tidak ada gambar

Jomblo's Diary

  • Penulis :
  • Last Update : 2016-04-26 19:29:00
  • Category : Resensi Buku,
  • Tags : No Tags

Resensi Buku: Jomblo’s Diary

Anggapan bahwa punya pacar/gebetan itu gaul dan keren sedangkan jomblo itu kuper dan tidak laku-laku, sudah menjadi tren dalam pergaulan remaja masa kini. Khususnya dari sudut pandang laki-laki, seolah bukti kejantanan yang dimiliki dan ketenarannya dalam pergaulan, hanya diukur dari mudahnya mendapatkan pacar (perempuan yang disukainya). Bagi yang masih sendiri/jomblo, seolah bagai mendapat kutukan di hidupnya dan ‘terasingkan’ dari pergaulan tersebut. Seolah ketika predikat jomblo ada dalam diri, timbul rasa malu, cemooh dan hasud untuk memiliki pacar pun disuarakan dari mereka yang sudah punya pacar. Akhirnya, yang masih jomblo berusaha ikut-ikutan mencari pacar karena tidak mau dicap kuper dan tidak laku.

Hal inilah yang ingin diluruskan oleh O. Solihin dalam buku Jomblo’s Diary. Kang Oleh, begitu biasanya Penulis ini disapa, menuliskan kisah perjalanan hidup remaja laki-laki yang duduk di bangku SMA sebagai jomblo. Yang membuat buku ini sangat menarik adalah gaya penceritaan yang disajikan Kang Oleh dibuat dalam bentuk penulisan buku diary. Ya, tokoh Gue atau aku dalam buku ini mengisahkan cerita pilunya berkali-kali gagal mendapatkan pacar, rasanya menjadi jomblo hingga keinsyafannya mengikuti ajaran Islam.

            Menjalani hari sebagai jomblo bagi tokoh Gue di buku ini rasanya bagai siksaan setiap saat. Sebab, dia berteman dengan geng yang notabene-nya punya pacar, bahkan dengan predikat playboy. Setiap kumpul bersama teman-temannya itu, dia sering kena cemooh dan olok-olok karena masih jomblo. Jomblo itu tidak keren menurut mereka. Jomblo itu diragukan kejantanannya, terutama bagi laki-laki. Semua itu membuat tokoh Gue merasa kesal, hatinya semakin panas apalagi saat melihat temannya menggandeng pacar. Ia jadi terpacu untuk segera mendapatkan gebetan meskipun sebenarnya dia ingin bebas, ingin fokus sekolah dan belajar.

            Usahanya untuk mendapatkan pacar, juga didukung desakan teman se-geng-nya itu. Bukannya dapat pacar, tokoh Gue ini malah sering gagal ketika sedang pendekatan alias PDKT. Bukan hanya sekali, tapi bisa dibilang beberapa kali. Banyak faktornya, di mulai dari penilaian beberapa cewek bahwa dia itu ndeso, tulalit, dan kaku, batalnya kencan karena ban motor bocor, kekonyolannya mendekati cewek cantik yang ternyata istri orang, sampai gagal pacaran sama cewek berkerudung. Ujung-ujungnya, dia malah tetap nge-jomblo dan dapat ejekan dari teman-temannya.

            Ketika tokoh Gue ini benar-benar sudah merasa tidak nyaman jadi jomblo yang selalu diperolok dan selalu gagal mencari cewek, di sini Kang Oleh membuat kisahnya berbalik dari sebelumnya. Tokoh Gue ini perlahan mulai menarik diri dari pergaulan bersama geng-nya. Dia dapat pelajaran hidup yang jauh berbeda dari yang didapat sebelumnya. Berteman dekat dengan seorang mahasiswa yang juga tetangganya, membuat tokoh Gue ini mendapat pencerahan baru soal status jomblo yang dimilikinya.

            Mahasiswa ini berprestasi di kampusnya, juga aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Banyak hal yang dia tanya pada mahasiswa itu seputar status jomblo. Jawaban dari mahasiswa itu justru berlawanan dari apa yang ada dipikirannya selama ini. Ternyata, menjomblo itu bukan aib, bukan kriminal, malah bisa jadi berkah. Kenapa harus resah, malu, apalagi mengutuk status itu? Dalam Islam, Allah melihat hamba-Nya bukan dari status jomblo atau sudah punya pacar. Yang Allah lihat itu ketaatan kita sebagai hamba dalam mengikuti ajaran dan menjauhi larangan-Nya. Pacaran dalam Islam itu haram hukumnya karena mendekati zina. Dengan menjomblo, seseorang bisa terhindar dari perzinaan sekaligus mendapat ruang untuk memperbaiki diri. Jadi, menyandang predikat jomblo bisa membawa berkah.

            Panjang lebar penjelasan dari sisi agama didapatnya dari mahasiswa itu. Pemikiran tokoh Gue ini mulai terbuka. Ternyata dunia itu luas, tidak sempit seperti pemikiran teman-teman se-geng-nya tentang status jomblo. Terlebih lagi, dia juga berteman dengan Mas Bagas yang juga mahasiswa di kampus itu, mulai sering ikut pengajian di masjid kampus, dan banyak sharing di beberapa grup sosial media yang di antaranya juga banyak laki-laki yang menjomblo. Saat keyakinan sudah kuat untuk lebih percaya diri pada status jomblo, ia juga menemui beberapa ujian.  Dia kembali dihasud dan diejek teman se-geng-nya dulu sampai dikira suka sesama jenis sama teman-teman di sekolahnya.

Memasuki tahap ‘keinsyafan’ tokoh Gue ini, Kang Oleh mengganti istilahnya dengan tokoh Ane. Tokoh Ane ini berusaha untuk istiqomah walau kadang suka galau dan kurang semangat lagi. Namun, ia yakin untuk terus berada di jalan Allah.  Bertemu dengan teman mahasiswa, Mas Bagas, dan kawan-kawan barunya di grup sosial media merupakan anugerah dari Allah. Mereka pengantar hidayah untuk tokoh Ane ini. Dengan bangga, kini ia menjalani masa kesendirian dengan enjoy dihiasi dengan prestasi agama maupun duniawi. Meskipun begitu, dia bukannya tidak mau membuka hati, tapi menahan diri saat ini lebih tepat hingga tiba saatnya pernikahan, bukan pacaran. Biar jomblo, asal selamat!

Di buku ini, Kang Oleh memberikan pelajaran pada pembaca bahwa pergaulan membawa pengaruh yang besar bagi prinsip dan tingkah kita. Pintar-pintarlah dalam berteman, agar kita terbawa pada arus pergaulan yang mengantarkan pada ketaatan, bukan kesesatan. Dengan piawai, Kang Oleh meracik kata dalam penuturannya dengan bahasa yang ringan dan gaul khas gaya remaja. Namun, maknanya sangat dalam dan hikmah dari kisahnya mudah tersampaikan pada pembaca. Intinya, buku Jomblo’s Diary ini sangat recomended untuk para remaja. Terutama, sangat cocok bagi para jomblo agar lebih menikmati kesendiriannya di jalan Allah, agar jadi jomblo berkualitas sampai halal!