Di Tepi Sungai Dajlah

Buya Hamka  

Promo

15% OFF Rp 73,000

Rp 62,050

Qty   

Ketika itu kira-kira jam 10 pagi Ahad 20 Oktober 1950 M dan langit lazuardi yang berwarna belau (biru pekat) tidak sedikit pun dilindungi awan saya berdiri di tepi Sungai Dajlah yang mengalir tenang dan diam keruh serta penuh rahasia. Saya bermenung melihat airnya mengalir membiarkan khayal saya menjalar dan melayang dalam lembar-lembar sejarah masa lalu serta mengingat hubungan perjuangan Islam dan kemerdekaan tanah air saya dengan sejarah yang terjadi di tepian dua sungai yang telah banyak melukiskan sejarah yaitu Sungai Dajlah dan Sungai Furat…. Di tengah jalan saya meminta mutawif itu mendekat dan saya berkata “Kami ini bangsa Indonesia dan madzhab kami adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) madzhab Syafi`i. Namun kami tidak membenci zuriah Nabi saw. (keturunan Nabi saw.). Kami berziarah kemari dari tempat yangjauh karena kami pun cinta kepada Husain r.a…. Bilamana datang tanggal 10 Muharram orang-orang Syi`ah ramai sekali yang datang ke Baghdad Karbala dan Najaf. Pada waktu itulah upacara rapat yang amat mengerikan berlangsung. Badannya dipukuli baju dirobek dan ratap bertalu-talu. Jika ada yang mati pada waktu itu mereka mengganggap itu sebagai kematian yang semulia-mulianya mati dalam mencintai zuriah Nabi Muhammad saw….