangan Islam sudah tidak berlaku, selain karena sudah expired, juga isinya adalah hasil karangan para rahib dan pendeta mereka, bukan sesuatu yang original dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun harus kita akui semangat mereka membangun Israel ditambah semua kekuatan ekonomi dan lobi politik, semata-mata karena mereka ingin menjalankan kewajiban agama mereka. Karena mereka taat menjalankan agama, maka mereka melakukan semua ini.

Sebaliknya kita umat Islam, kebanyakan menghadapi Yahudi bukan dengan semangat agama Islam, melainkan dengan semangat nasionalisme sempit, atau sekedar motif-motif yang terlalu rapuh.

Maka kita bisa lihat bagaimana satu persatu perlawanan negara Arab rontok ketika berhadapan dengan realitas kekuatan Yahudi di lapangan. Sebab kalau kacamata yang dipakai semata-mata pertimbangan oportunis, maka pilihan mengakui Israel sebagai sebuah negara adalah pilihan paling logis.

Karena itulah Mesir, Suriah, Jordan, Libanon dan negara jiran lainnya, ramai-ramai meneken perjanjian yang intinya mengakui keberadaan Israel sebagai sebuah negara berdaulat di atas tanah rampasan.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena para penguasa negara-negara Islam itu hanya mempertimbangkan realitas secara oportunis, tidak memasukkan pertimbangan akidah dan syariah dalam menetapkan pilihan.

Dalam pikiran mereka, berperang dengan Israel lebih banyak ruginya dari pada untungnya. Maka mendingan duduk damai saja, dengan menelan pil pahit kenyataan bahwa sesungguhnya Israel adalah sebuah kekuatan agresor maha dahsyat yang bertanggung-jawab atas jutaan nyawa bangsa Palestina.

2. Yahudi Sudah Bersiap Sejak Ratusan Tahun Lalu

Satu hal yang perlu kita pelajari secara seksama, Yahudi dengan akar-akarnya bukanlah fenomena yang baru saja terjadi di hari ini. Yahudi sudah bekerja keras sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan boleh dibilang ribuan tahun lalu.

Mereka siang malam diam-diam melakukan kerja tanpa lelah, turun temurun semangat membangun Israel dipompakan pada tiap generasi. Boleh dibilang, tidak ada bayi Yahudi lahir ke dunia kecuali di dalam darah dan dagingnya punya satu tujuan, yaitu mendirikan Israel, memperjuangkan kepentingan kaum mereka dan mengerjakannya dengan sepenuh dedikasi dan semangat.

Bank dunia sudah mereka dirikan jauh sebelum Israel mereka proklamasikan. Perusahaan-perusahaan raksasa yang menguasai aset-aset dunia, mulai dari perusahaan minyak sampai makanan, sudah mereka dirikan jauh sebelum bendera Israel berkibar.

Semua itu menandakan satu hal, yaitu perjuangan Yahudi adalah perjuangan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Agak berbeda dengan kita kaum muslimin, dimana remaja-remaja banyak yang tidak tahu menahu urusan membangun umat, apalagi menegakkan daulah atau khilafah. Jangankan membangun umat, sadar bahwa dirinya bagian dari 1,7 milyar umat Islam pun belum juga.

Israel berdiri tahun 1948, tapi sejak tahun 1895 theodore Hertzl di Eropa sudah mulai memprovokasi bangsa itu untuk mendukung berdirinya negara Israel.

Dua tahun kemudian, 1895, di Swiss telah berkumpul 197 delegasi yang terdiri dari kaum orthodoks, nasoinalis, ahteis, kulturalis, liberalis, sosialis dan kapitalis. Topik utamanya, tidak lain persiapan untuk mendirikan Israel.

3. Yahudi Bersatu Meski Berbeda

Kita akui bahwa di dalam tubuh umat Yahudi ada begitu banyak kelompok, sebagaimana Al Quran menyebutkan :

Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS. Al Hasyr : 14)

Namun ketika bicara dengan lawannya seperti kita umat Islam, Yahudi tetap punya ikatan batin yang kuat. Mereka pada gilirannya bisa meredam sementara perpecahan di dalam internal mereka, kalau sudah berhadapan dengan umat Islam.

Ini yang perlu kita pelajari dari Yahudi musuh kita. Bagaimana dengan jumlah yang hanya 15 jutaan saja di seluruh dunia, mereka bisa kompak mengatasi ketidak-kompakan dan keretakan di tubuh mereka.

Sementara kita umat Islam yang dengan bangga mengatakan diri telah berjumlah 1,7 milyar, rasanya masih jauh untuk dibilang kompak. Jangankah kompak sesama umat, bahkan kadang di dalam tubuh sebuah jamaah, ormas, atau partai bernuansa Islam saja, kita masih merasakan ketidak-kompakan itu.

Kita masih mendengar caci maki dan tudiangan sesat yang ditujukan ke hidung saudara kita sendiri. Kadang masalahnya sepele, tapi jadi urusan besar dan berat sekali, bahkan pakai bawa-bawa neraka pula.

Sementara Yahudi dengan santai menjalin ukhuwah di antara mereka tanpa ribut-ribut yang mengakibatkan lumpuhnya kekuatan.

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Anfal : 46)

4. Yahudi Menguasai Ekonomi Dunia

Sebagian umat Islam ada yang punya semangat menggebu untuk membentuk khilafah Islamiyah, sebagaimana selama 14 abad ini kita pernah memilikinya.

Cuma ketika kita tanya, apa saja yang sudah kalian persiapkan untuk terbentuknya khilafah itu, semuanya hanya diam. Sebab yang terpikir di benak mereka, cukup dengan kampanye menegakkan khilafah, tiba-tiba besok pagi khilafah sudah ready for use.

Salah satu sendi sebuah khilafah, bahkan sebuah negara, dan dalam ruang lingkup yang lebih kecil lagi, sebuah organisasi, masalah kekuatan ekonomi menjadi sesuatu yang sangat krusial.

Dan salah satu kelemahan paling mendasar dari umat Islam adalah justru pada masalah ekonomi. Jangankan memiliki, sedangkan untuk sekedar mengatasi rasa lapar saja, jutaan umat Islam di berbagai belahan negeri masih menggantungkan harapan dari belas kasihan orang lain.

Di sekitar kita ada begitu banyak kekayaan alam yang potensial untuk dioptimalkan sebagai salah satu pilar penyangga ekonomi umat. Tapi sayangnya, tidak satu pun yang bisa dinikmati umat Islam. Sebab kebanyakan aset-aset itu sudah digadaikan ke orang asing, dimana keuntungannya kalau ada, masuk kantong para pejabatnya.

Sementara di sisi lain, perusahaan-perusahaan Yahudi dunia telah mengantungi hak untuk mengeksploitasi hampir semua kekayaan di dunia ini.

Para taipan Yahudi ini bekerjasama saling bantu untuk mengumpulkan dana yang tidak sedikit, untuk membantu kampanye para presiden di seluruh dunia. Ketika presiden itu naik tahta, maka kompensasi yang didapat Yahudi puluhan bahkan ratusan kali lebih besar dari modal yang sebelumnya mereka benamkan.

Sementara umat Islam, jangankah menguasai aset di negerinya sendiri, sedangkan sekedar mau bikin hajatan ormasnya saja, harus mengedarkan proposal kesana kemari, minta-minta sponsor dan sumbangan dana. Artinya, sekedar mau menyatakan bahwa ormas itu ada, masih harus dipapah oleh pihak lain.

Jadi bagaimana mau bikin khilafah kalau bikin sekolah saja tidak mampu? Bagaimana mau menegakkan daulah kalau membiayai hidup jamaah saja harus mengemis?

Orang-orang Yahudi tidak sekedar berhenti pada retorika ketika mereka menyatkan ingin membangun Israel. Mereka tidak sekedar kampanye kesana kemari kepada keturunan Yahudi di dunia, bahwa mereka harus mendirikan negara Israel.

Tapi mereka sudah sampai ke level bekerja secara sistematis. Mereka dirikan begitu banyak perusahaan multi nasional yang menguasai hajat hidup orang banyak, sebagai penopang dan tiang penyangga negara impian mereka.

Sementara kita, berhenti hanya sampai retorika belaka, bahkan malah berujung kepada saling menyalahkan sesama kaum muslimin. Tapi sambil menyalahkan, kita tetap saja berpangku tangan, tidak bekerja, tidak mendirikan perusahaan multi-national, tidak menggarap apa-apa. Kekayaan alam kita tetap saja diangkut ke luar sana untuk kepentingan Yahudi.

Ekonomi umat dalam taraf pemikiran kita, sekedar berjualan dengan MLM, atau jualan minyak wangi, buku, madu, habbah sauda`, atau kaus bergambar usamah.

Kita belum berpikir mendirikan PLTN misalnya, dimana proyek itu akan sangat membantu umat ini dari segi infrastuktur. Bagaimaan kita mau bangun pabrik otomotif atau pesawat terbang, kalau listriknya byar pet.

Untuk mendirikan `khilafah` Yahudi yaitu negara Israel, para konglomerat Yahudi membangun basis perusahaan kelas muliti nasional. Ada banyak keuntungan yang mereka peroleh dari sekian banyak perusahaan, selain masalah keuntungan secara finansial.

Misalnya, mereka bisa atur biar semua penguasa dunia bertekuk lutut dan mencium jempol kaki mereka. Para penguasa dunia itu akan memohon-mohon kepada para konglemerat Yahudi agar perusahaan multi nasional itu mau mendirikan cabang di negara masing-masing.

Disamping itu faktor keterikatan umat Islam kepada produk Yahudi membuat umat Islam tidak berpikir untuk bersikap kreatif memproduksi, tetapi cenderung membeli dari Yahudi. Buat apa membikin sendiri kalau bisa beli.

Sikap seperti ini pada gilirannya membuat ketergantungan umat Islam pada `musuhnya` semakin besar. Padahal barang itu barang yang sangat sederhana, cuma paku yang bahan bakunya berlimpah di negeri kita. Tapi kita telah diarahkan untuk selalu menjadi konsumen yang konsumeris.

Kalau barang yang kita miliki bukan buat luar negeri (baca : Yahudi), rasanya belum afdhal. Gengsinya turun drastis.

Dan yang paling fenomenal adalah perusahaan milik Bill Gates, Microsoft. Software komputer ini konon digunakan oleh 90% komputer pribadi di dunia.

Bill Gates dan Microsoft

Tahukah anda berapa besar kekayaan seorang Bill Gates? Tahun 1998 kekayaannya mencapai 45 milyar USD. Itu berarti lebih tinggi dari PDB gabungan dari Chili dan Mesir sekaligus, 2 kali lebih besar dari PDB Guatemala, 4 kali lebih besar dari PDB Srilanka dan Republik Dominika, 6 kali lebih besar dari PDB Kosta Rika atau Panama dan 8 kali lebih besar dari PDB Brunei Darussalam, dan 23 kali lebih besar dari PDB Bermuda. (Lihat : Raja Bisnis Yahudi oleh Anton A Ramdan SSi).

Tapi itu saja belum cukup, karena ternyata tahun 1998 baru awal keberhasilan Microsoft. Setahun kemudian (1999) Bill Gates malah dapat untung lebih besar dari dua kali lipatnya, yaitu 100 milyar USD.

Ada orang yang mencoba mengira-ngira, seberapa sih kekayaan Bill Gates. Salah satunya menghitung kira-kira pendapatan Bill Gates sebesar 250 USD per detik. Bukan perbulan, perminggu atau perhari, tapi per detik. Dengan kekayaannya ini, dia bisa membeli beberapa negara sekaligus.

Dengan 250 USD setiap detiknya, berarti pendapatan per harinya sekitar 20 juta USD atau 7,8 milyar USD setahun.

Jika dia menjatuhkan US$1.000, dia bahkan tidak perlu repot-repot lagi untuk mengambilnya kembali karena sama dengan waktu 4 detik untuk mengambil, dia sudah memperoleh penghasilan dalam jumlah yang sama.

Utang nasional Amerika sekitar 5,62 trilyun USD, jika Bill Gates akan membayar sendiri utang itu, dia akan melunasinya dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Dia dapat menyumbangkan 15 USD kepada semua orang di dunia tapi tetap dapat menyisakan 5 juta USD sebagai uang sakunya.

Michael Jordan adalah atlit yang dibayar paling mahal di Amerika. Jika dia tidak makan dan minum dan tetap membiarkan penghasilannya utuh dalam setahun sejumlah 30 juta USD, dia tetap harus menunggu sampai 277 tahun agar bisa sekaya Bill Gates sekarang.

Jika Bill Gates adalah sebuah negara, dia akan menjadi negara terkaya sedunia nomor ke 37 atau jadi perusahaan Amerika terbesar nomor 13, bahkan melebihi IBM.

Majalah Forbes menobatkannya sebagai orang nomor satu dari 400 orang terkaya di dunia terhitung sejak tahun 1993 sampai tahun 2007.

Sosok Manusia Sukses

Sukses dengan bisnis, Bill Gates mulai merambah ke dunia yang lain. Dia pun menulis buku. Tahun 1995, sebuah buku berjudul The Road Ahead karyanya laris bak kacang goreng. Dalam waktu 7 minggu, buku itu masuk dalam daftar buku paling laris versi the New York Times. Di China saja, buku ini terjual 400.000 kopi.

Di tahun 1999, buku keduanya yang berjudul Bussines @ speed of Thought menyusul dan juga sukses di pasaran. Sampai-sampai bukunya diterjemahkan ke dalam 25 bahasa.

Keuntungan dari royalti penjualan kedua buku itu seluruhnya disumbangkan ke beberapa organisasi sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Memang, keuntungan royalti itu tidak ada artinya dibandingkan kekayaan Bill Gates dari keuntungan Microsoft.

Panen Gelar Doktor dan Penghargaan

Ratu Inggris memberinya gelar Knight Commander of the Most Excellent Order of the British Empire pada tahun 2005. Bill menerima itu atas jasanya kepada perekonomian Inggris dan upaya dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf kesehatan di negara-negara berkembang. Gelar ini adalah gelar tertinggi kedua yang ada di Inggris.

Berbagai universitas terkemuka di dunia berebutan memberinya gelar kehormatan. Universitas Bisnis Nyenroe di Breukelen Belanda menganugerahinya gelar Doktor kehormatan.

Tahun 2002, giliran Royal Institute of Tecnology Stockholm Swedia yang menganugerahinya gelar doktor kehormatan.

Tahun 2005, Universitas Waseda Tokyo Jepang juga tidak mau ketinggalan memberinya gelar doktor. Dua tahun kemudian, 2007, Harvard juga memberinya gelar doktor. Terakhir tahun 2008, Bill menerima sekali gelar tersebut dari Karolinska di Stockholm.

Umat Islam dan Bill Gates

Lepas dari keyahudiannya, yang menggelitik kita adalah sebuah pertanyaan, lalu dimana kita sebagai umat Islam dibandingkan prestasi yang diraih oleh Yahudi satu ini? Adakah di kalangan umat Islam yang bisa menyamai prestasinya? Atau minimal kepintarannya dalam ilmu komputer sekaligus mengelola bisnis?

Yang terjadi kita malah jadi pembeli produk microsoft. Bahkan bergantung 100% dari windows dan officenya. Alih-alih membuat tandingannya, kita malah hanya bisa membajaknya. Ya, itulah kehebatan bangsa kita yang tidak dimiliki oleh seorang Bill Gates.

Dari pada susah-susah membikinnya, yang ada saja dibajak, lalu dijual dalam bentuk CD eceran seharga 25.000-an.

Maka kita harus memotivasi anak-anak kita biar jadi orang yang genius, lebih jenius dari Bill Gates. Sekaligus mengerti cara mengelola bisnis, lebih hebat dari cara yang dilakukan oleh Bill Gates. Dan kalau perlu, harus jadi orang yang kaya melebihi kekayaannya.

Agar dapat memajukan agama Islam dan umatnya, keluar dari jurang nestapa dan kancah kehancurannya.

Selain memiliki jaringan pengusaha kelas dunia yang kekayaannya berlimpah, dalam rangka membangun negara Isreal, orang-orang Yahudi sedunia memastikan bahwa dunia pers harus 100% benar-benar dikuasai. Pers adalah kekuatan keempat, begitu kata insan pers. Dengan kekuatan pers, Yahudi bisa menggiring opini 6,5 milyar manusia di atas bumi sesuai dengan selera dan keinginan mereka.

 

http://fimadani.com/bercermin-dengan-yahudi/