Artikel Tentang Penulis

Agar Ditolong Allah Swt

Agar Ditolong Allah SWT

(Al-Arba’un an-Nawawiyah, Hadis ke-36)

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Siapa saja yang menghilangkan satu kesusahan seorang Mukmin di antara kesusahan-kesusahan dunia niscaya Allah akan menghilangkan dari dirinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan pada Hari Kiamat. Siapa saja yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah memudahkan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim niscaya Allah menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah SWT menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Siapa saja yang menempuh jalan mencari ilmu niscaya Allah mudahkan untuknya jalan ke surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu Baitullah, mereka membaca Kitabullah dan dan mempelajarinya di antara mereka niscaya ketenteraman turun atas mereka, mereka diliputi oleh rahmat dan dikelilingi oleh para malaikat serta Allah menyebutkan mereka kepada para malaikat yang ada di sisi-Nya. Siapa saja yang lambat amalnya maka nasabnya tidak bisa mempercepatnya (HR Muslim, Ibn Majah, at-Tirmidzi dan Ahmad).

Imam an-Nawawi menjelaskan,  ini adalah hadis yang agung, yang menghimpun berbaga jenis ilmu, kaidah dan adab.  Di dalamnya ada keutamaan menghilangkan kesusahan kaum Muslim dan memberi mereka manfaat yang memudahkan baik berupa ilmu, harta, bantuan atau menunjukkan suatu kemaslahatan atau nasihat atau lainnya.

يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ (memudahkan orang yang sedang kesulitan) dari sisi harta bisa dilakukan dengan: memberi tangguh dan ini hukumnya wajib jika orang yang berutang itu مُعْسِر, yaitu kesulitan hingga dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok; atau dengan menggugurkan utangnya, sebagian atau keseluruhan, dan ini sunnah; atau dengan memberi dirinya harta yang bisa menghilangkan kesusahannya.  Rasul saw. bersabda:

« مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِراً، أَوْ وَضَعَ عَنْهُ، أَظَلَّهُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ »

Siapa saja yang memberi tangguh orang yang kesusahan atau menggugurkan (utangnya), Allah akan menaungi dirinya pada hari saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (HR Muslim).

 مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا (Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim…).  Imam an-Nawawi menjelaskan, yaitu menutupi kesalahan/kekhilafan, yakni terhadap orang yang tidak dikenal dengan kerusakan. Ini dalam hal menutupi kemaksiatan yang telah terjadi dan telah berlalu. Adapun jika diketahui kemaksiatanya dan ia sedang melakukannya maka wajib segera mengingkari dan melarangnya. Jika tidak mampu, pelakunya harus diadukan ke waliyul amri jika hal itu tidak mendatangkan mafsadat. Dalam hal ini, kemaksiatannya tidak ditutupi sebab jika ditutupi maka itu memberi dirinya energi melakukan kerusakan, pelanggaran dan keharaman dan lainnya.  Bahkan pelakunya wajib diadukan kepada imam jika tidak khawatir akan mendatangkan mafsadat yang lebih besar.  Begitu pula yang harus dilakukan dalam jarh (menyatakan cacat kepribadian) perawi, saksi, orang yang diamanahi memegang uang zakat, wakaf, harta anak yatim dan semisalnya. Mereka wajib disebutkan cacatnya sesuai kebutuhan dan tidak boleh ditutupi jika dipandang dari mereka ada sesuatu yang bisa mencederai kelayakan mereka. Ini bukan termasuk ghibah yang haram, bahkan merupakan nasihat yang wajib.

Allah SWT menjelaskan bahwa Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.  Jika kita ingin ditolong Allah hendaknya kita menolong saudara Muslim.  Ini sekaligus mengisyaratkan bahwa siapa saja yang ingin menolong saudaranya, hendaknya ia tidak takut mengatakan kebenaran atau melakukan pertolongan itu dengan benar, sebab ia yakin Allah akan menolong dirinya.

Sabda Nabi saw., مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا (Siapa saja yang menempuh jalan mencari ilmu). Menempuh jalan di sini mencakup yang hakiki yaitu melakukan perjalanan dengan jalan kaki atau dengan kendaraan; juga mencakup menempuh jalan maknawi yang mengantarkan pada perolehan ilmu seperti menghapal, mempelajari, mengkaji, mengulang, mendiskusikannya, menulis atau memahami ilmu dan semisalnya yang bisa mengantarkan pada perolehan ilmu.

سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ (Allah memudahkan jalannya ke surga).  Maksudnya, Allah memudahkan untuk dirinya ilmu yang dia cari dan Allah mudahkan dia menempuh jalan ilmu itu.  Bisa juga, Allah memberi kemudahan kepada orang yang mencari ilmu jika ia lakukan untuk mendapat keridhaan Allah, yakni Allah mudahkan dia untuk memanfaatkan ilmunya dan beramal sesuai ilmu itu, sehingga menjadi sebab ia tertunjuki.  Bisa juga untuk orang yang mencari ilmu itu, Allah mudahkan ilmu-ilmu lainnya dan pemanfaatannya. Hal itu sebagaimana dikatakan di Faydh al-Qadîr, مَنْ عَمِلَ بِمَا يَعْلَمْ أَوْرَثَهُ اللهُ عِلْمًا مَا لَمْ يَعْلَمْ (Siapa yang beramal dengan apa yang dia ketahui, Allah akan mewariskan kepada dia ilmu yang belum dia ketahui).

Hadis ini juga menunjukkan, adalah sunnah sekelompok orang berkumpul di masjid, membaca dan mengkaji al-Quran di antara mereka.   Hal itu sebab terhadap mereka akan diturunkan as-sakînah (ketenteraman), diliputi oleh rahmat dari segala sisi seperti air yang meliputi badan seseorang ketika dia mandi, dikeliliingi para malaikat dan Allah menyebutkan kepada para malaikat yang ada di sisi-Nya.

Adapun sabda Rasul, مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ (siapa yang amalnya lambat tidak akan dipercepat oleh nasabnya), maksudnya siapa saja yang amalnya kurang maka nasabnya tidak akan berguna untuk meninggikan derajatnya.  Jadi orang harus berlomba dalam amal dan tidak boleh bersandar pada nasab atau orangtua. WalLâh a’am bi ash-shawâb. [Yahya Abdurrahman]

Kunci Surga

Ada enam perkara," kata Imam Ali kw., "yang menjadikan seseorang tidak akan pernah lelah mengejar surga dan lari agar terhindar dari azab neraka. Pertama: mengenal Allah SWT. Kedua: Mengenal setan. Ketiga: mengenal akhirat. Keempat: Mengenal dunia. Kelima: Mengenal kebenaran. Keenam: Mengenal kebatilan." (An¬Nawawi al-jawi, Nusha'ih al-lbad, 44-45). Dijelaskan oleh Imam an-Nawawi: Mengenal Allah maknanya adalah seseorang memahami bahwa Allah SWT adalah Penciptanya dan Pemberi rezeki kepadanya; Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan dirinya. Karena itulah dia lalu menaati Allah SWT dengan cara menuruti segala perintah-Nya (dan menjauhi segala larangan-Nya). Mengenal setan maknanya adalah seseorang memahami bahwa setan adalah musuhnya. Karena itu, dia selalu berusaha menentang perintahnya. Mengenal akhirat maknanya adalah seseorang memahami bahwa akhirat adalah negeri yang kekal abadi. Karena itu, dia selalu berusaha merindukan akhirat dengan cara mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat itu. Mengenal dunia maknanya adalah seseorang memahami bahwa dunia adalah negeri yang fana (sementara). Karena itu, dia pun akan "menolak" dunia, tidak mengambil dunia (harta), kecuali sekadar untuk bekal di kehidupan akhirat. Mengenal kebenaran. maknanya adalah seseorang memahami hal-hal yang benar yang ditunjukkan oleh syariah Islam, kemudian ia mengamalkannya.

Mengenal kebatilan maknanya adalah seseorang memahami hal-hal yang salah yang ditunjukkan oleh syariah Islam, kemudian dia menjauhinya. Menurut Imam an-Nawawi, keenam perkara ini merupakan kunci pembuka pintu-pintu surga dan penutup pintu-pintu neraka. Pertanyaannya: Sudahkah keenam perkara itu benar-benar kita kenali atau kita pahami, khususnya dalam posisi kita sebagai pengemban dakwah? jawaban atas pertanyaan ini tentu tidak cukup hanya klaim di lisan. Kita harus bisa menghadirkan bukti atas klaim itu dalam amal perbuatan. Lalu apa buktinya? Sebagaimana terpapar di atas, bukti bahwa kita sudah mengenal dan memahami keenam perkara di atas juga ada enam:

Pertama: Kita selalu menaati Allah SWT. Saat Allah mewajibkan kita berdakwah, misalnya, kita pun, giat berdakwah, tanpa pernah mengenal rasa lelah. jika kita baru berdakwah kalau ada taklif dakwah, dan kalau tidak ada taklif dakwah kita pun berpangku tangan, pada dasarnya kita belum sepenuhnya menaati Allah SWT.

 Kedua: Kita selalu berusaha untuk menentang setan, tidak menuruti perintahnya. jika kita bermalas-malasan dan ogah-ogahan dalam menuntut ilmu atau berdakwah, misalnya, pada hakikatnya kita sedang memperturutkan perintah setan. Sebab, hanya setan yang mengajak kita, untuk tidak menuntut ilmu dan mengabaikan atau meninggalkan dakwah.

Ketiga: Kita selalu berorientasi ke akhirat dengan sungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat itu. Dakwah adalah salah satu bekal hidup kita di akhirat nanti. Sebab, dakwah adalah salah satu amal shalih yang paling utama, yang tentu pahalanya luar biasa, karena bisa mengantarkan kita masuk surga. Banyak Nash al-Quran maupun hadis yang menjelaskan keutamaan dakwah ini. Bahkan dakwah inilah aktivitas utama para nabi dan rasul Allah. Karena itu, sudah sewajarnya kita giat berdakwah selain giat memperbanyak amal-amal shalih lainnya, baik yang wajib (misal: mencari nafkah yang halal, taat kepada suami, menuntut ilmu, berbakti kepada orangtua, mendidik anak, dll) ataupun yang sunnah (misal: shaum senin-kamis, shalat tahajud, bersedekah, menolong orang yang membutuhkan, dll).

Keempat: Kita tidak dilalaikan oleh kesibukkan mengejar dunia (harta), kecuali sekadar untuk bekal bagi kehidupan akhirat. Hal ini sesungguhnya tidak berkaitan dengan kaya atau miskinnya seseorang. Sebab, bukan hanya kekayaan, kemiskinan pun bisa menjadikan seseorang terlalaikan dari mempersiapkan bekal untuk akhirat. Banyak orang yang diperbudak oleh kekayaannya. Namun, tak sedikit pula yang diperbudak oleh kemiskinannya. Tidak jarang, baik yang kaya ataupun yang miskin, yang tersibukkan oleh kekayaan atau kemiskinannya sehingga melupakan ibadahnya kepada Allah SWT. Bagi seorang pengemban dakwah, salah satu bukti bahwa dia tidak tersibukkan oleh dunia, pembicaraan utamanya bukanlah urusan harta. Pembicaraan utamanya tetaplah dakwah. Bagi dia, pembicaraan tentang bagaimana menyebarkan opini Islam, melakukan kontak-kontak dakwah, atau memperbanyak kader-kader dakwah adalah lebih menarik daripada membicarakan bagaimana mencari tambahan. penghasilan pribadi atau meningkatkan kekayaan perusahaan. Pembicaraan utamanya tentang harta hanyalah dari sisi seberapa besar harta yang dia miliki itu — baik dia kaya ataupun tidak — yang diinfakkan untuk kepentingan dakwah.

Kelima: Kita selalu berusaha untuk mengamalkan kebenaran yang sudah kita pahami. jlka kita sudah paham bahwa menegakkan syariah dan Khilafah adalah kewajiban yang harus diperjuangkan, maka tak ada alasan bagi kita untuk berleha-leha dalam mengamalkan kewajiban ini. Artinya, perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah akan tetap kita lakukan secara istiqamah hingga akhir hayat, selama syariah dan Khilafah itu belum tegak.

 Keenam: Kita selalu berusaha menjauhi hal-hal yang diharamkan; senantiasa berusaha meninggalkan berbagai macam kemaksiatan. Sering bolos halaqah tanpa uzur syar'i adalah maksiat. Melalaikan amanah/taklif dakwah adalah maksiat. Malas menuntut ilmu yang dibutuhkan untuk berdakwah adalah maksiat. Demikian pula melalaikan kewajiban mencari nafkah (bagi suami), melalaikan kewajiban mengurus anak dan rumah tangga (bagi istri), melihat aurat, berkhalwat dan berikhtilat, berbohong, bersikap sombong dan merendahkan orang lain, dll. Semua itu tidak selayaknya dilakukan oleh seorang pengemban dakwah. Semoga kita bisa mewujudkan keenam perkara di atas, baik dalam kapasitas kita sebagai seorang Muslim maupun sebagai pengemban dakwah. Semoga dengan itu, kita bisa membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka. Bukankah apapun yang kita lakukan dalam hidup di dunia yang fana ini adalah semata-mata agar kita masuk surga dan agar terhindar ' dari azab neraka?! Wa maa tawfiiqii ilaa billaah wa 'alayhi tawakkaltu wa ilayhi uniib. (Arief B. Iskandar)

Al-qur'an Mencela Manusia

Al-Qur'an Mencela Manusia

QS. Al-Hasyr (59): 21

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون

Artinya: Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. 

Syekh Wahbah Zuhaili menafsirkan ayat ini sebagaimana termaktub dalam Kitab Tafsir Al-Wasith, sebagai berikut:

“Al-Qur`an memiliki keagungan yang paripurna dan nasihat-nasihat yang berpengaruh. Seandainya Kami turunkan Al-Qur`an ini pada sebuah gunung, betapapun kokohnya gunung tersebut dan berada pada puncak kekhusyu’an, ketundukan dan kepatuhan terhadap perintah Allah Subhanahu Wata’aala, tentu kamu akan melihat gunung tersebut hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah dan khawatir terhadap azabnya. Perumpamaan ini kami sampaikan kepada umat manusia seluruhnya, agar mereka memikirkan apa yang wajib mereka pikirkan, agar mereka belajar dari nasihat-nasihat. Ini merupakan nasihat yang sangat menyentuh bagi manusia, sekaligus celaan terhadap prilakunya yang lalai dan berpaling dari seruan Allah Subhanahu Wata’aala, betapa pun telah ada (dijelaskan) sifat-siafat Allah yang mengharuskan makhluk-makhlukNya mewujudkan perasaan takut tersebut.”

Al-Imam Al-Baidhawiy, sebagaimana dikutip oleh Ali Ash-Shabuniy dalam Kitab Shafwatu-At-Tafaasir menafsirkan ayat ini sebagai berikut; “Seandainya Kami (Allah) menciptakan akal dan perasaan pada gunung sebagaimana yang telah Kami ciptakan pada diri manusia, kemudian Kami turunkan Al-Qur`an di atasnya, dengan konsekuensi pahala dan siksa, sungguh ia akan tunduk, patuh dan hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah. Ayat ini merupakan gambaran betapa besarnya kehebatan dan pengaruh Al-Qur`an. Seandainya gunung yang kuat dan kokoh diseru dengan Al-Qur`an, sungguh kamu akan menyaksikan tunduk dan takut kepada Allah SWT. Maksud ayat ini adalah, celaan terhadap manusia disebabkan tidak tunduk ketika dibacakan Al-Qur`an kepadanya. Bahkan, mereka menolak keajaiban-keajaiban dan keagungan-keagungan Al-Qur`an….”

Dalam kitab Bahrul Muhith disebutkan bahwa maksud ayat ini adalah celaan kepada manusia yang telah keras hatinya, dan tidak terpengaruh hatinya dengan Al-Qur`an, yang sedandainya diturunkan di atas sebuah gunung niscara gunung itu akan tunduk dan terpecah belah karena takut kepada Allah.

Jika gunung yang tegak dan kokoh saja tunduk dan patuh kepada Al-Qur`an tentu manusia harus lebih tunduk kepada Al-Qur`an. Tapi, kebanyakan  manusia tidak terpengaruh dan tidak tunduk di hadapan Al-Qur`an.

Lantas, apakah kita sudah tunduk dan patuh kepada Al-Qur`an? Apakah saat Al-Qur`an dibacakan, kita sudah menundukkan diri, merenungi isinya, kemudian berusaha menagamalkannya? Apakah justru kita acuh, mengingkari, bahkan berusaha mengganti hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur`an? Allah berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’raaf (7): 204

Nikmati Dunia, Tetapi Akhirat Tujuan Utama

Kalo diresapi dalam-dalam memang faktanya saat ini sudah hadir di tengah-tengah kita. Nggak bisa dipungkiri bahwa banyak di antara manusia, termasuk kaum muslimin yang cinta dunia, lupa akhirat. Kalo orang kafir sih rasa-rasanya wajar karena mereka tidak beriman kepada Allah Swt., tetapi bagaimana dengan kaum muslimin yang beriman kepada Allah? Ini yang justru aneh kalo hadir juga dalam perilaku kaum muslimin. Nggak banget deh! Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS asy-Syura [42]: 20)

Berkaitan dengan kecintaan kepada dunia ini, memang banyak banget faktanya. Perhiasan dunia itu sering menipu, gemerlapnya bisa bikin kita terlena. Itu sebabnya, banyak manusia menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Boleh sih, memiliki perhiasan dunia, tetapi seperlunya saja dan jangan melupakan akhirat.

Sobat  muda, sebagai muslim bukan berarti kita membenci dunia sepenuhnya, Nggak juga kok. Akhirat memang yang utama, tetapi dunia juga boleh kita nikmati. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS al-Qashash [28]: 77)

Ayat ini jelas memberikan kebolehan bagi kita untuk menikmati dunia, tetapi tentunya tidak dijadikan sebagai yang utama dan tujuan akhir. Sebab, akhirat tetap tujuan akhir kita, Bro. Maka, nggak usahlah kita merasa terhina kalo gagal dapetin juara kelas. Nggak usah merasa langit runtuh kalo kita nggak bisa kuliah di perguruan tinggi incaran. Tak perlu merasa sedih kalo kita gagal lulus ujian. Biasa aja lagi. Sebaliknya, jangan pula iri dengan prestasi dan kebanggaan semu yang diraih orang-orang yang lalai atau malah orang kafir. Bila perlu malah harusnya kita nasihati mereka agar sadar. Kita memang senang dan boleh memburu perhiasan duniawi, tetapi itu sekadarnya saja.

Kita nggak bisa menjadikan perhiasan dunia sebagai ukuran keberhasilan abadi. Sebab, percuma aja banyaknya hasil ‘buruan’ perhiasan dunia yang kita miliki, jika pada akhirnya hal itu melalaikan kita dari beriman dan beribadah kepada Allah Swt. Rasulullah saw. saja, amat sederhana dan tidak bermegah-megahan dengan harta. Dari Anas bin Malik berkata, “Saya masuk kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang berada di tempat tidur yang dipintal dan ditenun, dan di bawah kepalanya ada bantal yang isinya serabut pohon kurma. Antara kulitnya (Nabi) dan ranjang terdapat kain, lalu Umar masuk dan menangis, Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, ‘Apa yang membuat engkau menangis wahai Umar?’ la menjawab, ‘Demi Allah wahai Rasulullah!, tidaklah Saya menangis melainkan karena Saya tahu bahwa engkau adalah hamba yang paling mulia di sisi Allah dibandingkan Kisra dan Kaisar. Mereka berdua hidup bergelimang dengan gemerlapnya dunia, sedangkan engkau wahai Rasulullah di tempat seperti yang Saya lihat.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apakah engkau tidak rela wahai Umar!, bagi mereka kehidupan dunia sedangkan bagi kita adalah di akhirat?’ Saya menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah’ Nabi berkata, ‘Memang seharusnya demikian.’” (derajat hadist Hasan shahih, di dalam kitab Takhrijut-Targhiib (4/114). Muttafaqun ‘alaihi- Umar, tercantum dalam Shahih al-Adab al-Mufrad)

Oke deh sobat, kita fokus pada tujuan kita untuk akhirat. Nggak usah pusing atau merasa iri jika prestasi duniawi tak kita dapatkan. Nikmati dunia seperlunya, tetap tambatkan hati kita untuk akhirat. Maka, dalam hal apapun (pendidikan, jabatan, harta, prestasi dan sejenisnya), orientasi kita tetap akhirat. Itu artinya, semuanya harus disesuaikan dengan syariat Islam. Kalo nggak sesuai, ya ngapain diburu dan diperjuangkan perhiasan dunia tersebut. Iya nggak sih? So, banggalah jadi muslim, nikmati dunia sesuai kebutuhan saja, jadikan akhirat tujuan akhir. Beriman, berilmu, beramal shalih. Kita wujudkan itu yuk!

Salam,

O. Solihin

http://osolihin.net/nikmati-dunia-tetapi-akhirat-tujuan-utama

Mengapa Golput ?diharamkan??

Mengapa Golput ‘Diharamkan’?

Ini masalah yang sensitif bagi sebagian orang. Pro-kontra pasti selalu ada. Padahal, fenomena ini merupakan hal biasa. Mengapa biasa? Karena sebenarnya golput (golongan putih) adalah pilihan juga, cuma labelnya ‘memilih untuk tidak memilih’. Istilah golput di Indonesia disematkan kepada warga masyarakat yang tak ikut andil dalam proses atau mekanisme yang diatur sistem demokrasi dalam pemilu, yakni mengumpulkan suara sebagai bentuk nyata sebuah dukungan terhadap orang yang dipilih untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Mereka yang memilih untuk golput berarti tak menggunakan hak pilihnya. Ingat, hak. Bukan kewajiban.

Saya berharap Anda tak langsung curiga atau mencibir mereka yang memilih golput atau tak langsung naik darah dengan tulisan saya yang judulnya bernada mempertanyakan. Sebab., bagaimana pun juga hal ini adalah sebuah realita yang tak bisa begitu saja dipandang enteng atau juga dianggap masalah berat. Mungkin saja bagi yang berkepentingan dengan pengumpulan jumlah suara agar pemilu berjalan normal, maka golput adalah ancaman serius. Walau sebenarnya bisa jadi mereka gagal bukan karena andil yang golput, tetapi memang masyarakat tak memberikan suara untuknya.

Berdasarkan informasi di lapangan (silakan cari sendiri data pastinya), kabar angka golput di beberapa pilkada selalu di atas 20 persen. Ini lumayan tinggi. Jika di suatu daerah jumlah pemilihnya ada 1 juta orang, maka angka 20 persen adalah 200 ribu orang. Itu artinya yang tak ikut menggunakan hak pilihnya sebanyak itu. Jumlah yang membuat ketar-ketir para caleg atau capres-cawapres dalam pemilu legislatif dan pilpres.

Lalu, apa dasarnya bagi sebagian kalangan berusaha mendesak agar golput dilarang, bahkan ada yang lebih jauh melangkah, yakni diharamkan? Cerita dari seorang kawan, malah ada orang yang asal-asalan berkomentar: “mereka yang golput tanda lemahnya iman”. Sungguh terlalu. Seolah-olah hak tak ada bedanya dengan kewajiban, atau hak sudah berubah jadi wajib. Ini kan aneh.

“Lha, bagaimana jika nanti yang menjadi caleg atau presiden dari kalangan nonmuslim atau dari mereka yang beraliran sesat?” pernyataan ini bernada kekhawatiran dan tekanan kepada mereka yang golput. Padahal, bisa dibantah juga, “Lha bagaimana dengan kaum muslimin yang tak memilih partai berlabel Islam, justru malah memilih partai nasionalis dan sekular. Bukankah mereka yang layak dicap tak bertanggung jawab? Mengapa yang disalahkan justru mereka yang golput?”

Pernyataan ini pun bisa jadi akan ada yang membalas lagi dari mereka yang mempermasalahkan golput, “Kan suara Anda bisa untuk partai Islam. Tetapi gara-gara golput akhirnya peluang kami berkurang dalam mendulang suara”. Eh, apakah benar suara itu (jika pun yang golput ‘bersuara’) akan diberikan ke partai berlabel Islam? Rasa-rasanya belum tentu. Bisa jadi malah yang golput itu jutsru tak mau ‘bersuara’ untuk partai mana pun karena dianggap tak sesuai harapannya.

Sudahlah, saya tak mau berpolemik soal golput atau tidak golput. Itu hak masing-masing. Lagi pula,  katanya sistem negara ini bukan Islam, tapi demokrasi, namun mengapa harus bersusah payah minta fatwa kepada Islam agar golput diharamkan? Tidak nyambung. Apakah karena hal itu dimaksudkan agar kaum muslimin memilih partai berlabel Islam ketimbang golput? Mungkin saja. Tetapi apa iya masyarakat bisa dengan mudah dikibuli?

Memang menjadi golput ada yang mengatakan bukan solusi atas permasalahan umat ini, tetapi apa iya jika menggunakan hak pilihnya berarti sudah memberikan solusi yang benar dan baik? Belum tentu dan tak ada yang bisa menjamin.

Jadi, Anda pilih mana? Golput atau akan menggunakan hak pilihnya? Keputusan ada di tangan Anda. Sebab, semuanya akan dimintai pertanggungan jawab di hadapan Allah Ta’ala. Bagaimana dengan saya sendiri? Ah,  itu sih rahasia. Anda tidak perlu tahu karena kadang tahu pun tak akan memberikan konsekuensi apa-apa bagi Anda. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk sesuai keinginan kita, yang bisa dilakukan adalah menyampaikan argumentasi ketika berpendapat. Bukan lagi urusan apakah akan diterima atau ditolak. Lagi pula, seingat saya di jaman orba (orde baru) dahulu, asas Pemilu adalah LUBER alias Langsung Umum Bebas dan Rahasia. Masih ingat?

Salam,
O. Solihin | Twitter @osolihin