Artikel Tentang Penulis

Nabi Ibrahim & Argumen Telak Tentang Keesaan Allah

Kisah mengenai pertanyaan Ibrahim ‘alayhissalam tentang ‘dimana Tuhan?’ dalam surat Al An’am (75-83) adalah terkait cara pandang beliau terhadap ayat-ayat Allah sebagai aplikasi menyampaikan dakwah dengan uslub (metode) qudrah dan muwajahah. Bukan kisah ‘pencarian Tuhan’, seperti kebanyakan pemahaman tekstual-awam banyak orang. Itulah yang sesuai dengan suasana umum diturunkannya surat Al An’am.

Dalam salah satu riwayat, dijelaskan bahwa surat Al An’am diturunkan kepada Nabi SAW langsung satu surat penuh dalam satu malam, tidak sebagaimana surat-surat yang terbilang panjang lainnya. Saat diturunkan, tujuh puluh ribu malaikat yang memiliki zaljun, suara keras lagi memekik, berhimpun mengucap tasbih dengan penuh ketulusan.

Suasana umum surat ini ada dalam awal surat “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan gelap dan terang, namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu”. Muqaddimah ini menegaskan pada kita bahwa tujuan dan poros surat ini adalah mengenai urgensi mendeklarasikan tauhidullah (persaksian keesaan Allah) dan larangan menyekutukan Allah dalam interaksi dengan manusia / objek dakwah.

Yang dimaksud dengan uslub qudrah dan muwajahah adalah susunan tertentu dari permulaan ayat hingga akhir ayat dalam surat Al An’am yang mayoritas dimulai dengan salah satu dari dua kalimat berikut, yaitu ‘katakan’ (qul) atau ‘Dia’ (huwa). Ketika anda membaca setiap ayat yang diawali dengan kata huwa anda akan mendapati bahwa ia berbicara tentang qudratullah (kekuasaan Allah). Kemudian ada ayat-ayat yang berisi arahan kepada Nabi SAW dan orang mukmin tentang kaifiyah (cara) mematahkan hujjah (argumentasi) pada saat ber-muwajahah (pertemuan) dengan orang-orang kafir dengan memulai ayat-ayat tersebut dengan kalimat qul (katakanlah).

Masalah tauhid dan larangan syirik diulang dalam 49 ayat. Artinya, sekitar 30% dari total surat. Inilah yang menjadi sebab istimewa berhimpunannya tujuh puluh ribu malaikat menyertai proses turunnya dalam semalam. Jika kita memahami hikmahnya, maka kita akan membaca, memaknai, dan berusaha mengimplementasikan surat ini dengan ruh yang sama dengan saat proses turunnya.

Suasana qudrah dan muwajahah ini adalah gelombang dahsyat yang seharusnya memotivasi pembacanya untuk menguatkan pilar-pilar aqidah dan keteguhan jiwa untuk menggugah objek dakwah. Ini merupakan uslub (cara) baru yang diturunkan untuk Nabi SAW yang sangat berfaidah dan efektif untuk menghadapi masyarakat Quraisy Makkah pada fase awal Islam. Sebagaimana inspirasi uslub Ibrahim ‘alayhissalam yang memberikan perumpamaan kepada kaumnya tentang tidak sebandingnya menjadikan bintang, bulan, maupun matahari sebagai Tuhan. Ibrahim ‘alayhissalam kemudian menutup pemaparan perumpamaan itu dengan “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan!” (Al An’am [6]: 78).

Kisah muwajahah ini dipungkasi pada ayat 83 dengan “Dan itulah keterangan yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat bagi siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana, Mahamengetahui”.

Pemaparan ‘pelajaran’ tauhid dalam bentuk suatu kisah dalam surat yang ‘turun sekaligus’ ini mengisyaratkan bahwa tauhid adalah kesatuan yang utuh berupa keyakinan (i’tiqad) dan pengamalan (tathbiq) dengan mendakwahkannya.

Demikianlah diantara keindahan metode Al Qur’an mengulang-ulang berbagai kisah para Nabi. Namun demikian, setiap sejarah Nabi tidak dikemukakan secara utuh, hanya dicuplik kisah yang menjadi pendukung isi surat yang didalamnya terdapat kisah tersebut. Ini bentuk mukjizat yang menunjukkan bahwa manusia tidak akan mampu melakukan hal yang serupa dalam menyimpulkan benang merah hikmah dari jutaan kenyataan sejarah yang tak terdokumentasi dalam tulisan para sejarawan.

Wallahu a’lamu bish shawab

Disaripatikan dari terjemah Kitab “Khowathir Qur’aniyah” karya Syaikh Amru Khalid, Penerbit Al I’tishom

sumber:
http://fimadani.com/nabi-ibrahim-dan-argumen-telak-tentang-keesaan-allah/

Rezeki

dakwatuna.com - “Dan tidak ada suatu makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Huud (11): 6)

Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari ayat tersebut, di antaranya:

1. Allah Ar-Rahmaan

“Dan tidak ada suatu makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya”.

Nama Allah yang paling utama di antara 99 nama adalah Ar-Rahmaan yang berarti Maha pemurah. Allah maha memberi setiap makhluk di bumi tanpa terkecuali, walaupun mereka sering menyakiti Allah dengan tidak menjalankan perintahnya dan bahkan menghina serta menyekutukanNya. Seperti yang terdapat pada sebuah hadits shahih yang artinya:

“Tidak seorang pun yang lebih sabar mendengar sesuatu yang menyakitkan selain Allah, karena meskipun Allah disekutukan dan dianggap memiliki anak, tetapi Allah tetap memberi kesehatan dan rezeki kepada mereka”. (HR. Muslim, 5016).

Itu berarti bahwa setiap makhluk di muka bumi sudah ada jaminan rezekinya dari Allah SWT tanpa terkecuali. Sering banyak timbul pertanyaan, mengapa orang yang tidak pernah menyembah Allah itu kaya raya? Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahmaan-Nya meliputi semua makhluk.

2. Allah Maha Mengetahui

“Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya”

Dalam tafsir Ibnu Katsir, Ali bin Abu Thalhah dan perawai yang lain meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa maksud firman Allah “Dia mengetahui tempat kediamannya” adalah tempat kediaman (tempat tinggal), dan “dan tempat penyimpanannya” adalah tempat ketika mereka meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT maha mengetahui apa yang terjadi pada kita, sehingga kita harus selalu merasa berada dalam pengawasan Allah SWT. Seperti yang dapat kita lihat pada surat Al-An’am (6) ayat 59 sebagai berikut:

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ ﴿٥٩﴾

“dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’am (6): 59)

3. Catatan Allah

“Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”

Allah sudah memiliki catatan kehidupan kita di dalam sebuah kitab yang bernama Lauh Mahfuzh. Menurut beberapa ulama, Lauh Mahfuzh merupakan sebuah kitab yang berisi catatan-catatan rahasia Allah SWT baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi seperti yang pada firman Allah SWT pada surat Al-Hadid (57) ayat 22 sebagai berikut:    

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ﴿٢٢﴾

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid (57):22)

Dengan demikian, sesungguhnya setiap dari kita sudah dijamin rezekinya oleh Allah SWT. Sehingga kita tidak perlu khawatir lagi akan rezeki kita, dan tugas kita di dunia hanyalah berusaha maksimal dengan mengikuti tuntunan Allah SWT yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Bila Waktu Menjadi Alasan

Sejak Anda terlahir, waktu telah berjalan 24 jam sehari. Dan sejam dihitung 60 menit. Itu akan berlaku sampai Anda meninggal nanti. Sama, sehari 24 jam dan sejam tetap 60 menit. Mengapa orang yang paling sibuk dalam sejarah, Rasulullah, sempat melakukan banyak hal (memimpin negara, mengurus banyak istri, menampung keluhan sahabat, mencari nafkah, mendidik masyarakat, 80 kali menjadi panglima perang, mengunjungi beberapa negara dll) selama masa kenabiannya yang hanya duapuluhan tahun? Karena beliau sadar, bahwa waktu tidak dapat diganti. Maka semua tugas harus beres dengan jadwal yang tepat. Beliau memiliki konsep waktu yang sangat penting yang (berulang kali) diajarkan kepada kita:

Demi Masa, Sesungguhnya Manusia dalam Kerugian 

Manusia yang hidup dalam masa ini terancam kerugian dan kelenaan. Jika Anda hidup di kota besar, dan telinga Anda peka, Anda akan melihat betapa banyak manusia kalah oleh waktu. Mereka mengais rejeki dengan menengadahkan tangan di perempatan. Praktis dan mudah, dibanding penjual gorengan yang harus belanja bahan, meracik bumbu, menggoreng, membersihkan gerobak, berangkat ke lapak, menunggu pembeli. Proses yang panjang.

Di Jakarta, Bandung, atau Surabaya, Anda menghabiskan waktu hampir satu jam untuk pergi hanya berjarak 10-an kilometer di siang hari. Padahal di tempat lain kurang dari 15 menit. Anda kalah dipermainkan oleh waktu, dan tak dapat berbuat apa-apa untuk merubahnya.

Pun demikian di kampung yang sepi. Pemuda duduk-duduk di poskamling mendengar sandiwara radio. Berlama-lama. Tiba-tiba usia beranjak dewasa, saatnya berumah tangga tapi bingung darimana biaya nikah. Gadis-gadis duduk-duduk di teras rumah, tiba-tiba makin ranum, kebingungan mencari jodoh. Ibu-ibu ngerumpi sambil mencari kutu. Berjam-jam, tiap hari. Tiba-tiba sudah beruban, sudah tua. Tiba-tiba renta dan semuanya disesali.

Manusia kalah oleh waktu, kecuali orang yang beriman dan beramal shalih

Berimanlah agar tidak kalah oleh waktu. Agar tidak dirugikan oleh telikung waktu. Sebab keimanan inilah yang menyebabkan manusia mampu menahan untuk tidak menyiasati waktu dengan cara yang salah. Tidak mengemis di perempatan karena rasa malu, dan malu adalah bagian dari iman.

Keimanan mencegah korup di kantor karena untuk kaya dalam waktu singkat korupsi adalah cara paling praktis. Keimanan mencegah mencurangi timbangan karena untuk menumpuk laba dengan capat kadang cara inilah yang paling mudah.

Beramal shalihlah, agar permainan waktu tetap bermakna. Selama bermenit-menit di angkot sebenarnya adalah waktu yang cukup untuk menggali inspirasi. Atau setidaknya berdzikir: ”alladziina yadzkurunallah qiyaaman, waqu’udan, wa’ala junubihim..”. menggapai keutamaan dzikir saat berdiri, duduk atau berbaring.

Banyak inspirasi untuk menulis sesuatu, banyak ide untuk memecahkan solusi keummatan muncul pada saat naik angkot. Menunggu antrian di Bank, menunggu dagangan, memandikan si kecil, mencuci, bahkan di kamar mandi saat duduk di atas Closet.

Waktu yang sedikit di dunia ini, penuhi dengan amal baik. Merancang proposal dakwah, mendata calon mad’u, silaturahim, sms motivasi ke teman yang futur, itu lebih baik daripada nonton sinetron atau tidur.

Kita punya beribu, bahkan berjuta saudara sebagai ladang amal, dengan cara saling bertaushiyah dalam kebenaran, dan saling bertaushiyah dalam kesabaran

Berikan motivasi ketika seorang teman merasa minder. Tunjukkan jalan terang ketika seorang teman merasa tidak mantap dalam suatu amalan. Pinjami buku ketika sahabat butuh wawasan. Libatkan dalam banyak aktivitas ketika teman-teman butuh ketrampilan berorganisasi.

Kesabaran tak dapat ditawar. Berapa banyak dai beralih profesi, melepas kedaiannya karena tak sabar. Berapa banyak akhwat memperkecil jilbabnya, bahkan melepasnya, karena tak sabar. Kesabaran menyelamatkan manusia dari petaka, melindungi manusia dari hijau mata di kantor-kantor basah. Kesabaran menjadi benteng dari murka Allah.

”Ista’inu bishobri wash-sholah, innallaha ma’ash shobirin..”.
jadikan sabar dan sholat sebagai penolong. Sesungguhnya Allah menyertai orang yang penyabar.

http://www.fimadani.com/bila-waktu-menjadi-alasan/http://www.fimadani.com/bila-waktu-menjadi-alasan/

Menjaga Allah Swt

Menjaga Allah SWT (Al-Arba’ûn an-Nawawiyah hadits ke-19)

HR at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ:  « يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ »

Ibn Abbas berkata: Suatu hari aku ada di belakang Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Nak, aku ajari kamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah menjaga kamu.  Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati Allah di hadapan kamu.  Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Jika kamu meminta tolong maka mintalah tolong kepada Allah.  Ketahuilah, sesungguhnya jika umat bersatu untuk memberi kamu manfaat kdengan sesuatu, tiadalah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untuk kamu.  Andai mereka bersatu untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu, tiadalah mereka dapat mencelakakan kamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan atas kamu.  Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran itu telah kering.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim).

Rasul saw. saat hendak mengajarkan pelajaran penting, beliau memanggil si murid (Ibn Abbas), يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ (Nak, aku ajari kamu beberapa kalimat).” Dengan panggilan yang lembut dan mengungkapkan kasih sayang itu, beliau menarik perhatian murid dan membuat dia siap menerima pelajaran penting.

Rasul saw. memberi Ibn Abbas tiga pesan penting. Pesan pertama: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ  (Jagalah Allah, niscaya Allah menjaga kamu).  Pesan Rasul ini,  seperti dijelaskan Ibn Rajab dalam Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam dan ash-Shan’ani dalam Subul as-Salâm, maksudnya adalah menjaga hudud, hak-hak, perintah-perintah dan larangan-larangan Allah SWT.  Menjaga semua itu adalah dengan menaati perintah-perintah Allah SWT, menjauhi larangan-larangan-Nya, tidak melanggar hudud (batasan-batasan) Allah dan tidak melampaui apa yang Dia perintahkan menuju apa yang Dia larang.  Ringkasnya, menurut Imam an-Nawawi dan Ibn Daqiq al-‘Ayd dalam Syarh al-Arba’în an-Nawawiyah, makna pesan Rasul itu adalah, “Jadilah kamu orang yang menaati Allah, menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”

Ada beberapa hal yang secara khusus dinyatakan oleh nas agar dijaga, antara lain: shalat pada umumnya, apalagi shalat ashar; taharah yaitu menjaga wudhu’, lisan, kemaluan, kepala berikut isinya, perut berikut isinya, dan sumpah.

Siapa saja yang melakukan semua itu-yaitu menjaga Allah-balasannya adalah Allah akan menjaga dirinya.   Menurut Ibn Rajab, penjagaan Allah untuk hamba itu ada dua jenis. Pertama: penjagaan Allah SWT dalam berbagai kemaslahatan dunia, seperti menjaga hamba dalam hal badannya, anaknya, keluarganya dan hartanya; atau menjaga dia dari bahaya.  Kedua: ini lebih mulia, yaitu penjagaan Allah SWT dalam agama dan keimanan hamba itu sehingga Allah menjaga dia dari syubhat yang menyesatkan, dari syahwat yang haram, dan pada saat kematiannya sehingga Allah mewafatkan dia di atas iman.

Pesan kedua: احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ.  Imam an-Nawawi menjelaskan maksudnya, “Beramallah untuk Allah SWT dengan melakukan ketaatan dan jangan Allah melihat kamu dalam kondisi menyelisihi Dia, maka engkau akan mendapati Allah di hadapanmu saat kamu dalam kesulitan, sebagaimana tiga orang yang terjebak di dalam goa lalu mereka dibebaskan Allah berkat amal saleh mereka.”  Maka dari itu, siapa yang menjaga hudud Allah, memelihara hak-hak-Nya, niscaya ia dapati Allah bersama dia dalam segala keadaannya. Ke mana saja dia menghadap, Allah melingkupi, menolong dan menjaga dia; memberi dia taufik dan menopangnya.

Pesan ketiga: Rasul saw. berpesan agar kita meminta hanya kepada Allah dan minta tolong hanya kepada Dia: إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ.  Permintaan adalah doa dan doa adalah ibadah.  Jadi ini pesan untuk beribadah, termasuk di dalamnya meminta (berdoa), hanya kepada Allah dan untuk minta tolong hanya kepada Allah.  Inilah yang selalu kita baca di QS al-Fatihah [1]: 5.  Intinya ini adalah pesan untuk bertawakal menyandarkan segala perkara hanya kepada Allah SWT.  Beliau menegaskan bahwa ketahuilah, tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat atau madarat kepada seseorang kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk atau atas orang itu. Rasul bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ .

Ketahuilah, sesungguhnya jika umat bersatu untuk memberi kamu manfaat kdengan sesuatu, tiadalah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untuk kamu.  Andai mereka bersatu untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu, tiadalah mereka dapat mencelakakan kamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan atas kamu.  Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran itu telah kering.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim)

Hal itu juga ditegaskan dalam banyak ayat (misalnya, QS at-Taubah [9]: 51; al-Hadid [57]: 22; Ali Imran [3]: 154, dsb) dan hadis.

Jika seorang hamba mengetahui bahwa tiada menimpa dia berupa kebaikan atau keburukan, manfaat atau madarat, kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirinya, dan bahwa upaya seluruh makhluk untuk menyalahi apa yang ditetapkan itu tiada gunanya sama sekali, maka hal itu mewajibkan dia untuk mentauhidkan Allah; untuk takut, menggantungkan harapan, mencintai, meminta, merendahkan diri, berdoa dan minta tolong hanya kepada Allah semata; mewajibkan dia untuk menjaga hudud-Nya, hanya menaati Dia, mengedepankan ketaatan kepada Dia di atas ketaatan kepada seluruh makhluk, dan menghindari kemurkaan-Nya meski harus berhadapan dengan kemurkaan seluruh makhluk.

Inilah iman pada takdir baik dan buruknya semata dari Allah SWT.  Keimanan ini akan membuat seorang hamba bisa bertawakal dengan benar kepada Allah semata.  Ini adalah sumber energi terbesar bagi siapapun untuk terus taat kepada Allah, menjauhi kemaksiatan dan kemurkaan-Nya dalam segala kondisi.  Ini adalah energi terbesar bagi setiap Muslim agar mampu terus berjuang membela dan menegakkan agama-Nya apapun yang harus dihadapi.  Inilah energi agar bisa menjalani hidup dengan benar. Wa mâ tawfîq illâ bilLâh. [Yahya Abdurrahman]

Hidup Untuk Yang Maha Hidup

dakwatuna.com - Nabi SAW pernah menggambarkan bahwa hidup ini tidak ubahnya seorang musafir yang berteduh sesaat di bawah pohon yang rindang untuk menempuh perjalanan tiada batas. Oleh karena itu, bekal perjalanan tiada batas itu mesti disiapkan semaksimal mungkin. Karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa (QS. Al-Baqarah: 197).

Allah SWT menggariskan kepada kita tentang kehidupan akhirat. “‘Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al A’laa: 17). Kehidupan jasad kita hanyalah sementara di dunia. Sedangkan kehidupan ruh, ia akan mengalami lima fase, yaitu: alam arwah, alam rahim, alam dunia, alam barzah, dan alam akhirat. Berarti hidup di dunia hanya terminal pemberhentian menuju akhirat yang kekal.

Karena hidup adalah hanyalah sekumpulan hari, bulan, dan tahun yang berputar tanpa pernah kembali lagi. Dan setiap hari umur kita akan bertambah, namun usia berkurang. Hal itu berarti kematian semakin dekat.

Seharusnya kita semakin arif dan bijak dalam menjalaninya. Tetap dalam kesalehan, bertambah kuat aqidah, semakin khusyuk dalam beribadah, dan mempunyai akhlak yang mulia. Pada puncak kebaikan itu lalu kita wafat, itulah husnul khatimah.

Hidup ini ada di bawah aturan yang telah ditentukan Allah SWT. Segalanya digulirkan dan digilirkan. Hidup lalu mati, kecil akhirnya membesar, muda lama kelamaan akan tua, dan muncul kesenangan, terkadang berganti kesedihan. Semua itu adalah fana.

Namun, di tengah-tengah kefanaan itu, umat Rasulullah SAW adalah yang paling sukses, sebagaimana dijelaskan dalam hadits bahwa umat Rasulullah adalah yang paling banyak mengingat mati, lalu ia akan mempersiapkan hidup setelah mati.

Akhirnya, mereka yang mengaku ‘cerdas’ akan mengetahui, lalu sadar dan yakin, bahwa hidup ini bukan untuk mati, akan tetapi mati itulah untuk hidup. Hidup bukan untuk hidup, tetapi untuk Yang Maha hidup, yaitu Allah Rabbul Izzati.

Karena itu, jangan pernah takut mati, namun jangan mencari mati. Jangan lupa mati, dan rindukanlah mati. Kenapa? Karena, kematian adalah pintu berjumpa dengan-Nya. Perjumpaan terindah antara kekasih dengan Kekasihnya.

Orang yang bertaqwa adalah orang yang sangat cerdas. Ia tidak akan mau terjebak pada “kenikmatan” sesaat, namun menderita berkepanjangan. Karena itu, ia akan selalu mengelola hidup yang sesaat dan singkat ini menjadi sangat berarti untuk kehidupan panjang tanpa akhir nanti, yaitu akhirat.

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS Al Ankabut: 64).